Tampilkan postingan dengan label ASKEB IV (PATOLOGI). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASKEB IV (PATOLOGI). Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Mei 2011

MATERI ASKEB IBU DENGAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI

Definisi

Ketidakmampuan seorang wanita untuk memanfaatkan alat reproduksi dan mengatur kesuburannya (fertilitas) tidak dapat menjalani kehamilan dan persalinan secara aman serta tidak mendapatkan bayi tanpa resiko apapun atau well health mother dan well born baby dan selanjutnya tidak dapat mengembalikan kesehatan dalam batas normal

Tujuan

• menurunkan angka m,ortalitas dan morbiditas khususnya pada wanita

• memberikan KIE dan motifasi gejala dini tentang gangguan sistem reproduksi wanita

• KIE untuk menghindari keganasan penyakit sistem reproduksi dan memperkecil faktor predisposisi - Meningkatkan pendidikan masyarakat tentang kesehatan Gangguan sistem reproduksi pada ibu :

1. MASTITIS

Peradangan payudara adalah hal yang sangat biasa pada wanita yang pernah hamil, malahan dalam praktek sehari-hari yang tidak hamil pun kadang-kadang kita temukan mastitis.

a. Jenis Mastitis di bagi menjadi :

1) Mastitis gravidarum

2) Mastitis kuerperalis penyakit ini boleh dikatakan hampir selalu timbul pada waktu hamil atau laktasi.

b. Etiologi

Pada umumnya yang dianggap porte d’entrée dari kuman penyebab adalah putting susu yang luka atau lecet dan kuman perkontinuitatum menjalar ke duktus-duktus dan sinus. sebagian besar yang ditemukan pada pembiakan pus ialah stavilokokus aureus.

Penyebab Mastitis diantaranya :

• Payudara bengkak yang tidak disusu secara adekuat, akhirnya terjadi mastitis

• Putting lecet akan memudahkan masuknya kuman dan terjadi payudara bengkak - BH yang terlalu ketat, mengakibatkan segmental engorgement. Kalau tidak disusu dengan adekuat bisa terjadi mastitis

• Ibu yang diet jelek, kurang istirahat, anemi akan mudah terkena infeksi

c. Patofisiologi

Tingkat penyakit ini ada dua yakni tingkat awal peradangan dan tingkat abses. Pada peradangan dalam taraf permulaan penderita hanya merasa nyeri setempat, taraf ini cukup memberi support mamae itu dengan kain tiga segi, supaya tidak menggantung yang memberikan rasa nyeri, dan disamping itu memberi antibiotika.

Dalam hal antibiotika dapat dikemukakan bahwa kuman dari abses yang dibiakkan dan diperiksa resisitensinya terhadap antibiotika, ternyata banyak yang resisitensi terhadap penisilin dan stertomisin.

Dari tingkat radang ke abses berlangsung sangat cepat karena oleh radang duktulus-duktulus menjadi edemetus, air susu terbendung dan air susu yang terbendung itu bercampur dengan nanah. Gejala abses ini ialah nyeri bertambah hebat dipayudara, kulit diatas abses mengkilap dan suhu tinggi (39-40°c).

D. GAMBARAN KLINIS

Pada mastitis akan ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :

• Bengkak, nyeri seluruh payudara atau nyeri lokal

• Kemerahan pada seluruh payudara atau hanya lokal

• Payudara keras dan berbenjol-benjol (merongkol) - Panas badan dan rasa sakit umum

2. FIBRIODENOMA

Adalah penyakit wanita muda dengan frekuensi yang paling tinggi pada wanita yang berumur 20-25 tahun. Benjolan-benjolan tersebut sama sekali bukan berarti suatu penyakit karena kadang-kadang akibat pertumbuhan berlebih pada lobulus payudara. Tercatat 6 dari 10 benjolan ditemukan pada wanita dibawah 20 tahun dan relatif tidak berkembang menjadi benjolan lainnya dikemudian hari.

Menurut wilson dalam buku Cristoper-Davis, ada hubungan dengan kadar hormon wanita dalam darah dan penyakit ini, karena dapat timbul pada binatang percobaan dengan pemberian estrogen.Tumor ini dapat timbul soliter atau multiple, gampang digerakkan, berbentuk licin, sama sekali bebas dari jaringan payudara disekitarnya dan tidak berubah-rubah besarnya dengan siklus haid. Putting susu tidak memperlihatkan ada perubahan dan sama sekali tidak nyeri spontan atau nyeri tekan.

3. KISTA SARKOMA FILLODES

a. jenis Penyakit ini adalah fibriodenoma yang tumbuh meliputi seluruh mamae. Adakalanya demikina besar,nyaris tidak tergendong oleh penderita.

b. Etiologi Nama kistosarkoma fillodes berasal dari muller (1938)karena mengandung kista-kista besar diantaranya banyak sekali jaringan ikat sehingga waktu itu diduga sarkoma. Tumor ini biasanya jinak, tetapi beberapa dinataranya mempunyai potensi untuk menjadi fibrosarkoma.

Tumor ini timbul biasanya pada umur 35-40 tahun. Kulit diatas tumor mengkilat, regang, tipis, merah, dengan pembuluh-pembuluh balik yang melebar dan panas. Pembesaran kelenjar regional atau metastasis jarang ditemukan. Hal inilah yang menjadi petunjuk untuk memmbedakan tumor ini dari kanker karena jarang sekali kita menemukan kanker payudara dengan ukuran diameter 10-12 cm ayng tidak bermetastasis dan menginfiltrasi kulit atau toraks.

Oleh karena tumor ini cepat tumbuhnya, kadang-kadang perdarahannya tidak mencukupi dan sering timbul nekrosis dan radang pada kulit. Tumor ini kadang-kadang-walaupun menurut pemeriksaan patologi jinak-memberikan residif.

Maka tindakan sebagai terapi, sesuai dengan sifatnya yang mempunyai potensi untuk ganas,juga lebih radikal dari fibroadenoma. Kita bisa mengerjakan masektomi ditambah dengan pengangkatan vasia pektoralis. Pasca bedah diberi radiasi.

4. SARKOMA

5. KANKER PAYUDARA

a. Jenis Klasifikasi kanker payudara terdiri dari 2 macam yaitu klasifikasi patologik dan klinik.

1) Klasifikasi patologik terdiri dari:

- Kanker puting payudara atau pagets disease Pagets disease adalah bentuk kanker dalam taraf permulaan manifestasinya sebagai eksema menahun putting susu yang biasanya merah dan menebal. Suatu tumor sub areoler bisa teraba. Sedang pada umumnya kanker payudara yang berinfiltrasi ke kulit mempunyai prognosis yang buruk, lain halnya dengan pagets disease ini prognosisnya lebih baik. Sebenarnya penyakit ini adalah suatu kanker intra duktal yang tumbuh di bagian terminal dari duktus laktiferus secara patologik ciri-cirinya ialah: sel-sel pagets (seperti pasir) hypertrofi sel epidermoid, infiltrsi sel-sel bundar dibawah epidermis. - Kanker duktus laktiferus:papillary, comedo, adenocarsinoma dengan banyak fibrosis (scirrhus), medullary carsinoma dengan infiltrasi kelenjar, semuanya infiltrating.

Non infiltrating papillari karsinoma bisa terbentuk dalam setiap dukutus laktiferus dari yang terbesar sampai yang sekecil-kecilnya. Kadang-kadang sulit sekali dibedakandari papilloma. Comedo karsinoma terdiri dari sel-sel kanker non papillary dan intra ductal, sering dengn nekrosis sentral, sehingga pada permukaan potongan terlihat seperti isi kelenjar. Jarang sekali comedo karsinoma pada saluran saja, biasanya mengadakan infiltrasi ke sekitarnya, menjadi infiltrating comedo carsinoma.

Adenokarsinoma dengan infiltrasi dan fibrosis. Ini adalah kanker payudara yang lazim ditemukan. 75 % dari kanker payudara adalah tipe ini oleh karena banyak fibrosis, umumnya agak besar dan keras. Juga disebut kanker tipe scirrbus : tumor mengadakan infiltrasi kekulit dan kedasar. - Kanker dari lobulus: infiltrating dan non-infiltrating Ini yang timbul sering sebagai carcinoma insitu dengan lobulus yang membesar. Secara miskroskopis kelihatan lobulus atau kumpulan lobulus dengan berisi kelompok sel-sel asinus dengan beberapa mitosis. Kalau mengadakan infiltrasi, hampir tidak bisa dibedakan dari tipe scirrhus. Sepatah kata tentang karsinomatosa, suatu penyakit yang sangat ganas dan sangat cepat jalannya.

Penyakit ini dapat timbul pada waktu menyusui, akan tetapi juga diluar waktu tersebut. Dapat kita ketahui bahwa oprasi dapat mengakibatkan penyebaran yang sangat cepat dan kematian. Pendapat umum ialah mastitis karsinomatosa dibiopsi dan diradiasi saja dengan atau tanpa hormon.

2) Klasifikasi klinik kanker payudara

disamping klasifikasi patologis, juga mempunyai klasifikasi klinik. Sebelum 1968, diklinik bedah sering dipakai klasifikasi steinthal. Steinthal

1 : kanker payudara sampai 2cm besarnya dan tidak mempunyai anak sebar. Steinthal

2 : kanker payudara 2cm atau lebih dengan mempunyai anak sebar dikelenjar ketiak. Steinthal

3 : kanker payudara 2cm atau lebih dengan anak sebar, dikelenjar ketiak, infra dan supra klafikula; atau infiltrasi vasia pektoralis atau kekulit; atau kanker yang apert (memecah kekulit). Steinthal

4 : kanker payudara dengan metastasis jauh, misalnya ketengkorak, atau tulang punggun, atau paru-paru, atau hati dan panggul.

b. Etiologi Etiologi kanker payudara belum dapat di jelaskan.

Terdapat faktor genetik karena kanker payudara cenderung terjadi pada keluarga. Melahirkan sebelum usia 30 tahun tampaknya bersifat protektif. Tumor jinak pada vagina

a. Tumor Kistik Tumor di vagina pada umumnya mempunyai sifat yang sama dengan yang didapatkan pada vulva. Tumor vulva dan vagina hendaknya dibedakan dari vaginitis emfisematosa. Dapat juga kista saluran muller terjadi di dekat serviks biasanya soliter akan tetapi dapat multipel. Kista ini dilapisi epitel seperti endoserviks, berisi cairan musin.

b. Tumor Solid Pada umumnya juga mempunyai sifat yang sama pada uretra dan yang terdapat pada vulva, kecuali granuloma, tumor muksoid serta adenosis vagina.

Granuloma: bukan neoplasma yang sebenarnya. Jaringan merupakan granulasi yang berbatas-batas, seringkali berbentuk polip terutama terjadi pada bekas operasi kolporasi dan histerektomi total dan dapat bertahan sampai berthun-tahun. Tumor muksoid vagina: konsistensi lunak seperti kista berisi jaringan seperti miksomatosa, jarigan pengikat dan jaringan lemak seperti yang biasa terdapat pada daerah glutea, fossa iskheorektalus, serta apabila terdpat di vagina berada pada daerah parakolpos.

Kadang-kadang kambuh kembali dan dapat juga menjadi ganas. Adenosis vagina: berasal dari sisa saluran paranesonefridikus muller berupa tumor jinak vagina, terutama dekat serviks uteri terdiri dari epitel torak, yang mengeluarkan mukus. Adeosis vagina ini dapat disebabkan karena pemberian dietil still bestrol atau hormon sistesis lain diberikan pada ibu penderita pada waku hamil muda ( syndrom Dees ).

Diagnosis ditegakan dengan kolkoskopi yang terlihat sebagai ulserasi kemudian dilanjutkan dengan biopsi dan pemeriksaan histopatologi. Tumor jinak pada vulva Tumor jinak di daerah vulva yang banyak dijumpai adalah kista kelenjar bartolini d an fibroma vulva.

a. Kista kelenjar bartolini Kista kelenjar bartolini merupakan bentuk radang menahun Bartholini. Abses kelenjar bartholini diserap isinya, sehingga tinggal kantung yang mngandung cairan yang disebut kista bartholini. Pengobatan kista bartholini adalah dengan mengangkat seluruh kista dan marsivialisasi. Opersi ini memerlukan keahlian sehingga perlu dilakukan di rumah sakit.

b. Fibroma vulva Fibroma vulva merupakan tumor jinak yang berasal dari jaringan ikat vulva, bertangkai, dan berlokalisasi seringkali di bibir besar ( labium mayus). Diameternya dapt beberapa sentimeter, sampai mempunyai berat beberapa kilogram. Pengobatan fibroma vulva adalah dengan jalanmemotong tangkainya serta menjahit kembali sehingga tidak terjadi perdarahan. Tumor jinak pada uterus Mioma Uteri

Mioma uteri merupakan tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikatnya, sehingga dapat dalam bentuk padat karena jaringan ikatnya dominan dan lunak karena otot rahimnya dominan. Kejadian mioma utri sukar ditetapkan karena tidak semua mioma uteri memberikan keluhan dan memerlukan tindakan operasi. Sebagian penderita mioma uteri tidak memberikan keluhan apapun dan ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan.

Sebagian besar mioma uteri ditemukan pada masa reproduksi, karena adanya rangsangan estrogen. Dengan demikian mioma uteri tidak dijumpai sebelum datang haid (menarche) dan akan mengalami pengecilan setelah mati haid (menopause). Bila pada masa menopause tumor yang berasal dari mioma uteri masih tetap besar dan tambah besar,kemungkinan degenerasi ganas menjadi sarkoma uteri. Bila dijumpai pembesaran abdomen sabalum menarche, hal itu pasti bukan mioma utri tetapi kista ovarium dan kemuingkinan besar menjadi ganas.

