Rabu, 09 Maret 2011

TINJAUAN KASUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

TINJAUAN KASUS
PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

I.         IDENTITAS :
       Nama                        :    Mukayah
       Jenis Kelamin           :    Perempuan
       Umur                        :    23 tahun
       Pekerjaan                  :    Karyawan toko
       Alamat                      :    Sumombito – Jombang
       Agama                      :    Islam
       Tanggal Pengkajian   :    03 Desember 2001
       Tanggal MRS           :    12 November 2001
       Register No              :    10094380
       Informan                  :    Ibu penderita
       DX Medis                :    Skizofrenia Hebefrenik Berkelanjutan

II.      ALASAN MRS/KELUHAN UTAMA
       Klian ngomel-ngomel, ketawa-ketawa sendiri, dan jalan-jalan terus atau selalu mondar-mandir tanpa tujuan hal ini sudsah berlangsung selama 3 hari, Klien tidak mau makan sudsah 3 hari yang lalu dan tidak tidur sudah 2 hari yang lalu, jika klien jalan-jalan tidak bisa pulang kalau tidak di jemput. Klien pernah tidur di tengah jalan 4 hari yang lalu, jika ditanya katanya ingin mati, 2 hari yang lalu klien mulai tidak mau mandi sehingga dimandikan ibunya.

III.   FAKTOR PREDISPOSISI :
       Menurut ibu klien, klien pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu yaitu tahun 1995 dan 1997 serta tahun 1999. Selama sakit klien ngamar di RSUD Dr. Soetomo.
à Setelah keluar dari rumah sakit klien sembuh dan dapat beradaptasi di masyarakat tanpa gejala-gejala gangguan jiwa. Pada tanggal 8 – 10 – 2001, klien seharusnya kontrol ke poli jiwa, tidak kontrol dan obatnya tidak mau minum, pilnya dibuang atau dibakar.
à Klien tidak pernah melakukan atau mengalami maupun menyaksikan penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga atau tidakan kriminal.
à Anggota keluarga lainnya tidak ada yang mengalami gangguan jiwa.
à Pengalaman klien yaitu hidup di dalam keluarga yang sangat kekurangan dan banyak saudaranya. Ibunya sering marah-marah dan sering bertengkar sehingga klien selalu mikir dan merasa sangat sedih.

IV.   PEMERIKSAAN FISIK
       1.  Tanda vital : TD : 100/80 mm Hg, Nadi :88 x / menit
            S = 36,5°C,     RR : 20 x / menit
       2.  Ukur      : TB = 147 cm,  BB = 43 kg
3.    Berat badan tetap sebelum masuk rumah sakit dengan di rumah.
4.    Klien mengeluh badan terasa lemas, pusing dan perut merasa tidak enak dan merasa malas.
 
1.    Konsep diri :
a.    Citra tubuh
                 Klien merasa seluruh tuhuhnya tidak ada yang disukai dan merasa tidak berguna.
            b.  Identitas diri
                 Klien baru saja menikah dapat 1 bulan
                 Di tempat kerja klien tidak senang dengna teman-temannya, karena sering cerewet dan selalu mengurusi orang lain.
            c.  Peran
                 Klien menyadari sebagai seorang isteri
d.   Ideal diri
                 Harapan klien ia bisa bekerja pagi dan ia berharap sebagai isteri yang baik.
e.    Harga diri
                 Klien merasa sangat kecil kalau dibandingkan dengan orang lain karena klien merasa sebagai anak orang yang tak mampu.
2.    Hubungan sosial
a.    Orang yang terdekat adalah ibunya.
b.   Peran serta dalam masyarakat (menurut adiknya). Klien sebelum sakit jarang ikut kegiatan yang ada di kampung. Bila ditanya kenapa klien menjawab malas dan enak tidur.
c.    Hambatan dalam berhubungan klien pendiam jarang berkumpul dengan teman-temannya suka menyendiri dan sering melamun.