Patologi pertumbuhan mioma uteri

Berdasarkan teori genitoblast (sel nest) Meyer dan de Snoo, dan rangsangan terus – menerus setiap bulan dari estrogen, maka perumbuhan mioma uteri terjadi : berlapis seperti berambang lokalisasi bervariasi :

a) subserosa - dibawah lapisan peritonium - dapat bertangkai dan melayang dalam kavum (ruangan) abdomen

b) intramural - didalam otot rahim dapat besar, padat (jaringan ikat dominan), lunak (jaringan otot rahim dominan

c) submukosa - di bawah lapisan dalam rahim - memperluas permukaan ruangan rahim - bertangkai dan dapat dikeluarkan melalui kanalis servikalis

d) servikal mioma - tumbuh di daerah servik uteri Gejala klinik mioma uteri Gejala klinik mioma uteri adalah : pendarahan tidak normal Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore, menoragia dan dapat juga terjadi metroragia.

Beberapa faktor yang mejadi penyebab perdarahan ini, antara lain adalah :

a. pengaruh ovarium sehingga terjadilah hiperplasia endometrium sampai adenokarsinoma endometrium.

b. permukaan endometrium yang lebih luas dari pada biasa.

c. Atrofi endometrium di atas mioma sub mukosa.

d. Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma di antara serabut miometrium, sehingga tidak dapat mejepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik. penekanan rahim yang membesar penekanan rahim karena pembesaran mioma uteri dapat terjadi :

e. terasa berat di abdomen bagian bawah

f. sukar miksi atau defekasi

g. terasa nyeri karena tertekannya urat saraf. gangguan pertumbuhan dan perkembangan kehamilan Kehamilan dengan disertai mioma uteri menimbulkan proses saling mempengaruhi :

h. kehamilan dapat mengalami keguguran

i. persalinan prematuritas

j. gangguan saat proses persalinan

k. tertutupnyan saluran indung telur menimbulkan infertilitas

l. kala tiga terjadi gangguan pelepasan plasenta dan perdarahan. Diagnosis Sering kali penderita sendiri mengeluh akan rasa berat dan adanya benjolan pada perut bagian bawah. Pemeriksaan bimanual akan mengungkapkan tumor padat uterus, yang umumnya terletak di garis tengah atau pun agak ke samping, sering kali teraba berbenjol-benjol.

Mioma suberosum dapat mempunyai tangkai yang berhubungan dengan uterus. Mioma intramural akan menyebabkan kavum uteri akan menyebabkan kavum uteri menjadi luas, yang ditegakkan dengan pemeriksaan dengan uterus sonde. Mioma submukosum kadang kala dapat teraba dengan jari yang masuk ke dalam kanalis servikalis, dan tersanya benjolan pada permukaan kavum uteri.

Diagnosis banding yang perlu kita pikirkan tumor abdomen di bagian bawah atau panggul ialah mioma sub serosum dan kehamilan; mioma submukosum yang dilahirkan harus di bedakan dengan inversio uteri; mioma intramural harus di bedakan dengan suatu adenomiosis, khoriokarsinoma, karsinoma korposis uteri atau suatu sarkoma uteri.

USG abdominal dan trasvaginal dapat membantu dan dugaan klinis. Adenomiosis Uteri Endenomiosis adalah implantasi jaringan endometrium di luar kavum uteri.

Pembagian endometriosis:

1) Endomeriosis eksterns (endometriosis) adalah implantasi jaringan endometrium di luar kavum uteri

2) Endometriosis interna (adenomiosis) adalah implantasi jaringan endometrium dalam otot rahim Akibat implantasi endometrium yang masih aktif dalam otot rahim terjadi perubahan pada saat menstruasi atau aktivitasnya mengikuti perubahan hormonal.

Pada saat menstruasi, endometrium mengalami proses menstruasi tetapi darah tidak mempunyai saluran untuk keluar sehingga terjadi timbunan darah. Timbunan darah ini saat menstruasi menimbulkan rasa sakit. Mekanisme terjadi endometriosis inteerna atau adenomiosis karena jaringan otot terbuka saat kontraksi persalinan atau waktu kuretase sehingga terjadi invasi endometrium kedalam otot rahim.

Gejala klinis adenomiosis: Gejala klinik yang dijumpai pada adenomiosis adalah: Menoragia: perdarahan banyak saat menstruasi

Dismenorea sekunder: rasa sakit saat menstruasi Dispareunia:

rasa sakit saat hubungan seksual

Endometriosis

Endometriosis (endometriosis eksterna) merupakan implantasi jaringan endometrium di luar uterus yang di jumpai pada umur relatif muda. Lokalisasi sebaran endometrium dapat terjadi di: ovarium, dalam bentuk kista coklat peritonium, sekitar uterus menyebabkan infertilitas septum rektovaginalis umbilikus apendiks bekas luka: episiotomi, laparatomo (SC)

Terjadinya penyebaran endometrium ke berbagai tempat dapat di jelaskan dengan beberapa teori sebagai berikut:

Teori regurgitasi sampson

a. darah menstruasi mengalir ke dalam kavum abdomen

b. sel endometrium dapat tertanam tumbuh dan hidup

c. rangsangan hormonal berpengaruh sehingga terjadi proses mengikuti siklus menstruasi Teori metaplasia meyer

d. sel yang berasal dari selom tumbuh dan menerima rangsangan hormonal ekstroge dan progestero

e. sel mengalami metaplasi menjadi jaringan endometrium dan meliputi siklus menstruasi Penyebaran secara limfogen dari halban

f. sel endometrium masuk ke sirkulasi aliran limfa dan menyebar pada beberapa tempat

g. sel hidup dan mendapat rangsangan ektrogen dan progesteron dalam proses siklus menstruasi penyebaran mengikuti aliran darah penempelan kembakli sel endometrium

h. dapat menerangkan tumbuh kembangnya ssel endometrium pada bekas operasi SC atau sekitar uterus

i. bekas irisan operasi episiotomi Gejala klinis endometriosis

Gejala endometriosis terjadi kerena pengaruh hormonal estrogen dan progesteron sehingga terjadi siklus menstruasi. Rasa nyeri terjadi karena vaskularisasi yang meningkat dan deskuamasi struma dan sel jaringan endometrium.

Gejala klinis endometriosis dalam bentuk: dismenorea: nyeri abdomen sesuai dengan waktu menstruasi, terdapat rasa kemeng terutama pada saat menstruai dispareunia: nyeri saat hubungan seksual nyeri pada saat devekasi: pada endometriosis dimdimg rektosignoid perubahan menstruasi dalam bentuk polimenorea atau hipermenorea (menoragia) infertilitas: gangguan saluran tuba falopi sehingga tidak berfungsi sebagai saluran ovum spermatozoa dan tempat konsepsi dan gangguan mobilitas tuba saat melakukan penanganan ovum karena pelekatan.

Tumor jinak pada tuba Tumor tuba uteri dapat berupa neoplasma maupun non neuplasma. Tumor tuba utrina yang neoplastik jarang sekali ditemukan Endometriosis yang sebenarnya bukan neoplasma lebih sering didapat pada tuba, terkadang dikira ganas.

Tumor neoplasmik jinak dekat tuba: kista parovarium (adalah sisa dari epoophoron) terletak di antara tuba bagian distal dan ovarium dengan diameter biasamya tidak mencapai 4 cm. dinding kista ini tipis terdapat epitel kuboid atau datar yang di kelilingi oleh jaringan pengikat dan lemak.

Kista berisi cairan jernih. Tumor jinak pada ovarium Ovarium mempunyai kemungkinan untuk berkembang menjadi tumor jinak maupun tumor ganas.

Pembagian tumor ovarium secara praktis adalah sebagai berikut:

tumor jinak kistik

- kistoma ovarii simplek

- kistoma ovarii serosum

- kistoma ovarii musinosum

- listoma dermoid tumor jinak padat (solid)

- fibroma ovarii - tumor brener

- tumor sisa adrenal

Gambaran klinik tumor ovarium

Pertumbuhan tumor uvarium dapat memberikan gejala karena besarnya, terdapat perubahan hormonal atau penyulit yang terjadi. Tumor jinak ovarium yang dianeternya kecil sering di temukan secara kebetulan dan tidak memberikan gejala klinik yang berarti.

Gejala akibat tumor ovarium dapat dijabarkan sebagai berikut: g

ejala akibat pertumbuhan

- menimbulkan rasa berat di abdomen bagian bawah

- mengganggu miksi atau defekasi

- tekanan tumor dapat menimbulkan opstipasi atau oedem pada tungkai bawah gejala akibat perubahan hormonal ovarium merupakan sumber hormon utama wanita, sehingga bila terjadi tumor menimbulkan gangguan terhadap patrun menstruasi.

Tumor sel granulosa dapat menimbulkan hipermenorea, sedang tumor arhenablaskoma menimbulkan amenorea. gejala klinik akibat komplikasi yang terjadi pada tumor perdarahan intra tumor perdarahan, menimbulkan gejala klinik nyeri abdomen mendadak dan memerlukan tindakan yang cepat perputaran tangkai - tumor bertangkai sering terjadi perputaran tangkai secara perlahan sehingga tidak banyak menimbulkan rasa nyeri abdomen - perputaran tangkai mendadak menimbulkan nyeri abdomen mendadak dan segera memerlukan tindakan medis terjadi infeksi pada tumor Karena suatu hal terjadi infeksi kista ovarium sehingga menimbulkan gajala infeksi, yaitu badan panas, nyeri pada abdomen, mengganggu aktifitas sehari – hari. robekan dinding kista Pada torsi tangkai kista ada kemungkinan terjadi robekan sehingga isi kista tumpah ke dalam ruangan abdomen. degenerasi ganas kista ovarium Keganasan kista ovarium sering di jumpai: - kista pada usia sbelum menarce - kista pada usia di atas 45 tahun sindrom meigs Sindrom yang di temukan oleh meigs menyebutkan terdapat fibroma ovarii, asites, dan hidrotoraks. Dengan tindakan operasi fibroma ovarii, maka sindrom akan menghilang dengan sendirinya.

Diagnosa Pembesaran pada abdomen bagian bawah merupakan salah satu keluhan yang mendorong untuk melakukan pemeriksaan. Tumor ovarium dapat dibedakan saat melakukan pemeriksaan dalam. Menghadapi tumor jinak ovarium perlu dilakukan pemeriksaan tentang konsistensi, besar permukaannya dan sebagainya.

Disamping itu perlu dilakukan diagnosis banding :

kehamilan

• Terlambat bulan

• Gejala hamil muda

• Terasa gerakan janin atau balotemen

• Hasil pemeriksaan laboratorium mendukung kehamilan subserosa mioma uteri bertangkai Sering dibedakan dengan tumor padat ovarium.

Dengan alat ultrasonografi, diagnosis banding antara kista ovarium, kehamilan atau subserosa mioma uteri dapat dibedakan dengan jelas. Bila bidan dalam tugasnya dapat menegakkan kemungkinan tumor di bagian bawah abdomen, segera melakukan konsultasi atau merujuk ke puskesmas atau langsung ke dokter ahli kandungan. Tumor ovarium memerlukan tindakan yang spesialistis. Bidan bertugas untuk memberikan komunikasi, informasi, edukasi dan motivasi (KIEM) tentang pengobatan tumor dengan pengobatan modern dan tindakan operasi.

6. Ibu Dengan Gangguan Sistem Reproduksi Tumor Ganas Pada :

VULVA Jenis-jenisnya

a. Karsinoma vulva Epidemologinya 80-85% terdapat pada wanita baki (pasca menopause), terutama yang dalam dekade ke-7 sebagai puncak insidensi, paling tidak mengenahi 30 % wanita kelompok umur 50-70 tahun, dan merupakan 3-4 % dari semua keganasan ginekologik.

Karsinoma vulva jarang ditemukan pada golongan umur < 45 tahun dan jauh lebih jarang lagi pada wanita hamil. Umumnya ditemukan pada golongan sosial ekonomi rendah dan higien seksual yang kurang mendapat perhatian, obesitas dan hipertensi (50 %). Paritas dan suku/ras tidak mempunyai peran. Iritasi menahun seperti pada limfogranula inguinale, kondiluma akuminata, kondiloma lata, kondisi distriphia kulit vulva seperti pada lichen scelerosus etrophicus, leukoplakia, dan kraurosis diduga sebagai pemicu timbulnya karsinoma vulva. Penyebab Tidak banyak diketahui faktor penyebab jenis tumor ganas ini, meskipun disebut tentang lambatnya menarche (15-17 tahun) dan awalnya menepause (40 tahun) dalam riwayat penyakitnya. Faktor etnik tak berpengaruh, meskipun lesi granulomatosa sering ditemukan pada suku negro.

Gambaran Klinis Biasanya makan waktu cukup lama sebelum penderita meminta pertolongan, oleh karena mereka pada umumnya dari golongan lansia (usia lanjut), malu untuk mengemukakan kepada rekan sebaya, apa lagii kepada mereka yang lebih muda. Bagi mereka yang masih kawin, umumnya sudah tak melayani suami lagi secara seksual dan tak pernah kelainan yang ada pada vulvanya disampaikan kepada suami, sampai pada saat timbul perdarahan atau mengeluarkan bau tak sedap yang menjadikan orang yang ada disekitarnya menanyakan kepadanya. Setelah ia sadar untuk berobat, masih ada kemungkinan keterlambatan lagi sampai berbulan-bulan dalam menegakkan diagnosis yang pasti akibat pemberian berbagai salep dan kremyang ternyata tidak memberi kesembuhan, justru menyebabkan penyakitnya menjadi lebih parah. Sekitar 25 % penderita datang berobat tanpa didahului oleh biopsi. Penderita datang dengan keluhan samar-samar mengenahi iritasi vulva atau pruritus (gatal-gatal) vulva. Diagnosis akan lebih mudah dibuat bila ditemukan benjolan, ulkus atau lesi yang berdarah. Nyeri biasanya dikeluhkan bila lesinya terdapat dekat klitoris atau uretra, karena perih waktu kencing. Superinfeksi dari lesi ganasjuga menimbulkan rasa sakit dan lebih banyak iritasi akibat keputihan yang terus menerus. Hanya sekitar 5 % yang datang dengan pembesaran kelenjar lipat paha atau abses sebagai keluhan utama.

b. Melanoma vulva Melanoma vulva adalah keganasan nomor dua pada vulva sesudah karsinoma. Hampir 5 % dari semua melanoma maligna muncul divulva yang merupakan hanya 1 % dari kuit permukaan seluruhn tubuh. Tempat predilekasidilabia minora dan klitoris, sering meluas kevagina dan urethra beruba benjolan (nodul)yang berwarna hitam kebiruan. Menyebar secra limfogen dengan membentuk satelit sekeliling tumor primer untuk kemudian bermetastasis ke kelenjar limfa regional. Bila terjadi penyebaran secra hematogen, anak sebar terdapat di paru-paru (tersering), kemudian otak hati dan jantung juga tidak jarang.

c. Adenokarsinoma Pada vulva jarang dan umumnya berasal dari kelenjar bartholin.

d. Basolioma (basal sel karsinoma) Biasanya ditemukan didaerah berambut, sesekali pada labiya mayora sebagai makula kemerahan/kecoklatan atau sebagai nodul kecil yang mengalami ulserasi di tenghanya (ulkus rodens). Lesi ini hamir tak pernah menyebar ke kelenjar getah bening, sebab itu eksis lokal yang luas sudah memadai untuk tujuan kuratif.

e. Penyakit paget Merupakan lesi intra epitel vulva, yang sering bersama-sam dengan munculnya adenokarsinoma kelenjar apokrin.

f. Karsinoma verukosa Karsinoma ini adalah keganasan pada vulva berbentuk tumor eksofitik seperti papil dalam kondiluma akuminata, atau seperti bunga kol. g. Sarkoma pada vulva Sarkoma vulva sangat jarang tapi metastasis berjarak jauh umum terjadi. Tumor ini histoligik dapat berupa leiomiosarkoma (paling sering), liposarkoma, rhabdomiosarkoma, fibrosrakoma, angiosarkoma, limfosarkoma, dan epitelioidsarkoma. Penyebaranya sangat cepat, karena secra hematogen. prognosis sangat buruk. Peran radioterapi dan kemoterapi sebagai adjuvans perlu dipertimbangkan.

h. Tumor ganas sekunder pada vulva Berasal dari jaringan dekat vulva seperti serviks uteri, vagina, uterus, yang merembet langsung atau secra limfogen atau embolisasi melalui pembuluh darah balik. Paling sering ditemukan adalah metastasis kariokarsinoma yang memberi gambaran khas berwarna biru kehitaman. Penangana dengan kemotherapi tunggal (MTX) atau kombinasi, tergantung dari faktor resikonya.

VAGINA

Jenisnya

a. Karsinoma vagina Epidemologi Kanker vagina jarang terjadi, biasanya diderita oleh wanita berumur 50 tahun ke atas. Insidens < dari 1 kasus baru per 100.000 populasi setahun.

Patologi Lesi yang biasanya muncul pada sepertiga bagian proksimal dinding belakang vagina, yang kemudian akan melibatkan septum rektovaginal. Tumor mulai sebagai lesi ulseratif dengan tepi induratif yang mudah berdarah pada sentuhan. Gambaran klinik

Karsinoma in situ labih sering didapat sebagai proses yang multifokal. Ia dapat ditemukan bersama-sama dengan tumor sejenis dibagian yang lain dari truktus genitalis, atau setelah pembedahan yang tidak radikal pada karsinoma in situ servik uterus, atau pasca radiasi karsinoma servik uterus. Adenokarsinoma yang jarang, dapat berasal dari urethra, kelenjar bartholin, atau sebagai metastasis dari karsinoma endometrium atau ovarium.

Mengingat dinding vagina begitu tipis, kebanyakan kanker vagina yang invasi pada saat didiagnosa, ditemukan dalam tingkat II. Jika seorang penderita merasa sakit waktu bersetubuh (dispareunia) dan berdarah kemungkinan ia mengidap tumor ganas hal ini perlu dipikirkan. Pada tingkat penyakit yang sudah lanjut, disertai flour albus dan foetor (berbau busuk).

Pada pemeriksaan in spekulo dapat ditemukan ulkus dengan tepi yang induratif atau pertumbuhan tumor yang eksofitik seperti bunga kol yang mudah berdarah pada sentuhan. Biopsi harus dibuat pada daerah yang dicurigai, sehingga bukti histologik dapat menegakan diagnosis.

TUBA FALOPI ADNEKSA

Tumor ganas primer tuba sangat jarang, lebih sering yang sekunder berasal dari tumor ganas ovarium, uterus, kolorektak, lambung dan payudara. Etiologi Hsu, Taymor dan Hertig membagi histologik tumor ini menjadi 3 jenis menurut keganasannya. jenis papiler ; tumor belum mencapai otot tuba dan diferensiasi selnya masih baik, batas daerah normal dengan tumor masih dapat di tunjukan. jenis papilo-alveoler (adenomatosa), tumor telah memasuki otot tuba dan memperlihatkan gambaran kelenjar. jenis alveo-meduler, terlihat mitosis yang atipik dan terlihat ivasi sel ganas ke dalam saluran linfa tuba. Prognosis Tergantung dari tingkatan klinik dan jenis histologik tumor. Karena umumnya penyakit di temukan terlambat maka AKH-5 tahun tidak seberapa baik (34,4%). Gambaran klinik Deteksi dini tumor ganas tuba fallopi sukar di upayakan. Perlu dapat perhayian khusus bila wanita usia 45-55 tahun, di temukan tumor adneksa di sertai rasa nyeri dan adanya getah vagina yang semula kekuning-kuningan kemudian bercampur darah, perlu di curigai adanya kemungkinan adanya tumor ganas tuba terutama pada nulipara atau primipara. Wanita beranak satu (sterilitas satu anak) biasanya oleh karena mengalami infeksi gonokokus yang menimbulkan peradangan tuba dan menjadi buntu. Perasaan nyeri ini dapat intermiten atau terus menerus dan menjalar ke pangkal paha dan punggung bagian bawah.

TUMOR GANAS OVARIUM

Jenis Tumor ganas ovarium merupakan 20% dari semua keganasan alat reproduksi wanita. Insidensi rata-rata dari semua jenis di perkirakan 15 kasus baru per 100.000 populasi wanita setahunnya. Pertumbuhan tumor primer di ikuti oleh infiltrasi ke jaringan sekitar yang menyebabkan keluhan samar-samar seperti perasaan sebah, makan sedikit terasa cepat menjadi kenyang, sering kembung, nafsu makan menurun. Kecenderungan untuk melakukan implantasi di rongga petut merupakan ciri khas suatu tumor ganas ovarium yang menghasilkan ascites. Tumor-tumor epitelial ovarium

Ada 2 jenis : serosa dan musinosa.

Kedua-duanya mempunyai kecenderungan untuk timbuh bilateral dan berimplantasi di rongga peritonium. Perubahan ke arah ganas terjadi pada yang berjenis serosa. Kistadenokarsinoma papiliferum pseudo-musinosa merupakan satu variasi dari tumor dengan kemungkinan penyebaran lokal yang tinggi. Tumor-tumor endometrioid, mesonephoroid dan brenner adalah jarang. Tumor-tumor sex-cord Di duga bahwa tumor jenis ini berasal dari mesenkhin gonad, yang potensial mampu mendiferensiasi ke dalam struktur gonad laki-laki dan wanita, hingga tumor dapat mengakibatkan munculnya tanda-tanda maskulinisasi atau feminisasipada penderitanya. Tumor-tumor sel germinal (germcell tumours) Tumor ini berasal dari sel germinal dan derivatnya. Disgerminoma Paling umum dari kelompok tumor ini, merupakan homolog dari seminoma testis, biasanya terdapat pada wanita muda dan sangat radiosensitif. Tumor dengan permukaan rata, konsistensi kenyal, kecuali di bagian-bagian yang mengalami degenerasi, berwarna sawo matang sampai keabu-abuan. Pada pemeriksaan mikroskopik terlihat gambaran- gambaran sel telur yang besar, bundar, ovoid, atau poligonal, terpisah oleh septa jaringan ikat. Teratoma Diduga berkembang dari jaringan embrional yang pluripoten dan mampu membentuk elemen-elemen dari ketiga lapisan embrional. Teratoma pvarium bisa ditemukan dalam bentuk kistik maupun solid, bentuk kistik sudah dibicarakan sebagai kista dermoid yang tidak ganas. Teratoma ganas biasanya ditemukan pada anak-anak dan penderita pada masa pubertas. Tumor ini tumbuh cepat dan mempunyai prognosis yang buruk. Pada pemeriksaan klinik ditemukan tumor disamping uterus, kadang kala disertai perdarahan dari uterus dan ascites. Tumor sering bilateral, mengadakan penyebaran didaerah sekitarnya sampai tempat-tempat diluar rongga panggul. Tumor Sinus Endodermal Umumnya ditemukan pada gadis atau wanita muda (20 th) dan sangat ganas. Jarang yang dapat bertahan hidup dari sejak diagnosis dibuat dan ditangani secara benar, sampai lebih dari 6-18 bulan. Khorikarsinoma Tumor ini berasal dari ovarium jarang ditemukan mempunyai ciri-ciri seperti khorikarsinoma sesudah kehamilan. Gonadoblastoma Tumor ini dijumpai dalam ovarium atau testis yang disgenetik, terdiri dari sel-sel telur dan sel-sel yang menyerupai sertoli-leidig. Kebanyakn penderitanya wanita dan sering menunjukkan kario-tipe yang abnormal dengan mengandung kromosom y dan mempunyai potensi untuk menjadi ganas. Tumor-tumor yang berasal dari stroma ovarium Pada umumnya adalah fibroma, relatif sering ditemukan pada wanita usia lanjut, tumor uniklateral yang dapat mencapai ukuran besar. Sarkoma Ovarium Dijumpai pada segala umur, tumor ganas ini diklasifikasikan sebagai berikut: Sarkoma teratoid sering terdiri dari elamen-elemen tanpa diferensi, akan tetapi unsur-unsur teratoid masih dapat dikenal. Tumor tumbuh cepat dengan prognosi jelek. Stromal sarkoma: berasl dari jaringan mesenkhim dan dapat ditemukan dalam 2 jenis yaitu stromal –cell sarkomna dan leiomiosarkoma. Prognosisny baik apabila tumor belum meluas pada saat operasi dilakukan. Sarkoma Paramesonefrik: merupakan mixsed mesodermal tumor, terdi atas sel-sel epitel yang tersusun tidak rata dan stoma yang berproliferasi cepat. Tumor ditemukan pada usia lanjut tumbuh cepat dan dapat menimbulkan rasa nyei di perut bagian bawah.

UTERUS

Jenis-jenisnya a. Karsinoma servik uterus Penyebabnya Sebab langsung dari kanker servik belum diketahui. Ada bukti kuat kejadianya mempunyai hubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik, diantaranya yang penting : jarang ditemukan pada perawan (virgo), insidensi lebih tinggi pada mereka yang kawin dari pada yang tidak kawin, terutama pada gadis yang koitus pertama dialami pada usia amat muda (kurang 16 tahun), insidensi meningkat dengan tingginya paritas, apalagi bila jarak persalinan terlampau dekat, mereka dari golongan sosial ekonomi rendah (higiene seksual yang jelek, aktifitas seksual yang sering berganti-ganti pasangan) jarang dijumpai pada masyarakat yang suaminya disunat (sikumsisi), sering ditemukan pada wanita yang mengalami infeksivirus HPV. Patofisisologi Karsinoma servik timbul dibatas antara epitel yang melapisi ektoserviks (portio) dan endoservik kanalis servik yang disebut sebagai squamous-columnar junction (SCJ). Histologik antara epitel gepeng berlapis (squamous komplek) dari portio dengan epitel silindris pendek selapis bersilia dari endoservik kanalis servik. Pada wanita muda SCJ ini berada diluar ostium uteri eksternum, sedangkan pada wanita berumur lebih dari 35 tahun, SCJ berada dalam kanalis servik. Pada awal perkembanganya kanker servik tak memberi tanda-tanda dan keluhan.

Tumor dapat tumbuh :

a. Eksofitik mulai dari SCJ kearah lumen vagina sebagai masa proliferatif yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis

b. Endofitik mulai dari SCJ tumbuh kedalam stroma servik dan cenderung untuk mngadakan infiltrasi menjadi ulkus

c. Ulseratif mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan servik dengan melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas.

Gambaran klinis Keputihan merupakan gejala yang sering ditemukan. Getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Perdarahan yang dialami segera habis senggama merupakan gejala karsinoma servik (75-80 %). Perdarahan yang tibul akibat terbukanya pembuluh darah makin lam akan lebih sering terjadi, juga diluar senggama.

Perdarahan spontan umumnya terjadi pada tingkat klinik yang lebih lanjut terutama pada tumor yang bersifat eksofitik. Adanya perdarahan spontan pervaginam saat berdefekasi perlu dicurigai kemungkinan adanya karsinoma servik tingkat lanjut. Adanya bau busuk yang khas memperkuat dugaan adanya karsinoma anemia akan menyertai sebagai akibat perdarah pervaginam yang berulang.

Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor keserabut saraf memerlukan pembiusan umum untuk dapat melakukan pemeriksaan dalam yang cermat, khususnya pada lumen vagina yang sempit dan dinding yang seklerotik dan meradang. Gejala lain yang dapat timbul ialah gejala-gejala yang disebabkan oleh metastasis jauh. Sebelum tingkat akhir, penderita meninggal akibat perdarahan yang eksesis, kegagaln faal ginjal akibat nfiltrasi tumor ke urether sebelum memasuki kandung kemih, yang menyebabkan obstruksi total.

b. Korpus uterus Tumor ganas korpus uterus dianggap primer jika berasall dari endometrium atau miometrium. Jika tredapat proses diendometrium dan endoserviks dan tidak dapat dipastikan dari mana asalnya maka tumor ganas tersebut dianggap sebagai tumor ganas uterus bila hasil histologik menunjukan jenis epidermoid.

Dianggap sebagai tumor ganas endometrium bila histologik berjenis adeno karsinoma. Frekuensi tumor ganas endometrium akhir-akhir ini meningkat karena usia wanita maningkat, disamping faktor-faktor lain yang memberi predisposisi hingga mempunyai resiko tinggi. Golongan resiko tinggi ialah penderita DM, hipertensi menahun, obesitas, perdarahan difungsional pada wanita subfertil akibat hiperestrogenisme, wanita dengan tumor ovarium yang memproduksi estrogen (tumor sel granulosa), usia perimenopausal (50-60 tahun).