3.    Spiritual
a.    Nilai dan keyakinan
                 Klien merasa gangguan jiwa atau sakit jiwa yang dialami karena stres.
b.    Kegiatan ibadah
                 Klien jarang melakukan sholat. Mengerjakan sholat kalau ingat saja.

I.         STATUS MENTAL
1.    Penampilan klien kurang rapi.
2.    Pembicaraan klien                  :  Lambat dan kadang-kadang blocking.
3.    Aktivitas motorik                   :Motorik meningkat, pasien sering jalan-jalan terus atau mondar-mandir tanpa tujuan.
4.    Alam perasaan                        :  Kadang-kadang pasien menunjukkan ketegangan yang berlebihan yang terjadi secara tiba-tiba.
5.    Afek                                          :   Dasar
6.    Interaksi selama wawancara   :  Kontak mata kurang.
7.    Persepsi                                  :  Kadang-kadang ia mendengar adanya suara-suara disekitarnya.
8.    Proses pikir :
a.  Bentuk pikir                       :  Non realistis
b.  Arus pikir                           :  Koheren kadang inkoheren
c.  Isi pikir                              :  Phobia
       9.  Tingkat kesadaran                  :  Kadang-kadang bingung
     10.  Memori                                   :  Gangguan daya ingat jangka pendek.
11.    Tingkat konsentrasi dan  berhitung :
-       Perhatian klien mudah berganti dan satu obyek ke obyek lain.
-       Tidak mampu berkonsentrasi.
-       Tidak mampu berhitung.
12.    Kemampuan penilaian
Gangguan kemampuan penilaian ringan.
13.    Daya tilik diri
Klien menyadari kalau dirinya sakit.



PROSES KEPERAWATAN UNTUK DX KEPERAWATAN KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL

PENERAPAN PROSES KEPERAWATAAN
KESEHATAN JIWA

KLIEN DENGAN MASALAH UTAMA KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL : MENARIK DIRI

Gambaran Kasus.
Klien Ny M, 23 tahun, anak ke – 2 dari 8 bersaudara, dari keluarga Bpk S dan Ibu S bertempat tinggal di Sumombito – Jombang, agama Islam. Klien masuk RS tanggal 12 – 11 – 2001, dengan keluhan utama klien sering ngomel-ngomel, ketawa-ketawa sendiri, dan jalan-jalan terus atau selalu mondar-mandir tanpa tujuan. Sejak umur 18 tahun klien sudah mengalami gangguan jiwa. Kebiasaan di rumah klien sering menyendiri, melamun dan tidak mempunyai teman. Sehingga jarang keluarganya mengajak klien berkomunikasi. Klien sering merasa dirinya tidak berguna karena tidak bisa membantu keluarganya dalam memenuhi kebutuhan adik-adiknya. Klien sering mendengar suara yang mengatakan disuruh jalan-jalan terus. Kemudian keluarga merasa tidak mampu untuk merawat dan akhirnya membawa klien ke RS Dr. Soetomo.

Masalah Keperawatan
1.    Interaksi sosial, kerusakan
2.    Perubahan sensori – perseptual
3.    Kekerasan, risiko tinggi
4.    Harga diri rendah kronis
5.    Intoleransi aktivitas
6.    Sindrom defisit perawatan diri
7.    Koping keluarga, inefektif : ketidakmampuan keluarga merawat klien di rumah.
Ketegangan peran pemberi perawatan.
 
Gambar : Pohon masalah kerusakan interaksi sosial : menarik diri.
       Diagnosa  keperawatan dari pohon masalah.
1.    Risiko tinggi melakukan kekerasan yang berhubungan dengan halusinasi pendengaran.
2.    Perubahan sensori perseptual : halusinasi pendengaran yang berhubungan dengan menarik diri.
3.    Kerusakan interaksi sosial : menarik diri yang berhubungan dengan harga diri rendah kronis.
4.    Sindrom defisit perawatan diri yang berhubungan dengan interaksi aktivitas.
5.    Ketegangan peran pemberi perawatan yang berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat pasien dirumah.