Patologi 90 % tumor ganas korpus uterus adalah adenokarsinoma. Sisanya ialah karsinoma epidermoid, adenoakantoma, sarkoma dan karsino sarkoma. Gambaran klinik Pada awal dari penyakit pemeriksaan ginekologi tidak menghasilkan apa-apa. Penyakit biasanya tersembunyi dan membahayakan. Dalam banyak kejadian gejalanya dikaitkan dengan menopause berubah getah vagina kemerahan atau sesudah menopause. Rasa sakit dan perasaan rahim berkontraksi sering dikeluhkan. Dengan berlanjutnya proses berbagai keluhan tekanan akibat membesarnya korpus uterus dapat ditemukan. Pembesaran dan fiksasi uterus akibat infiltrasi sel ganas kedalam para metrium baru terjadi pada tingkatan lanjut. Setiap wanita pada masa klimakterium atau menepause yang mengalami perdarahan abnormal dari rahim, harus dicurigai akan adanya karsinoma endometrium.

c. Khoriokarsinoma

Merupakan neoplasma ganas yang timbul dari korion embrional dimana kedua lapisan epitel trofoblas terlibat. Uterus merupakan lokasi utama dari pertumbuhan dari primer tumor ini. Koriokarsinoma yang primer dapat berasal dari ovarium. Etiologi Kehamilan dalam jarak interval pendek : mal nutrisi dengan defisiensi protein diduga sebagai faktor penyebabnya.

Gejala klinik Dapat menyerupai kelainan ginekologi seperti abortus, atau perdarahan difungsional. Ditemukannya sel koriokarsinoma dalam kuretemen diagnostik. Akan tetapi bila mana pertumbuhan sel ganas terdapat didalam miometrium, akan luput dari sendok kuret, maka hasil biopsi dapat menjadi negatif palsu.

Ciri khas koriokarsinoma adalah bahwa tumor itu mensekresi HCG yang dapat dideteksi dalam air kemih penderita. OVARIUM Karsinoma ovarium metastatik Karsinoma ini biasanya bilateral dan solid.tumor primernya berasal dari korpus uterus, usus-usus,kelenjar tiroid. Kurang lbih 6 % dari karsinoma ovarium yang ditemukan saat operasi adalah metastatik. Termasuk dalam golongan ini adalah tumor krukenberg, yang mempunyai gambaran mikroskopik khas, berupa sel-sel yang menyerupai cincin signed ditengan-tengah stroma.

Gejala-gejala karsinoma metastatik pada umumnya mempunyai hubungan dengan tumor primernya,akan tetapi kadang kala adanya tumor yang mengisi rongga panggul disertai ascites menutupi gejala tumor primernya.

Diagnosis didasarkan atas 3 gejala atau tanda yang biasanya muncul dalam perjalanan penyakitnya yang sudah agak lanjut : gejala desakan yang dihubungkan dengan pertumbuhan primer dan infiltrasi kejaringan sekitar gejala diseminasi atau penyebaran yang diakibatkan oleh implantasi peritoneal dan bermanifestasi adanya ascites gejala hormonal yang bermanifestasi sebagai defeminisasi, maskulinisasi atau hiperestrogenisme : intensitas gejala ini sangat berfariasi dengan tipe histologi tumor dan usia penderita.

Prosedur pemeriksaan

1. keganasan pada vulva melakukan konsultasi ke dokter untuk mendapat penmeriksaan sikologi cairan luka(ulkus) dan biopsi ulkus

2. keganasan vagina dalam menghadapi keganasan vagina atau keganasan alat reproduksi unmunya, bidan selalu harus melakukan pemeriksaan dalam dan melihat dengan spekulum. Keganasan vagina dapat dalam bentuk perlukaan dengan tepi padat dan menonjol, ulkus mudah berdarah, berntuk bunga kol dan tampak cairan yang bercampur darah. Bidan sebagai tenaga terlatih dapat mengambil cairan untuk pemeriksaan sitologi. Lebih lanjut bidan melakukan rujukan bila mencurigai kemungkinan keganasan ke dokter ahli, puskesmas atau RS.

3. keganasan mulut rahim gejala klinis stadium muda yaitu tanpa keluhan di temukan secara kebetulan, beser putih yang sulit sembuh, kontak berdarah, dan spoting gangguan patrun menstruasi.

Gejala klinis tersebut merupakan gejala stadium dini keganasan mulut rahim yang perlu mendapat perhatian bidan. Gejala klinis dalam stadium lanjut di antaranya beser putih di sertai darah, beser puti yang berbaau perdarahan berkelanjutan dan di sertai gejala anaksbar (metastase ) keganasan.

Bidan mengannurkan pemeriksaan pasca persalinan atau masa perpurium yaitu hari ke 42 (6 minggu) karena perlukaan servik (porti uteri). Setelah persalinan dapat menjadi tityik awal degenerasi ganas mulut rahim. Mulut rahim yang luka perlu di obati dengan nitrosargenti tinguna, albutil tingtura,temokauter, komisassi. Di samping itu di anjurakan untuk pemeriksaan papsmir.

Tehnik pengambilan cairan adalah

o spekulum di pasang tanpa melakukan pembilasan vulva

o ambilah lidi kapas, untuk mengambil cairan yang dapat pada kanalis servik (portio), uteri, daerah vornik posterior, daerah vornik lateralis

o ioleskan pada objek gelas

o masukan ke dalam kantong plastik

o bilas dengan alkohol 95 %-96% sekitar 5 menit

o keringakan di udara terbuka

o paparan parsmir telah siap di kirim ke dokter ahli patologi anatomi

o data -data lengkap tentang penderita jangan lupa di tuliskan

MATERI ASKEB PERDARAHAN DI LUAR HAID

DEFINISI

Perdarahan bukan haid adalah perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2 haid. Ada dua macam perdarahan di luar haid yaitu metroragia dan menometroragia

1) Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan siklus haid. Perdarahan ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus sebagai suatu spotting dan dapat lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh.

Penyebabnya adalah kelainan organik (polip endometrium, karsinoma endometrium, karsinoma serviks), kelainan fungsional dan penggunaan estrogen eksogen

2) Menoragia adalah Perdarahan siklik yang berlangsung lebih dari 7 hari dengan jumlah darah kadang-kadang cukup banyak.

Penyebab dan pengobatan kasus ini sama dengan hipermenorea.

Penyebab perdarahan diluar haid yaitu :

• Polip serviks

• Erosi portio

• Ulkus portio

• Trauma

• Polip endometrium

1. POLIP SERVIKS

a) Pengertian

Polip adalah tumor bertangkai yang kecil dan tumbuh dari permukaan mukosa (Denise tiran : 2005 ).

Servikal polip adalah polip yang terdapat dalam kanalis servikalis (Denise tiran:2005 )

b) Gejala umum bentuk abnormal tersebut, yaitu :

· Tanpa gejala

Polip serviks bias saja dialami seseorang tanpa ia tau kalau sebenarnya ia memiliki polip serviks,

· Leukorea yang sulit disembuhkan

Jika sudah digunakan berbagai macam obat, dan personal hygine telah dijaga tetapi leokorea belum juga sembuh

· Terasa discomfort dalam vagina

Yaitu perasaan tidak nyaman dalam vagina, baik setelah buang air maupun dalam kondisi biasa.

· Kontak berdarah

Misalnya , vagina selalu mengeluarkan darah setelah melakukan hubungan seks. Perlu dijurigai adanya polip serviks.

· Terdapat infeksi

c) Dasar diagnosis

· Berdasarkan keluhan yang dikemukakan.

· Diagnosis karena kebetulan memeriksakan.

· Pada pemeriksaan inspekulum dijumpai :

• Jaringan bertambah

• Mudah berdarah

• Terdapat pada vagina bagian atas.

d) Penatalaksanaannya

Polip hanya dipelintir sampai putus, kemudian tangkainya di kuret. Tindakan dilakukan dalam pembiusan umum (general anasthesia). Selanjutnya jaringan polip dikirim ke laboratorium patologi guna memastikan bahwa histologis-nya jinak/sesuai dengan gambaran jaringan polip serviks. Kemungkinan ganasnya kecil.

2. EROSI PORSIO

a) Pengertian Erosi Porsio

Erosio porsiones (EP) adalah suatu proses peradangan atau suatu luka yang terjadi pada daerah porsio serviks uteri (mulut rahim). Penyebabnya bisa karena infeksi dengan kuman-kuman atau virus, bisa juga karena rangsangan zat kimia /alat tertentu; umumnya disebabkan oleh infeksi.

Erosi porsio atau disebut juga dengan erosi serviks adalah hilangnya sebagian / seluruh permukaan epitel squamous dari serviks. Jaringan yang normal pada permukaan dan atau mulut serviks digantikan oleh jaringan yang mengalami inflamasi dari kanalis serviks. Jaringan endoserviks ini berwarna merah dan granuler, sehingga serviks akan tampak merah, erosi dan terinfeksi. Erosi serviks dapat menjadi tanda awal dari kanker serviks.

Erosi serviks dapat dibagi menjadi 3:

1) Erosi ringan : meliputi ≤ 1/3 total area serviks

2) Erosi sedang : meliputi 1/3-2/3 total area serviks

3) Erosi berat : meliputi ≥ 2/3 total area serviks.

b) Penyebab erosi serviks :

1. Level estrogen : erosi serviks merupakan respons terhadap sirkulasi estrogen dalam tubuh.

a) Dalam kehamilan : erosi serviks sangat umum ditemukan dalam kehamilan karena level estrogen yang tinggi. Erosi serviks dapat menyebabkan perdarahan minimal selama kehamilan, biasanya saat berhubungan seksual ketika penis menyentuh serviks. Erosi akan menghilang spontan 3-6 bulan setelah melahirkan.

b) Pada wanita yang mengkonsumsi pil KB : erosi serviks lebih umum terjadi pada wanita yang mengkonsumsi pil KB dengan level estrogen yang tinggi.

c) Pada bayi baru lahir : erosi serviks ditemukan pada 1/3 dari bayi wanita dan akan menghilang pada masa anak-anak oleh karena respon maternal saat bayi berada di dalam rahim

d) Wanita yang menjalani Hormon Replacement Therapy (HRT): karena penggunaan estrogen pengganti dalam tubuh berupa pil, krim , dll.

2. Infeksi: teori bahwa infeksi menjadi penyebab erosi serviks mulai menghilang. Bukti-bukti menunjukkan bahwa infeksi tidak menyebabkan erosi, tapi kondisi erosi akan lebih mudah terserang bakteri dan jamur sehingga mudah terserang infeksi.

3. Penyebab lain : infeksi kronis di vagina, douche dan kontrasepsi kimia dapat mengubah level keasaman vagina dan sebabkan erosi serviks. Erosi serviks juga dapat disebabkan karena trauma (hubungan seksual, penggunaan tampon, benda asing di vagina, atau terkena speculum)

c) Gejala erosi serviks:

(1) Mayoritas tanpa gejala

(2) Perdarahan vagina abnormal (yang tidak berhubungan dengan siklus menstruasi) yang terjadi :

· Setelah berhubungan seksual (poscoital)

· Diantara siklus menstruasi

· Disertai keluarnya cairan mucus yang jernih / kekuningan, dapat berbau jika disertai infeksi vagina

(3) Erosi serviks disebabkan oleh inflamasi, sehingga sekresi serviks meningkat secara signifikan, berbentuk mucus, mengandung banyak sel darah putih, sehingga ketika sperma melewati serviks akan mengurangi vitalitas sperma dan menyulitkan perjalanan sperma. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya infertilitas pada wanita.

d) Penanganan erosi porsio/erosi serviks

1) Memberikan albotyl di sekitar Erosio pada portio.

2) Melakukan penatalaksanaan pemberian obat.

· Lyncopar 3 x 1 untuk infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri /streptokokus pneomokokus stafilokokus dan infeksi kulit dan jaringan lunak.

· Ferofort 1 x 1 berfungsi untuk mengobati keputihan

· Mefinal 3 x 1 berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit

Gambar 1 : Serviks Normal

Gambar 2 : Serviks yang terkena Erosi

3. ULKUS PORSIO

a) Pengertian

Ulkus portio adalah suatu pendarahan dan luka pada portio berwarna merah dengan batas tidak jelas pada ostium uteri eksternum .

b) Etiologi

Penggunaan IUD, pemakaian pil, perilaku seksual yang tidak sehat, trauma.

c) Patofisiologi

Proses terjadinya ulkus portio dapat disebabkan adanya rangsangan dari luar misalnya IUD.IUD yang mengandung polyethilien yang sudah berkarat membentuk ion Ca, kemudian bereaksi dengan ion sel sehat PO4 sehingga terjadi denaturasi / koalugasi membaran sel dan terjadilah erosi portio. Bisa juga dari gesekan benang IUD yang menyebabkan iritasi lokal sehingga menyebabkan sel superfisialis terkelupas dan terjadilah ulkus portio dan akhir nya menjadi ulkus. Dari posisi IUD yang tidak tepat menyebabkan reaksi radang non spesifik sehingga menimbulkan sekresi sekret vagina yang meningkat dan menyebabkan kerentanan sel superfisialis dan terjadilah erosi portio.Dari semua kejadian ulkus portio itu menyebabkan tumbuhnya bakteri patogen, bila sampai kronis menyebabkan metastase keganasan leher rahim.

d) Gejala

a. Adanya fluxus

b. Portio terlihat kemerahan dengan batas tidak jelas

c. Adanya kontak berdarah

d. Portio teraba tidak rata

e) Penanggulangan

1) Membatasi hubungan suami istri

Adanya ulkus porsio membuat porsio mudah sekali berdarah setiap kali mengalami gesekan sekecil apapun, sehingga sebaiknya koitus dihindari sampai ulkus sembuh.

2) Menjaga kebersihan vagina

Bila kebesihan vagina tidak dijaga, maka akan dapat memperburuk kondisi porsio, sebab akan semakin rentan terkena infeksi lainnya.

3) Lama pemakaian IUD harus diperhatikan.

4. TRAUMA

a) Pengertian

Trauma adalah dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian medis.

Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya diskontinuitas dari jaringan.

Sedangkan dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang alat atau benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Artinya orang yang sehat, tiba-tiba terganggu kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan kecederaan.

b) Penyebab

Trauma yang menyebabkan perdarahan di luar haid contohnya yang sering terjadi pada akseptor IUD dan usai berhubungan intim (utamanya pada wanita yang telah menopause )

Tempat perlukaan yang paling sering akibat koitus adalah dinding lateral Vagina, vorniks posterior dan kubah Vagina (setelah histerektomi).

c) Gejala

Nyeri vulva dan vagina, perdarahan dan pembengkakkan merupakan gejala-gejala yang paling khas. Kemungkinan gejala lainnya adalah kesulitan dalam urinasi dan ambulasi

d) Penanganannya

Penanganannya sesuai dengan penyebabnya , misalnya trauma yang disebabkan translokasi IUD, maka IUD nya harus dicabut, dan diganti dengan alat kontrasepsi lain.Sedangkan buat para wanita yang menopause yang mengalami perdarahan setelah koitus, bisa diberi terapi hormon.

5. POLIP ENDOMETRIUM

a) Pengertian

Polip endometrium juga disebut polip rahim. Ia adalah pertumbuhan kecil yang tumbuh sangat lambat dalam dinding rahim. Mereka memiliki basis datar besar dan mereka melekat pada rahim melalui gagang bunga memanjang. Bentuknya dapat bulat atau oval dan biasanya berwarna merah. Seorang wanita dapat memiliki polip endometrium satu atau banyak, dan kadang-kadang menonjol melalui vagina menyebabkan kram dan ketidaknyamanan. Polip endometrium dapat menyebabkan kram karena mereka melanggar pembukaan leher rahim. Polip ini dapat terjangkit jika mereka bengkok dan kehilangan semua pasokan darah mereka. Ada kejadian langka saat ini polip menjadi kanker. Wanita yang telah mengalaminya terkadang sulit untuk hamil.

b) Gejala

Tidak ada penyebab pasti dari polip endometrium, tetapi pertumbuhan mereka dapat dipengaruhi oleh kadar hormon, terutama estrogen. Seringkali tidak ada gejala, tetapi beberapa gejala dapat diidentifikasi terkait dengan pembentukannya.

· Sebuah kesenjangan antara perdarahan haid

· Tidak teratur atau perdarahan menstruasi yang berkepanjangan

· Perdarahan haid yang terlalu berat

· Rasa sakit atau dismenore (nyeri dengan menstruasi)

c) Diagnosa dan Pengobatan

Polip endometrium dapat dideteksi melalui pelebaran dan kuretase (D & C), CT scan, ultrasound atau histeroskopi. Histeroskopi adalah prosedur dimana lingkup kecil dimasukkan melalui leher rahim ke dalam rongga rahim untuk mencari polip atau kelainan rahim lainnya.

Polip endometrium dapat dihapus dan diobati melalui operasi dengan menggunakan kuretase atau histerektomi. Jika kuretase dilakukan, polip dapat terjawab tapi untuk mengurangi risiko ini, rahim biasanya dieksplorasi oleh histeroskopi pada awal proses bedah. Sebuah polip besar dapat dipotong menjadi bagian-bagian sebelum sepenuhnya disingkirkan. Jika ditemukan polip menjadi kanker, histerektomi harus dilakukan. Ada probabilitas tinggi kekambuhan polip bahkan dengan perawatan di atas.

d) Komplikasi dan Faktor Risiko

Polip endometrium biasanya sel jinak. Mereka dapat menjadi prakanker atau kanker. Sekitar 0,5 persen dari polip endometrium mengandung sel-sel adenokarsinoma. Sel-sel ini akhirnya akan berkembang menjadi kanker. Polip dapat meningkatkan risiko keguguran pada wanita yang menjalani fertilisasi in vitro dalam perawatan. Jika mereka berkembang dekat saluran telur, mereka dapat menjadi penyebab kesulitan dalam menjadi hamil.

Polip rahim biasanya terjadi pada wanita di usia 40-an dan 50-an. Wanita yang memiliki faktor risiko tinggi adalah mereka yang mengalami obesitas, memiliki tekanan darah tinggi. dan memiliki sejarah polip serviks dalam keluarga mereka.

Terapi penggantian hormon dapat meningkatkan faktor risiko terjadinya polip endometrium. Wanita yang menggunakan hormonal Intra Uterine Device yang tingkat tinggi levonorgestrel dapat mengurangi kejadian polip. Satu dari setiap sepuluh perempuan dapat memiliki polip endometrium, dan diperkirakan bahwa sekitar 25 persen dari mereka yang mengalami pendarahan vagina abnormal memiliki polip endometrium.

MERAWAT PERDARAHAN VAGINA YANG TIDAK BERATURAN

Perawatan untuk perdarahan vagina yang tidak teratur tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Setelah penyebabnya ditentukan, dokter memutuskan apakah perawatan sebenarnya perlu. Adakalanya, semua yang diperlukan adalah mengesampingkan penyebab-penyebab yang membahayakan dan untuk menentukan bahwa perdarahan vagina yang tidak teratur tidak cukup mengganggu wanitanya untuk diberikan obat atau perawatan. Jika persoalan-persoalan tiroid, hati, ginjal, atau pembekuan darah ditemukan, perawatan diarahkan menuju kondisi-kondisi ini.

Obat-obat untuk perawatan dari perdarahan vagina yang tidak teratur tergantung pada penyebabnya. Contoh-contoh digambarkan dibawah:

a. Jika penyebab dari perdarahan adalah ketiadaan dari ovulasi (anovulation), dokter-dokter mungkin meresepkan progesterone untuk diminum pada interval-interval yang teratur, atau obat pencegahan kehamilan oral, yang mengandung progesterone, untuk mencapai keseimbangan hormon yang tepat. Perawatan sejenis ini secara dramatis mengurangi risiko kanker kandungan pada wanita-wanita yang tidak berovulasi.

b. Jika penyebab dari perdarahan vagina yang tidak teratur adalah perubahan prakanker pada lapisan kandungan, obat-obat progesterone mungkin diresepkan untuk mengurangi pembentukan dari jaringan-jaringan lapisan kandungan yang prakanker dalam usaha untuk menghindari operasi.

c. Jika seorang wanita telah berada tanpa mens-mens untuk kurang dari enam bulan dan berdarah secara tidak teratur, penyebabnya mungkin adalah transisi menopause. Selama transisi ini, seorang wanita adakalanya ditawarkan obat pencegah kehamilan oral untuk menegakan pola perdarahan yang lebih teratur, untuk menyediakan kontrasepsi sampai ia menyelesaikan menopause, dan untuk membebaskan rasa panas (hot flashes). Seorang wanita yang ditemukan menopause sebagai penyebab dari perdarahan yang tidak teraturnya mungkin juga menerima nasehat menopause jika ia mempunyai gejala-gejala yang menyusahkan.

d. Jika penyebab dari perdarahan vagina yang tidak teratur adalah polip-polip atau pertumbuhan-pertumbuhan jinak lainnya, ini adakalanya dikeluarkan secara operasi untuk mengontrol perdarahan karena mereka tidak dapat dirawat dengan obat.

e. Jika penyebab dari perdarahan adalah infeksi, antibiotik-antibiotik adalah perlu. Perdarahan selama kehamilan memerlukan evaluasi darurat oleh seorang dokter kandungan (obstetrician). Endometriosis dapat dirawat dengan obat-obat dan/atau operasi (seperti laparoscopy).

f. Adakalanya, penyebab dari perdarahan yang berlebihan tidak nyata setelah penyelesaian pengujian (dysfunctional uterine bleeding). Pada kasus-kasus ini, obat-obat pencegah kehamilan oral dapat memperbaiki kontrol siklus dan mengurangi perdarahan.

g. Jika perdarahan berlebihan dan tidak dapat dikontrol dengan obat, prosedur operasi yang disebut dilation and curettage (D&C) mungkin adalah perlu. Sebagai tambahan pada pengurangan perdarahan yang berlebihan, D&C menyediakan informasi tambahan yang dapat mengesampingkan kelainan-kelainan dari lapisan kandungan.

h. Adakalanya, hysterectomy adalah perlu ketika obat-obat hormon tidak dapat mengontrol perdarahan yang berlebihan. Bagaimanapun, kecuali penyebabnya adalah prakanker atau kanker, operasi ini harus adalah hanya opsi (pilihan) setelah solusi-solusi lain telah dicoba.

i. Banyak prosedur-prosedur baru sedang dikembangkan untuk merawat tipe-tipe tertentu dari perdarahan vagina yang tidak teratur. Contohnya, studi-studi sedang dalam perjalanan untuk mengevaluasi teknik-teknik yang secara selektif menghalangi pembuluh-pembuluh darah yang terlibat pada perdarahan. Metode-metode yang lebih baru ini mungkin adalah pilihan-pilihan yang kurang rumit untuk beberapa pasien-pasien dan ketika mereka dievaluasi lebih jauh mereka akan mungkin menjadi lebih secara luas tersedia.

Referensi :

Amir Amri. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Kedua. 1995. Medan : Ramadhan.

Manuaba, Ida bagus.2004.Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Gynekologi edisi II .Jakarta;EGC.

Wiknjosastro, Hanifa.2005. Ilmu kandungan.Jakarta :yayasan bina pustaka sarwono prawirihardjo.

Sylvia A.Drice.Lorraine M Wilson.2005.Patofisiologi Volume II.Konsep Klinis Proses Proses Penyakit.Jakarta ;EGC.

Tiran, Denise.2005.Kamus Saku Bidan.Jakarta :EGC.

http://leynamuja.blogspot.com/2010/04/gangguan-dan-masalah-haid-dalam-sistem.html

http://www.scribd.com/doc/41392558/MAKALAH-ULKUS-PORSIO

http://www.drdidispog.com/2008/07/polyp-cervix-polip-serviks.html

MATERI ASKEB PADA INFERTILITAS

Pengertian
Fertilitas adalah kemampuan seorang istri menjadi hamil dan suami bisa menghamili.
Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi, tetapi belum memiliki anak. (Sarwono, 2000).
Infertilitas adalah pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta berusaha selama satu tahun tetapi belum hamil. (Manuaba, 1998).
Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil dalam waktu satu tahun. Infertilitas primer bila pasutri tidak pernah hamil dan infertilitas sekunder bila istri pernah hamil. (Siswandi, 2006).

Suatu pasangan diklasifikasikan sebagai infertile atau subfertil apabila tidak hamil dalam satu tahun, tidak ada pembatasan koitus, dan tidak menggunakan alat kontrasepsi.

Pasangan usia subur yang rata-rata berumur 20-an, dengan frekuensi koitus 3-4x/minggu, mempunyai 1 dari 4 kemungkinan kehamilan tiap bulan.

Infertilitas dapat terjadi pada berbagai kalangan, ras/bangsa, atau berbagai latar belakang social, dan infertilitas sering dikatakan sebagai masalah perempuan.

Penyebab Penyebab infertilitas dibagi menjadi 3, yaitu:

Masalah perempuan Pada wanita yang tidak terjadi ovulasi tidak memproduksi dan melepas ovum. Apabila wanita tersebut berovulasi tetapi tidak teratur/tidak sering dapat mengurangi kesempatannya untuk hamil, atau fertilisasi menjadi semakin sulit. Semakin tua wanita tersebut menjadi kurang kesuburannya, kehamilan mungkin terjadi lebih lama, akan meningkatkan terjadinya abortus, dan peningkatan terjadinya kelainan pada janin.

Berikut adalah penyebab adanya masalah pada perempuan:

a. Viabilitas sel telur Saat dilahirkan, sel telur wanita berbentuk in situ. Sisa dalam tubuhnya tidak diubah sampai dilepaskan sebagian pada siklus menstruasi. Telur yang diproduksi oleh wanita yang lebih tua mempunyai kualitas yang lebih rendah, pengeluaran tidak teratur dan mudah menjadi tidak subur; keadaan ini tidak seperti pada laki-laki. Sperma diproduksi mulai saat pubertas sampai seterusnya. Untuk mencapai maturitas sperma mamarlukan waktu 3 bulan sehingga fertilitas laki-laki dapat lebih lama, sperma juga tidak terbatas usia dan fertilitasnya hanya akan sedikit berkurang pada usia 60 tahun.

b. Kerusakan tuba fallopi Wanita yang mengalami kerusakan tuba fallopi akan menghalangi sel telur dan sperma bertemu dan mencegah terjadinya pembuahan. Jika terjadi pembuahan, telur yang dibuahi tidak bergerak menuju uterus maka akan tertanam di tuba, dan akan menjadi kehamilan ektopik, dimana tumbuhnya hasil konsepsi setiap saat dapat memecah tuba dan menyebabkan perdarahan. Walaupun dapat didiagnosa awal dan ada penanganan, tetapi seringnya dilakukan tindakan salpingektomi, sebagian atau seluruh bagian tuba, dimana kemungkinan lebih lanjutnya adalah tertuju pada kesuburan wanita tersebut.

c. Kelainan uterus Wanita mungkin dapat mempunyai kelainan pada uterusnya dimana dapat mencegah proses implantasi, contohnya kelainan struktur fibrosa seperti uterus bikornu atau septum yang bercabang-cabang.

d. Endometriosis Endometriosis yang dapat menyebabkan rasa sakit kadang tidak diperhatikan kecuali jika cukup banyak menyebabkan kerusakan atau menyebabkan kista ovarium yang dinamakan endometriomas. Masalah laki-laki Masalah pada laki-laki yaitu tidak diproduksinya sperma, jumlah sperma yang kurang atau adanya kelainan pada sperma. Jika sperma yang diproduksi tidak mampu bergerak maka tidak akan mampu melakukan pembuahan. Berikut adalah karakteristik sperma normal (WHO, 1994):

Volume : 2-4 ml Lama pencairan : mencair sempurna dalam 30 menit Jumlah : 20 juta/ml atau lebih Gerakan : 40% (bergerak ke depan)

Morfologi : 30% lebih berbentuk normal (oval) Volume sperma yang sedikit mengindikasikan bahwa sample tidak lengkap. Tetapi jika hal ini menetap, mungkin terjadi sumbatan duktus ejakulatorius atau tidak adanya sperma sejak lahir. Pemeriksaan sperma dilakukan tidak boleh kurang dari 36 jam dan lebih dari 72 jam sejak ejakulasi.