PROSES KEPERAWATAN UNTUK DX KE PERAWATAN KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL : MENARIK DIRI BERHUBUNGAN DENGAN HARGA DIRI RENDAH KRONIS

Nama Klien : Ny M

DX Medis    : Shizofrenia Hibefrenik
Ruang                : Jiwa C

No. CM        : 10094380

Tgl
No
DX
Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
INTERVENSI
Tujuan
Kriteria Evaluasi
3/12 /01
1
Kerusakan interaksi sosial : menarik diri b.d harga diri rendah kronis

Data Subyektif
-   Nggak mau, male saya ngantuk saat diajak bergabung dengan klien yang lain.
Umum.
-   Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal.

Khusus.
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya

Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, klien mau bergabung dengan klien lain, mau mengutarakan masalah yang dihadapi.

-   Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapiutik.
-   Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal


-   Kayaknya saya nggak bisa apa-apa waktu diajak bermain oleh raga bersama klien yang lain.
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek postif yang dimiliki.
Klien mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
-   Perkenalkan diri dengan sopan.
-   Tanyakan nama lengkap klien. Dan nama panggilan klien.





-   Saya malu kalau duduk bersama teman yang lain.
    Saya ini merasa kecil. Saat klien ditanya kenapa selalu menyendiri tidak mau bergabung dengan teman yang lain.
3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
    Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan.
-   Kemampuan yang dimiliki klien
-   Aspek positif keluarga.
-   Aspek positif lingkungan yang dimiliki klien.

-   Jelaskan tujuan pertemuan.
-   Jujur dan menepati janji.
-   Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
-   Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.



-   Klien sering menghindari ornag lain.
-   Bila bicara kontak mata jarang.
-   Hanya berbicara kalau ditanya, jawabnya singkat.
-   Tidak mau melakukan kegiatan kelompok.
-   Sulit mengambil keputusan.

2. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
    -  Setiap bertemu klien dihindarkan memberi penilaian negatif.
    -  Utamakan memberi pujian yang realistik.

3. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit.

Tgl
No DX
Jam
TINDAKAN KEPERAWATAN
3/12/01
1
07.00
Menyapa pasien, mendekat dengan pasien ada disamping pasien sambil senyum dan memperkenalkan diri, sikap pasien agak apatis dan tidak mau kontak mata.



-  Kemudian Makan Pagi Datang.
   Mempersilahkan klien untuk makan, ada reaksi daripasien, pasien mau makan sendiri tanpa bantuan, lalu minum obat dengan disuruh dan dibantu.



TX yang diberikan.
* Hal dol      2 x 2,5 mg
* Merlopam 2 x 2 mg
* Arkine       2 x 2 mg



-  Kemudian duduk di samping klien menanyakan nama klien, klien menjawab mukayat tanpa kontak mata. Lalu menanyakan nama panggilannya di jawab singkat dengan menyebutkan bagus.



-  Setelah itu menjelaskan tujuan pertemuan dengan klien yaitu membantu klien dalam memenuhi kebutuhannya.



­-  Mengajak klien untuk bergabung dengan teman-teman yang lain ikut berolah raga, klien menolak katanya malas.



Tgl
No DX
Jam
TINDAKAN KEPERAWATAN


09.00
Memberikan snack kacang ijo. Pasien mau meminumnya.



-  Pasien jalan-jalan terus tanpa tujuan kadang-kadang bicara nglantur, ditanya kenapa kok jalan-jalan terus katanya ada yang nyuruh.


12.00
-  Memberi makan/minum pasien. Pasien makan habis ¾ porsi. Minum 1 gelas.