Jika terdapat <10 juta sperma/ml disebut sebagai “oligospermia”.

Azoospermia (tidak adany spermatozoa) Jika tidak dilihat adanya sperma pada 2x pemeriksaan maka laki-laki tersebut dinamakan azoospermic sehingga pembuahan tidak dapat terjadi.

Kelainan sperma Cairan sperma biasanya mengandung hingga 30% kelainan yang mungkin dapat terjadi di kepala, badan, atau ekor sperma. Apabila terdapat >60% kelainan pada sperma, dapat menyebabkan masalah dalam fertilitas.

Gerakan sperma

Sperma bergerak sangat cepat. Sekurang-kurangnya 50% dari seluruh jumlah sperma bergerak maju, dan jika tidak maka pembuahan tidak akan terjadi.

Impotensi

Pasangan laki-laki dapat juga terjadi impotensi atau tidak dapat berereksi sehingga tidak mungkin dapat melakukan koitus. Penyebabnya mungkin karena factor organic misalnya DM, hiperprolaktinemia, atau riwayat pembedahan sebelumnya, atau mungkinjuga factor psikologis. Selain itu, ejakulasi dini, dimana laki-laki tidak dapat berejakulasi di dalam vagina atau terjadi ejakulasi lambat juga akan mencegah terjadinya kehamilan.

Kerusakan saluran

Saluran dari testie menuju uretra dapat terjadi kerusakan karena mungkin terluka sebelumnya. Kerusakan dapat berupa genetic, namun lebih sering terjadi karena infeksi atau karena vasektomi.

Varicocele

Varicocele yaitu suatu keadaan dimana adanya dilatasi vena (menyerupai vena varicose), yang dapat dideteksi dengan teraba lembek di atas testis. Aliran darah yang terlalu banyak menyebabkan pembuluh darah di sekitar testis membesar sehingga dapat meningkatkan suhu testis dan keadan ini berpengaruh terhadap produksi sperma.

Masalah pada pasangan

Pada saat-saat ovulasi perubahan mukosa servik akan tampak dan menetap, dimana akan tampak jelas dan sangat elastis, dan perubahan ini dapat diidentifiksi pada siklus alaminya.

Setelah koitus, beberapa sperma berenang dalam mukosa menuju ke uterus, sedangkan sisanya berada di servik sampai 24 jam. Pada sat ini dapat dilakukan pemeriksaan dengan iju post coitus (Post Coital Test/ PCT). Wanita dating ke rumah sakit6-10 jam setelah berhubungan seksual dan contoh mukosa diserahkan, lalu diperiksa dengan mikroskop dan dicatat apakah terdapat sperma. Jika tidak didapatkan sperma dan sample sperm sudah dilihat sebelumnya, mungkin terjadi gangguan koitus. Atau jika sperma tidak bergerak mungkin terdapat inkompatibilitas (ketidakcocokan), atau tidak adannya antibody sperma; antibody adalah substansi yang diproduksi oleh tubuh sebagai bentuk pertahanan untuk mellindungi diri dari benda asing agar terhindar dari infeksi.

Factor-faktor yang biasa mempengaruhi kesempatan pasangan untuk hamil mungkin karena pekarjaan. Pasangan tidak dapat berhubungan seksual dengan teratur oleh karena pekerjaan yang banyak sehingga membuat mereka terlalu lelah, pekerjaan yang berpindah-ppindah, atau bekerja di luar rumah menurunkan kesempatan untuk berhubungan seksual.

Masalah psikoseksual yang serius dapat dideteksi jika pasangan ingin mempunyai anak, contohnya vaginismun, dimana hal ini harus diatasi sebelum terjdi konsepsi. Pasangan juga perlu diberikan informasi mengenai seksualitas dan bagaimana terjadinya kehamilan.

Tidak adanya penyebab-penyebab infertilitas pada pasangan juga dapat ditemukan, yang dinamakan dengan “Unexplained infertility” dimaan tidak ditemukan masalah tetapi ditemukan adanya tekanan dan kecemasan yang dapat meningkat secara tak menentu.

Pemeriksaan-pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pasangan untuk mendiagnosa sehingga dapat teridentifikasi dengan cepat yaitu meliputi:

Pemeriksaan darah pada perempuan

1) LH-FSH; pemeriksaan darah untuk menilai LH-FSH dilakukan pada 5 hari pertama menstruasi. Jika terdapat amenorhea, pemeriksaan dapat dilakukan kapan saja

2) Hormon prolaktin dan hormon stimulasi thyroid; pemeriksaan in hanya dilakukan pada wanita dengan siklus menstruasi >42 hari, dan dapat dilakukan kapan saja

3) Thalassemia dan sel bulan sabit; pemeriksaan ini dilakuka pada beberapa wanita yang berasal dari Eropa bagian utara. Jika salah satu positif maka pasangannya harus diperiksa; dari manapun dia berasal. Pemeriksaan ini dapat dilakuka kapan saja

4) Rubella; pemeriksaan ini dapat dilakukan kapan saja apabila status rubella pada seseorang tidak diketahui

5) Hemoglobin; pemeriksaan ini dilakukan jika wanita mempunyai riwayat menoragia atau diet ketat

6) Progesterone pada fase lutheal; pemeriksaan dilakukan untuk mengkaji apakah terjadi ovulasi, sample darah diambil 7 hari sebelum periode sebelumnya tiba, tapi jika hasilnya kurang dan menstruasinya terlambat pemeriksaan harus diulangi.

Asupan servik; dilakukan sebagai skrining rutin

Uji sperma laki-laki; sample sperma diperiksa di RS, dimasukan tempat, dan klien dianjurkan untuk tidak berkoitus.

Pengobatan

Pengobatan pada klien infertile setiap saat selalu berkembang, tetapi berikut adalah pengobatan yang biasa dilakukan :

Induksi ovulsi

Untuk menentukan bagaimana pengobatan tidak adanya ovulasi harus diketahui kenapa hal tersebut terjadi

Penyebab yang biasa terjadi pada amenorhoe adalah

Kista ovarium

Merupakan penyebab patologis terbesar, tidak adanya ovulasi dan gangguan menstruasi, yang dapat dilihat dengan gejalanya sebagai berikut;

1) Gangguan menstruasi – Oligomenorhea, amenorhoe atau terlalu sering (polimenorhe)

2) Jerawat, banyak tumbuh rambut di badan atau kulit berminyak (biasanya disebabkan karena terlalu banyak testoteron)

3) Obesitas

Hypopituitari hipotalamus

Pada keadaan ini, kelanjar pituitary tidak mengeluarkan cukup LH dan FSH untuk merangsang ovarium untuk mematangkan ovum dan mengeluarkannya. Penyebab adalah malnutrisi yang dapat mengehntikan siklus menstruasi, yang dikarenakan kekurangan asupan makanan pada wanita dengan diet ketat atau wanita dengan anoreksia nervosa.

Hiperprolactinemia

Prolaktin adalah hormon yang dikeluarkan oleh kelanjar pitutari dan dalam pelepasannya diatur oleh hipotalamus. Hormon ini dikeluarkan dalam jumlah besar pada kehamilan dan mencegah terjadinya menstruasi dengan penekanan pengeluaran LH dan FSH.

Jika prolaktin diproduksi pada wanita yang tidak hamil maka akan mengakibatkan terjadinya amenorhoe. Tanda yang baisanya muncul adalah galactorhoe (keluarnya air susu yang berlebihan). Pengobatan yang paling baik pada keadaan ini adalah bromociptine, dapat diberikan dalam bentuk tablet. Obat ini mengurangi kadar prolaktin sampai batas normal dalam beberapa minggu, siklue menstruasi kembali normal dan kesempatan untuk hamil akan sama dengan wanita normal lainnya.

Menopouse premature

Menopause premature apabila menopause terjadi sebelum umur 40 tahun; dapat di diagnosa dengan adanya kadar LH dan FSH yang tinggi dan estradiol yang rendah. Kondisi ini juga dinamakan atau disebut dengan kegagalan ovarium premature. Ovum tidak dapat diproduksi sehingga kehamilan hanya dapat dicapai dengan menerima donor sel telur dari wanita lain.

Operasi tuba

Kerusakan tuba secara umum disebabkan karena infeksi pelvis, seperti penyakit radang panggul yang akhirnya akan terjadi kerusakan tuba atau tuba tersumbat.

Fertilisasi In Vitro

Fertilisasi in vitro digunakan sebagai penanganan bebrapa penyebab infertile diantaranya :

Infertilitas yang tidak jelas

Infettil karena factor laki-laki

Kegagalan donor pembuahan

Penyakit servik

Kegagalan induksi ovulasi

Langkah awal tindakan ini adalah menurunkan pengaturan uterus dengan pemberian buserline secara IV atau nasal. Busereline bekerja seperti hormon LH-RH sehingga mencegah kelenjar pitutari melepaskan FSH dan LH. Pada akhir tahap ini diberikan injeksi hormon HCG agar terjadi materitas sel telur.

Hari berikutnya sel telur dikumpulkan dilihat dengan gelombang ultrasonic dilihat secara pervaginam atau kadang-kadang dengan laparskopi. Pada prosedur ini dapat diberikan beberapa pilihan gestasi general atau sedatif intravena dan analgesik. Sel telur ditempatkan bersama dengan sperma dalam incubator semalam.

Pagi harinya dapat dilihat apakah terjadi pembuahan, jika terjadi pembuahan dinamakan pre embrio dan di laboratorium sapmai 36 jam. Setelah terkumpulnya sel telur, sampai berkembang dan cukup dapat ditempatkan dalam uterus.

Umumnya tidak boleh lebih dari 2 embrio yang di tempatkan atau di masukan karena meningkatkan resiko kehamilan ganda. Pasangan tersebut dapat menunggu 14 hari untuk melihat terjadinya implantasi dan kehamilan berkembang. Saat ini adalah waktu yang sangat sulit dan meskipun pasanan tersebut mengerti benar bahwa keberhasilannya sangat kecil, perasaan putus asa dan takut apabila pengobatan gagal.

 

Referensi :

Bagian Obstetric Dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. 1981. Ginekologi. Elstar Offset, Bandung.
Manuaba, IBG, 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Arcan. Jakarta.
Manuaba, IBG, 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, Dan Keluarga Berencana Untuk Bidan. EGC. Jakarta.
Sarwono, 1999. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
Rabe, Thomas, 2002. Buku Saku Ilmu Kandungan, Hipokrates, Jakarta.
www/portalkalbe/files/cdk/files/13obatovulasiO81/13obatovulasiO81. Setiabudy, R. Tinjauan Farmakologik Beberapa Obat Yang Menginduksi Ovulasi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Medical Faculty Of Hasanudin University, 2005. Hubungan Endometriosis Dengan Infertilitas, Makasar.
Wardoyo, Hasto, 2002. Infertilitas. Makalah Seminar Bayi Tabung. RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta.

MATERI ASKEB PADA MASA KLIMATERIUM/MENOPAUSE

Pengertian klimaterium

Klimakterium merupakan periode peralihan dari fase reproduksi menuju fase usia tua (senium) yang terjadi akibat menurunnya fungsi generatif ataupun endokrinologik dari ovarium. (Baziad, 2003, hal 1)

Klimakterium yaitu fase peralihan antara pramenopause dan pascamenopause. (Baziad, 2003, hal 1)

Klimakterium adalah fase terakhir dalam kehidupan wanita atau setelah masa reproduksi berakhir. (Kasdu, 2002, hal 2 )

Klimakterium adalah masa peralihan yang dilalui seorang wanita dari periode reproduktif ke periode non reproduktif. (Kasdu, 2002, hal 2 )

Klimakterium adalah masa yang bermula dari akhir masa reproduksi sampai awal masa senium dan terjadi pada wanita berumur 40 – 65 tahun.

(¶ 1, www.dkk-bpp.com)

Sehingga dapat disimpulkan bahwa klimekterium adalah periode peralihan dari akhir masa reproduksi sampai awal masa senium yang terjadi akibat menurunnya fungsi generatif ataupun embriologik dari ovarium dan terjadi pada wanita berumur 40 -65 tahun.

Pengertian menopause

Menopause adalah kondisi fisiologis dimana terjadi berakhirnya menstruasi yang rata-rata terjadi pada umur 51 tahun.

Tanda-tanda awal dari klimaterium dan menopause

Tanda awal klimaterium

Masa ini ditandai denngan berbagai macam keluhan endokrinologis dan vegetatif. Yaitu;

Terjadi perubahan pada ovarium seperti sclerosis pembuluh darah, berkurangnya jumlah folikel dan menurunnya sintesis steroid seks. Lalu henti haid.

Dan ditandai dengan turunnya kadar estrogen dan meningkatnya pengeluaran gonadotropin.

Tanda awal menopause

Perubahan kejiwaan

Perubahan yang dialami oleh wanita dengan menjelang menopause adalah; merasa tua, mudah tersinggunga, mudah kaget sehingga jantung berdebar, takut tidak bias memenuhi kebutuhan seksual suami, rasa takut bahwa suami akan menyeleweng. Keinginan seksual menurun dan sulit mencapai kepuasan (otgasme), dan juga merasa tidak berguna dan tidak menghasilkan sesuatu, merasa memberatkan keluarga dan orang lain.

Perubahan fisik

Pada perubahan fisik seorang wanita mengalami perubahan kulit. Lemak bawah kulit menghilang sehingga kulit mengendor, sehingga jatuh dan lembek. Kulit mudah terbakar sinar matahari dan menimbulkan pigmentasi dan menjadi hitam.pada kulit tumbuh bintik hitam, kelenjar kulit kurang berfungsi sehingga kulit menjadi kering dan keriput.

Karena menurunnya estrogen dapat menimbulkan perubahan kerja usus menjadi lambat, dan mereabsorbsi sari makanan makin berkurang. Kerja usus halus yang semakin berkurang maka akan menimbulkan gangguan buang iar besar berupa obstipasi.

Perubahan yang terjai pada alat genetalia meliputi liang senggama terasa kering, lapisan sel liang senggama menipis yang menyebabkan mudah terjadi (infeksi kandung kemih dan liang senggama). Daerah sensitive makinsulit untuk dirangsang. Saat berhubungan seksual dapat menjadi nyeri.

Perubahan pada tulang terjadi oleh karena kombinasi rendahnya hormon paratiroid. Tulang mengalami pengapuran, artinya kalium menurun sehingga tulang keropos dan mudah terjadi patah tulang trutama terjadi pada persendian paha.

Gangguan klimaterium dan menopause

a. Gangguan pada klimakterium ialah

1) Gangguan neurovegetatif, yang disebut juga gangguan vasomotorik dapat muncul sebagai gejolak panas (hot flushes), keringat banyak, rasa kedinginan, sakit kepala, desing dalam telinga, tekanan darah yang goyah, berdebar-debar, susah bernafas, jari-jari atrofi dan gangguan usus.

2) Gangguan psikis muncul dalam bentuk mudah tersinggung, depresi, kelelahan, semangat berkurang, dan susah tidur. Gangguan somatic, selain gangguan haid atau amenorea, mencakup pula kolpitis atrofikans, ektropium treter, osteoporosis, atritis, aterosklerosis, sclerosis koroner, dan adipositas.

b. Gangguan menopause ialah jadwal menopause

1) Menopause premature

• Terhentinya haid pada umur 40 tahun

• Terdapat gejal premenopause hot flushes, kenaikan gonadotropin

2) Menopause terlambat

• Berhentinya haid setelah umur 55 tahun

• Terdapat gejala menopause

c. Kelainan organic pada masa menopause

Dengan rangsangan estrogen terus-menerus tanpa selingan progesterone memberikan peluang terjadinya keadaan patologis organ tujuan estrogen dalam bentuk :

1) Perdarahan disfungsional semakin meningkat

2) Terjadi perubahan alat genetalia menjadi tumor jinak; mioma uteri, polip endometrial, polip servikal

3) Karsinoma korpus uteri

4) Keganasan payudara

Manajemen kebidanan klimakterium dan menopause

Bagaimana bidan menghadapi masalah klimaterium di tengah masyarakat. Seperti dikemukakan bahwa hanya sekitar 25 % wanita mengeluh karena terjadi penurunan estrogen tubuh dan memerlukan tambahan hormon sebagai substitusi. Pemberian substitusi hormon tanpa diikuti pengawasan ketat adalah berbahaya, karena bidan dapat mengambil langkah :

• Melakukan KIEM sehingga wanita denngan keluhan menopause dapat memeriksakan diri ke dokter puskesmas

• Bidan berkonsultasi dengan dokter puskesmas atau dokter ahli

• Setelah pengobatan, bidan dapat meneruskan pengawasan

• Bidan dapat merujuk penderita ke Rumah Sakit

 

Referensi :

Wiknjosastro, H, 1997, Wanita dalam Berbagai Masa Kehidupan, edisi ke-3, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta.

Baziad, A, 1993, Endokrinologi Ginekologi, Kelompok Studi Endokrinologi Reproduksi Indonesia, Jakarta.

Wiknjosastro, H, 1997, Endokrinologi Reproduksi Pada Wanita, edisi ke-3, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta.

MATERI ASKEB PADA RADANG GENETALIA INTERNA

CERVIKSITIS

Infeksi serviks kemungkinan lebih sering terjadi dari pada yang terlihat. Mengingat peristiwa laserasi umum dijumpai, dan serviks sendiri biasanya ditempati kuman-kuman yang patogen. Lagipula, mengingat laserasi serviks yang sering langsung meluas ke dalam jaringan di dasar ligamentum kardinale, infeksi tersebut mudah menyebabkan limfangitis, para metritis dan bakteremia.

Pengobatan

Luka yang terinfeksi, eperti halnya luka bedah yang terinfeksi lainnya, harus diatasi dengan pemasangan drainase. Salah satu terapi kombinasi antibiotik berspektrum luas seperti dibicarakan diatas, harus diberikan pada keadaan ini. Rasa nyeri diringankan dengan penggunaan preparat analgesik yang efektif dan bila terjadi retensi urin, pemasangan indwelling catheter harus dilakukan.

ENDOMETRITIS

Jenis infeksi Yang paling sering dialami ialah endometritis. Kuman-kuman memasuki endometrium, biaanya pada luka bekas insersio lpasenta, dan dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh endometrium. Pada infeksi dengan kuman yang tidak seberapa patogen, radang terbatas pada endometrium. Jaringan desidua bersama dengan bekuan darah menjadi nekrotis dan mengeluarkan getah berbau dan terdiri atas keeping-keping nekrotis serta cairan. Pada batas antara daerah yang meradang dan daerah sehat terdapat lapisan terdiri atas leukosit-leukosit. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran.

Gambaran klinik tergantung dari jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita, dan derajata trauma pada jalan lahir. Kadang-kadang locea tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta, dan selaput ketuban. Kedaan ini dinamakan lokiometra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu yang segera hilang setelah rintangan diatasi. Uterus pada endometritis agak membesar, serta nyeri pada perabaan, dan lembek. Pada endometritis yang tidak meluas penderita pada hari-hari pertam merasa kurang sehat dan perut nyeri. Mulai hari ke 3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu normal kembali. Lochea pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau. Tetapi hali ini tidak boleh menimbulakan anggapan bahwa terjadi infeksi betar, tetapi infeksi berat kadang-kadang disertai lochea yang sedikit dan tidak berbau.

ENDOMETRIOSIS

Endometriosis yang aktif dan berat merupakan komplikasi yang tidak sering ditemukan pada kehamilan. Namun demikian, wanita dengan endometriosis dapat hamil dan dalam perjalanan kehamilannya, kadang-kadang meninjukan gejala klinis yang aneh serta sangat mengganggu.

Komplikasi yang langka dalam endomeriosis ovarium dalam kehamilan adalah ruptura kista endometrium dengan gambaran klinis yang memberikan kesan ke arah pielonefritis, apendisitis akut atau kehamilan tuba. Gambaran klinis lainnya adalah pembesaran endometrioma pelvic yang menyebabkan distosia persalianan. Namun demikian, sebagian besar wanita dnegan endometriosis yang tidak dikenali, jelas dapat menjalani kehamilan dan persalinannya tanpa komplikasi apapun.

MYOMETRITIS

PARAMETRITIS (SELLULITIS PELVIKA)

Sellulitis pelvika ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai dengan rasa nyeri dfi kiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut dicurigai terhadap kemungkinan selulitis pelvika. Pada perkembangan proses peradangan lebih lanjut gejala-gejala sellulitis pelvika menjadi lebih jela. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri di sebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul, dapat meluas ke berbagai jurusan. Di tengah-tengan jaringan yang meradang itu bisa tumbuh abses. Dalam hal ini, suhu yang mula-mula tinggi secara menetap menjadi naik-turun disertai dengan menggigil. Penderita nampak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri. Dalam 2/3 kasus tidak terjadi pembentukan abses, dan suhu menurun dalam beberapa minggu. Tumor di sebelah uterus mengecil sedikit demi sedikit, dan akhirnya terdapat parametrium yang kaku.

Jika terjadi abses, nanah harus dikeluarkan karena selalu ada bahaya bahwa abses mencari jalan ke rongga perut yang menyebabkan peritonitis, ke rectum, atau ke kandung kencing.

ADNEXITIS

Pada infeksi masa puerperalis, kelainan yang mengenai tuba falopi seringkali hanya perisalpinitis tanpa diikuti oklusi tuba, sterilisasi di kemudian hari dan kemandulan. Salpingitis primer karena penyakit gonore selama masa puerperalis jarang ditemukan. Abses ovarium dapat terjadi sebagai komplikasi infeksi masa puerpuralis yang munkin akibat invasi bakteri melalui ruptura selubung ovarium. Abses biasanya unilateral dan pasien biasanya datang 1 sampai 2 minggu setelah melahirkan. Pada banyak kasus, ruptura bases akan menyebabkan peritonitis tampak jelas, tindakan yang dilakukan pada mulanya berupa pemberian preparat entibiotik intravena saja, tetapi drainase biasanya juga diperlukan dan juga bias mendorong dilakukannya eksplorasi bedah.

PERITONITIS

Penyulit ini jarang dijumpai apabila terapi segera diberikan, akan tetapi nisa ditemukan pada pasien infeksi pascasesio sesarea apabila terjadi nekrosis dan terlepasnya insisi, dan juga bias terjadi karena meluasnya endometritis. Tetapi juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforotis dan sellulitis pelvika. Selanjutnya, ada kemungkinan bahwa abses pada sellusitis pelvika mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan menyebabkan peritonitis. Peritonitis juga kadang dijumpai pada wanita dengan riwayat SC dan menjalani persalinan pervaginam.

Secara klinis, peritonitis nifas mirip dengan peritonitis bedah, kecuali bahwa rigidaitas abdomen biasanya kurang meninjol karena pada kehamilan terjadi peregangan abdomen. Peritonitis, yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada daerah pelvis. Gejalanya tidak seberat pada peritonitis umum, penderita demam, nyeri perut bagian bawah, yaitu karena distensi usus yang hebat terjadi karena ileus paralitik. Tetapi keadaan umum tetap baik. Pada pelvioperitonitis bias terjadi pertumbuhan bases. Nanah yang biasanya terkumpul dalam kavum Douglas harus di keluarkan dnegan kolpotomi posterior untuk mencegah keluarnya melalui rectum atau kandung kencing.

Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen dan merupakan penyakit berat. Suhu mneingkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri ada defense musculire. Muka menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingain; terdapat apa yang dinamakan facies hippocratica.

Kausa peritonitis generalisata perlu diidentifikasi. Apabila infeksi dimulai di uterus dan kemudian ke peritoneum, terapi biasanya bersifat medis. Sebaliknya, peritonitis akibat lesi usus atau nekrosis insisi uterus sebaiknya diterapi secara bedah. Terapi antimikroba dilanjutkan.

Penanganan perimetritis :

a. Pasang selang nasogastrik

b. Infus cairan Ringr Laktat

c. Berikan antibiotik kombinasi, sampai 48 jam bebas panas

• Ampisilin 2 g I.V. tiap 24 jam

• Ditambah gentamisin 5 mg/kg .I.V. tiap 24 jam

• Ditambah metronidasol 500 mg I.V. tiap 8 jam

d. Jika perlu lakukan laparatoni untuk drainase

PELVIKSISTIS

Meskipun segera dilakukan pengobatan antibiotika yang tepat untuk mengatasi metritis, kadang-kadang suatu flegmon parametrium akan mengalami supurasi sehingga terbentuk massa benjolan pada ligamentum latum yang berfluktuasi dan bias menonjol diatas ligamentum inguinale pouparti. Dalam keadaan ini, wanita tersebut mungkin tidak menunjukan gejala yang semakin memburuk tetapi panas tetap bertahan. Begitu trdapat ruptura abses ke dalam kavum peritonii, peritonitis yang bias membawa kematian dapat terjadi. Kemungkinan lebih besar lag, trjadi robekan ke arah anterior sehingga tidak terjangkau dengan tindakan drainase lewat jarum yang diarahkan oleh tomografi komputer. Kadang-kadang robekan terjadi ke arah posterior lewat ruang retroperitonium ke dalam septum rektovaginalis di mana drainase operatif mudah di laksanakan.

KELAINAN PADA OVARIUM

SALPINGITIS AKUT

Salpingitis menjalar ke ovarium hingga juga terjadi oophoritis. Salpingitis dan oophoritis diberi nama adnexitis.

Etiologi :

Paling sering disebabkan oleh gonococcus, disamping itu oleh staphylococ, streptococ dan bac tbc.

Infeksi dapat terjadi sebagai berikut :

Naik dari cavum uteri

Menjalar dari alat yang berdekatan seperti dari appendiks yang meradang

Haematogen terutama salpingitis tuberculosa

Salpingitis biasanya bilateral.

Gejala-gejala

Demam tinggi dengan menggigil, pasien sakit keras.

Nyeri kiri dan kanan di perut bagian bawah terutama kalau ditekan

Defense ki dan ka di atas lig Poupart

Mual dan muntah; jadi ada gejala abdomen akut karena terjadi perangsangan peritoneum.

Kadang-kadang ada tenesmi ad anum karena proses dekat pada rectum atau sigmoid.

Toucher : nyeri kalau portio digoyangkan, nyeri kiri dan kanan dari uterus, kadang-kadang ada penebalan dari tuba, tuba yang sehat taj dapat diraba.

Harus diketahui bahwa tekanan pada ovarium selalu menimbulkan nyeri walaupun tidak meradang.

MENORRHAGI DAN DYSMENORRHOE

Sekunder biasanya terjadi oophoritis. Salpingoophoritis lebih sering disebut adnexitis.

Karena adnexitis, terjadi perlekatan dengan usus yang dapat diraba sebagai tumor. Jadi tumor ini merupakan tumor radang dan disebut “adnex tumor”. Tumor dari ovarium sendiri disebut tumor ovarium. Kadang-kadang terjadi pyosalpinx dan pyovarium dan setelah pus diabsorpsi terjadi hydrosalpinx.

Kalau tekanan dalam hydrosalpinx cukup besar maka cairan dapat mencari jalan ke dalam cavum uteri, maka sekonyong-konyong keluar cairan dari genitalia penderita (hydrops tubae prfluens).

Kejadian ini dapat berulang. kalau nanah masuk ke dalam rongga perut melalui ostium tubae abdominale maka terjadilah pelveoperitonitis atau Douglas abses. Douglas abses dan peritonitis kadang-kadang terjadi karena pyoslapinx pecah walaupun ini jarang terjadi.

Peritonitis gonorrhoica mempunyai tendens untuk tetap terlokalisasi tidak menjadi peritonitis umum. Pada salpingitis gonorrhoica tubae yang menjadi berat jatuh dalam cavum Douglasi dan menimbulkan retroflexio uteri fixata. Kalau ini terjadi maka pada toucher cavum Douglasi nyeri tekan dan juga pada coitus penderita mengalami perasaan nyeri (dyspareunia).

DD :

Kehamilan ektopik : biasanya tidak ada demam. LED tidak meninggi dan lekositose tidak seberapa.