13.00
Pasien istirahat tidur.
4/12/01
1
07.00
Menyapa pasien dengan senyum. Menanyakan pasien sudah mandi belum. Klien menjawab sudah di bantu atau di suruh katanya mandi sendiri hanya diantara oleh Ibu.



-  Menanyakan bagaimana tidurnya, pasien mengatakan enak tidur terus malam.



-  Membantu menyisir rambut klien.



-  Membantu klien makan pagi.
   Pasien makan habis 1 porsi makan sendiri. Minum 1 gelas.



Minum obat :
-  Haldol 2,5 mg.
-  Merlopam 2 mg
-  Arkine 2 mg  



-  Mengajak klien berkomunikasi dengan klien lain dari pada diam sendiri, klien mau duduk di samping klien lain tapi tidak mau bicara.



Tgl
No DX
Jam
TINDAKAN KEPERAWATAN


09.00
Memberikan snack kacang ijo. Kilen mau meminumnya habis. Mengajak omong-omong pasien apa hoby yang dimiliki klien. Klien mengatakan tidak punya hobi apa-apa, menanyakan apa kesenangannya pasien. Pasien mengatakan senang tidur. Menanyakan kepada pasien bagaimana ibadahnya. Pasien mengatakan jarang melakukan sholat. Sholat hanya kalau ingat saja. Pasien mengatakan pokoknya malas..



-  Memberitahu pasien kalau sholat itu wajib dan harus dikerjakan 5 kali sehari.



-  Mendekatkan diri pada Tuhan itu perlu supaya pikiran bisa tenang.



-  Pasien mau berknsentrasi dan mendengarkan.


12.00
Memberikan makan/minum kepada pasien. Pasien makan habis 1 porsi minum 1 gelas.
5/12/01
1
07.00
Mengapa pasien dengan senyum.



-  Menanyakan pasien sudah mandi belum.



­-  Pasien menjawab sudah mandi sendiri tanpa diantara ibu dan pasien sudah menyisir rambutnya.



­-  Pasien mengatakan kalau dirinya sudah sembuh dan ingin minta pulang karena ingin lebaran di rumah.



-  Kamu merespon dengan baik.



-  Membantu memberi makan/minum. Pasien makan sendiri habis 1 porsi. Minum 1 gelas..



Tgl
No DX
Jam
TINDAKAN KEPERAWATAN



-  Pasien minum obat tanpa di suruh.
   *  Haldol        2,5 mg
   *  Merlopam   2 mg
   *  Arkine        2 mg



-  Kemudian menyarankan kepada pasien untuk bergabung dengan teman-teman klien mengikuti terapi olah raga kalau ingin pulang.



-  Pasien mau mengikuti terapi olah raga. PX diajak senam tidak mau, diajak badminton bilang tidak bisa.



-  Klien mau duduk bersama teman yang lain sebentar. Tapi masih belum mau berkenalan dengan temannya.


09.00
Dokter visite PX diijinkan untuk pulang besok. Klien tampak senang dan mulai mau bercerita. Menanyakan kemampuan yang dimiliki klien, klien mau menjawab yaitu menyulam



-  Menuju klien, dan menyarankan kepada hobynya itu untuk diteruskan.



-  Mempersiapkan klien mau pulang.
   *  Menanyakan tentang makannya.
   *  Menanyakan tentang kemampuan BAB/BAK.
   *  Menanyakan mandinya.
   *  Menanyakan kemampuan berpakaian.
   *  Menanyakan istirahat dan tidur.
   *  Memberitahu cara meminum obat.



Tgl
No DX
Jam
TINDAKAN KEPERAWATAN



   *  Memberikan saran untuk tepat kontrolnya.
   *  Menanyakan aktivitas di rumah.
   *  Menanyakan aktivitas di luar rumah.
   *  Menanyakan penerimaan keluarga.
   *  Menanyakan penerimaannya oleh masyarakat.
6/12/01
1
07.00
Menyapa klien.