Kalau tes kehamilan positif (Galli Mainini) maka adnexitis dapat dikesampingkan tapi kalau negatif keduanya mungkin.

Appendicitis : tempat nyeri tekan lebih tinggi (Mc. Burney).

Terapi :

Istirahat, broad spectrum antibiotica dan corticosteroid.

Usus harus kosong

ADNEXITIS KRONISA

Adnexitis kronis terjadi :

Sebagai lanjutan dari adnexitis akut.

Dari permulaan sifatnya kronis seperti adnexitis tuberculosa.

Gejala-gejala

Anamnetis telah menderita adnexitis akut

Nyeri di perut bagian bawah : nyeri ini bertambah sebelum dan sewaktu haid. Kadang-kadang nyeri di pinggang atau waktu buang air besar

Dysmenorrhoe

Menorrhagi

Infertilitas

Diagnosa

Dengan toucher dapat teraba adnex tumor. Adnex tumor ini dapat berupa pyosalpinx atau hydrosalpinx. Karena perisalpingitis dapat terjadi perlekatan dengan alat-alat sekitarnya. LED meninggi dan biasanya ada leko disebut salpingitis isthmica nodosa dimana proses radang hanya nampak pada pars isthmica berupa tonjolan kecil yang dapat menyerupai myoma. Adnexitis pada seorang virgo harus menimbulkan kecurigaan pada adnexitis tuberculosa.

DD :

Kalau adnex tumor bilateral maka diagnosa boleh dikatakan pasti.

Adnex tumor yang unilateral harus dibedakan dari :

Appendicitis chronica

Kehamilan ektopik yang terganggu (abortus tubair)

Terapi :

Antibiotika dan istirahat

UKG

Kalau tidak ada perbaikan dipertimbangkan terapi operatif.

TUMOR OVARIUM

Berbagai jenis tumor ovarium pada komplikasi kehamilan. Insidensi tumor pada kelainan sel yang terjadi pada kelompok beberapa usia diketahui melalui pemeriksaan USG secara rutin selama kehamilan. Dari hasil kilas balik KAT 2 dan kawan-kawan tahun 1983 menemukan rata-rata insidensi pada masa adneksal 1-200 kehamilan. Whitecar dan asosiasi (1999) melaporkan insidensi pada 1300 kehamilan dengan tumor dilakukan laparotomi. Koonings dan rekan kerja (1988) dilaporkan pada satu neoplasma adneksa pada setiap 197 persalinan sectio caesarea.

Kebanyakan tumor ovarium dan gangguan sel Whitecar dan asosiasi (1999) menjelaskan 130 masa adneksal diagnosa selama kehamilan, 30% terutama gangguan sel 28% serous or mucinous cystadenomas, 13% korpus luteal dan 70% gangguan sel lainnya.

Manajemen

Di awal kehamilan ovarium akan membesar, mengakibatkan suspeksi pada neoplasma. Ovarium berkurang 6 cm dari biasanya dan dari bentuk corpus lotium. Thornton and Wells (1987) melaporkan dari hasil USG pendekatan konservatif pada manajemen gangguan ovarium dapat berdasarkan pada karakteristik USG. Mereka merekomendasikan penelitian pada kehamilan diameternya meningkat 10 cm karena meningkatnya bahaya pada kanker dan membesarnya sel-sel pembesaran sel 5 cm atau kurang dapat dikesampingkan sendiri pembesaran sel harus diketahui jika memiliki pendekatan pada pembesaran sel sederhana. Whiccer dan rekan kerja perhatian karena setengah dari 41 wanita dengan pembesaran sel sederhana memiliki neoplasma.

SALPINGITIS

Salpingitis ialah karena infeksi gonore dapat terjadi dalam trimester pertama kehamilan, akibat migrasi bakteri ke atas dari serviks hingga mencapai endosalping. Begitu terjadi penyatuan korion dengan desidua sehingga menyumbat total kavum uteri alam trimester kedua, lintasan untuk penyebaran bakteri yang asenderen ini melalui mukosa uterus akan terputus.

Dengan demikian inflamasi akut primer pada tuba dan ovarium jarang terjadi sekalipun abses tubo-ovarium dapat terbentuk dalam struktur yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan itu.

Organisme penyebab infeksi ini diperkirakan mencapai tuba falopii dan ovarium yang sebelumnya sudah cidera tersebut lewat cairan limfe atau darah. Pada salah satu dari dua kasus tubo-ovsrium yang menjadi komplikasi dalampertengahan kehamilan dan di rawat di RS dilakukan histerektomi di samping salpingo-ooforektomi bilateral. Pasien dapat disembuhkan setelah menjalani proses kesembuhan pasca bedah yang sangat rumit.

Walaupun terjadi perlekatan yang luas dalam rongga panggul akibat infeksi pelvis sebelumnya, pasien biasanya tidak mengalami efek yang selama kehamilannya.

Senin, 09 Mei 2011

MATERI ASKEB IV TENTANG KONSEP DASAR KELAINAN PRESENTASI DAN POSISI

Konsep dasar kelainan presentasi dan posisi

1. Puncak kepala

2. Dahi

3. Muka

4. Presentasi oksipilo posterior

Konsep Dasar

Malposisi merupakan posisi abnormal dari vertex kepala janin (dengan ubun-ubun kecil sebagai penanda) terhadap panggul ibu. Malpresentasi adalah semua presentasi lain dari janin selain presentasi vertex. Janin dalam keadaan malpresentasi dan malposisi sering menyebabkan partus lama/partus macet.

1. PRESENTASI PUNCAK KEPALA

Pada persalinan normal, saat melewati jalan lahir kepala janin dalam keadaan flexi dalam keadaan tertentu flexi tidak terjadi, sehingga kepala deflexi. Presentasi puncak kepala disebut juga preesentasi sinput terjadi bila derajat deflexinya ringan, sehingga ubun-ubun besar merupakan bagian terendah. Pada presentasi puncak kepala lingkar kepala yang melalui jalan lahir adalah sikumfrensia fronto oxipito dengan titik perputaran yang berada di bawah simfisis adalah glabella.

Etiologi :

1. Kelainan panggul

2. Kepala berbentuk bulat

3. Anak kecil/mati

4. Kerusakan dasar panggul

Penanganan

  • Usahakan lahir pervaginam karena kira-kira 75 % bisa lahir spontan
  • Bila ada indikasi ditolong dengan vakum/forsep biasanya anak yang lahir di dapati caput daerah VVB

Komplikasi

Ibu :

Robekan jalan lahir yang lebih luas

Anak:

Karena partus lama dan molase hebat sehingga mortalitas anak agak tinggi

Mekanisme persalinan

Mekanisme persalinan sama dengan POPP, perbedaannya : pada presentasi puncak kepala tidak terjadi fleksi kepala yang maksimal, sedangkan lingkaran kepala yang melalui jalan lahir adalah sirkumferensia frontooksipitalis dengan titik perputaran yang berada dibawah simpisis adalah glabella.

2. PRESENTASI DAHI

Presentasi dahi adalah posisi kepala antara flexi dan deflexi, sehingga dahi merupakan bagian terendah. Posisi ini biasanya akan berubah menjadi letak muka/letak belakang kepala.

Kepala memasuki panggul dengan dahi melintang/miring pada waktu putar paksi dalam, dahi memutar kedepan depan dan berada di bawah arkus pubis, kemudian terjadi flexi sehingga belakang kepala terlahir melewati perinerum lalu terjadi deflexi sehingga lahirlah dagu

Etiologi :

1. Panggul sempit

2. Janin besar

3. Multiparitas

4. Kelainan janin

Ex : anansefalus

5. Kematian janin intra uterin

Diagnosis

1. Pemeriksaan luar seperti pada presentasi muka , tapi bagian belakang kepala tidak seberapa menonjol.

2. DJJ terdengar dibagian dada, disebelah yang sama dengan bagian-bagian kecil janin.

3. Pada persalinan : kepala janin tidak turun ke dalam rongga panggul bila pada persalinan sebelumnya normal.

4. Periksa dalam : meraba sutura frontalis, ujung satu teraba UUB dan ujung lain teraba pangkal hidung dan lingkaran orbita., mulut dan dagu tidak teraba.

Penanganan

Presentasi dahi dengan ukuran panggul dan janin yang normal, tidak dapat lahir spontan pervaginam, jadi lakukan SC (janin hidup). Janin mati pembukaan belum lengkap  SC, pembukaan lengkap Kraniotomi.

Komplikasi

Ibu :Partus lama dan lebih sulit, bisa terjadi robekan yang hebat dan ruptur uteri

Anak: Mortalitas janin tinggi

Mekanisme Persalinan

Kepala masuk melalui PAPdengan sirkumferensia maksilo-parietalis dan dengan sutura frontalis melintang / miring.Setelah terjadi moulage dan ukuran terbesar kepala telah melalui PAP ,dagu memutar ke depan. Setelah dagu didepan dengan fosa kanina sebagai hipomoklion terjadi fleksi sehingga UUB,dan belakang kepala melewati perineum.Kemudian terjadi dfleksi sehingga mulut dan dagu lahir dibawah simpisis. Yang ,menghalangi presentasi dahi untuk menjadi presentasi muka , biasanya terjadi karena moulage dan kaput sucsedaneum yang besar padadahi waktu kepala memasuki panggul, sehingga sulit terjadi penambahan defleksi .

3. PRESENTASI MUKA

Disebabkan oleh terjadinya ekstensi yang penuh dari kepala janin. Yang teraba muka bayi = mulut, hidung, dan pipi

Primer bila terjadi sejak kehamilan, sekunder bila terjadi pada proses persalinan.

Diagnosis :

1. Tubuh janin dalam keadaan fleksi, sehingga pada pemeriksaan luar dada akan teraba punggung.

2. bagian kepala menonjol yaitu belakang kepala berada di sebelah yang berlawanan dengan letak dada.

3. Didaerah itu juga dapat diraba bagian-bagian kecil janin dan DJJ lebih jelas.

4. Periksa dalam meraba dagu, mulut, hidung, pinggir orbita.

Etiologi

- Panggul sempit

- Janin besar

- Kematian intrauterine

- Multiparitas

- Perut gantung

- Janin ansefalus dan tumor di leher bagian depan

Dagu merupakan titik acuan dari posisi kepala, sehingga ada presentasi muka dagu anterior dan postorior.

- Presentasi muka dagu anterior posisi muka fleksi

- Presentasi muka dagu posterior posisi muka defleksi max

Penanganan

Dagu anterior

a. Bila pembukaan lengkap

  • Lahirkan dengan persalinan spontan pervaginam
  • Bila kemajuan persalinan lambat lakukan disitoksin drip
  • Bila kurang lancar, lakukan forseps

b. Bila pembukaan belum lengkap

Tidak didapatkan tanda obtuksi, lakukan oksitosin drip. Lakukan evaluasi persalinan sama dengan persalinan verteks

Dagu Posterior

  • Bila pembukaan lengkap maka SC
  • Bila pembukaan maka lengkap, lakukan penilaian penurunan rotasi, dan kemajuan persalinan, jika macet maka SC
  • Jika janin mati maka Kraniotomi

Mekanisme Persalinan

Kepala turun melalui PAPdengan sirkumferensiatrakelo-parietalis dan dengan dagu melintang / miring.Setelah muka mencapai dasar panggul terjadi PPD, sehingga dagu memutar kedepan dan berada di bawah arkus pubis.Dengan daerah submentum sebagai hipomoklion kepala lahir dengan gerakan fleksi sehingga dahi, UUB, belakang kepala melewati perineum.Setelah kepala lahir terjadi PPL dan badan janin lahir seperti pada presentasi kepala.kalau dagu bedara dibelakang pada waktu putaran dalam dagu harus melewati jarak yang jarak yang lebih jauh supaya dapat berada di depan. Kadang dagu tidak memutar ke depan dan tetap berada di belakang.Keadaan ini disebut posisi mento posterior persisten dan janin tidak dapat lahir spontan, kecuali bila janin mati atau kecil.Hal ini karena kepala sudah berada dalam fleksi maksimal dan tidak mungkin menambah defleksinya lagi, sehingga kepala dan bahu terjepit dalam pangguldan persalinan tidak akan maju.

4. PRESENTASI OCCIPITO POSTERIOR

Pada persalinan presentasi belakang kepala, kepala janin turun melalui PAP dengan sutura sagitalis melintang/miring, sehingga ubun-ubun kecil dapat berada di kiri melintang, kanan melintang, kiri depan, kanan depan, kiri belakang/kanan belakang. Dalam keadaan flexi bagian kepala yang pertama mencapai dasar panggul adalah Occiput. Occiput akan memutar kedepan karena dasar panggul dan muculus levator aninya mementuk ruangan yang lebih sesuai dengan occiput. Keadaan VVK dibelakang dianggap <>

  • Diameter antero posterior panggul lebih panjang dari diameter transversa Ex : panggul antiopoid
  • Segmen depan Menyempit Ex : panggul android
  • Otot-otot dasar panggul yang lembek pada multi para
  • Kepala janin yang kecil dan bulat

Penanganan

  • Lakukan pengawasan dengan seksama dengan harapan dapat lahir sontan pervaginam
  • Tindakan baru dilakukan jika kalla II terlalu lama/ada tanda-tanda bahaya terhadap janin
  • Pada persalinan dapat terjadi robekan perenium yang teratur atau extensi dari episiotomi
  • Periksa ketuban. Bila intake, pecahkan ketuban
  • Bila pesisi kepala > 3/5 diatas PAP atau diatas 2 maka SC
  • Bila pembukaan serviks belum lengkap dan tidak ada tanda obstruksi, beri oksitosin drip
  • Bila pembukaan lengkap dan tidak ada kemajuan pada fase pengeluaran, ulangi apakah ada obstruksi. Bila tidak ada tanda obstruksi oksitosin drip
  • Bila pembukaan lengkap dan kepala masuk sampai tidak kurang 1/5 atau (0) maka E.V atau forseps
  • Bila ada tanda obstruksi/gawat janin maka SC

http://www.pendidikan-kesehatan.co.cc/2010/11/konsep-dasar-kelainan-presentasi-dan.html

http://infobidanfitri.blogspot.com/2009/03/kelainan-presentasi-dan-posisi-janin.html

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More