Menanyakan apakah sudah siap untuk pulang PX menjawab sudah siap ingin cepat-cepat pulang PX makan habis 1 porsi minum 1 gelas, diskusi dengan klien dan keluarga mengenai persiapan keluarga kalau klien pulang.


10.00
PX pulang.

PERAWATAN PASIEN DENGAN PENARIKAN DIRI
1.    Pengertian Penarikan Diri
               Penarikan diri (witdrawal) adalah suatu tindakan melepaskan diri, baik perhatian maupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung (isolasi diri). Penarikan diri sebagai  pola tingkah laku terdapat secara umum di klinik pada berbagai pasien dan bukan hnaya pada pasien dengan gangguan jiwa.
              Keadaan ini mungkin timbul sebagai reaksi pada masa kritis yang berlangsung sementara, dan dimanifestasikan dengan tingkah laku yang bermacam-macam yang menandakan adanya usaha pertahanan pada situasi yang gawat, pembatasan hubungan dengan dunia luar dari yang jarang atau hanya sekali-sekali sampai pada yang sering atau menetap. Penarikan diri juga merupakan bagian dari proses terjadinya skizofrenia.
              Pada mulanya pasien merasa dirinya tidak berharga lagi sehingga merasa tidak aman dalam berhubungan dengan orang lain. Biasanya pasien berasal dari lingkungan yang penuh kehangatan emosional dalam hubungan yang positif dengan orang lain terutama dengan tokoh ibu. Dalam situasi lingkungan yang demikian, seorang anak tidak mungkin membentuk penghayatan diri (self image), mempunyai rasa percaya diri, menentukan identitas diri, mengembangkan kepercayaan dalam berhubungan dengan orang lain dan mempelajari cara berhubungan dengan orang lain yang menimbulkan rasa aman.
              Seringkali pasien juga tidak dapat mengidentifikasikan diri dengan orang tua dari jenis seks yang sama sehingga peran dan identitas seksualnya menjadi kabur. Keadaan ini mengakibatkan pasien takut tidak diterima atau ditolak bila mencintai orang lain sehingga mengarahkan dorongan rasa cintanya pada diri sendiri secara berlebihan. Kepekaan ini menimbulkan pola cinta diri yang berlebihan (narcisism) dan pola menutup diri (introversi) yang mengakibatkan segala kegiatan kehidupan dan minatnya ditujukan langsung untuk pemuasan diri.
              Dunia merupakan alam yang tidak menyenangkan, sebagai usaha untuk melindungi diri, pasien menjadi pasif dan kepribadiannya semakin kaku (rigid). Pasien semakin tidak dapat melibatkan diri dalam situasi yang baru. Ia berusaha mendapatkan rasa aman tetapi hidup itu sendiri begitu menyakitkan dan menyulitkan sehingga rasa aman itu tidak tercapai. Hal ini menyebabkan ia mengembangkan rasionalisasi dan mengaburkan realitas dari pada mencari penyebab kesulitan serta menyesuaikan diri dengan kenyataan.
              Prinsip hidup yan nyata, yaitu melatih tingkat laku dan emosi dalam menghadapi kenyataan yang merupakan hal yang pokok dalam kehidupan tidak jelas baginya.
              Konflik antara kesuksesan dan perjuangan untuk meraih kesuksesan itu sendiri terus berjalan dan penarikan diri dari realitas diikuti dengan penarikan diri dari keterlibatan secara emosional dengan lingkungannya, yang menimbulkan kesulitan. Semakin pasien menjauhi kenyataan, semakin banyak kesulitan yang timbul dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain. Proses perkembangan kepribadian terus berlangsung sedangkan gambaran masa depan sangat menyakitkan sehingga mengakibatkan pasien menarik diri. Keadaan ini diikuti dengan regresi dan individu itu semakin tenggelam dalam pengalaman dan pola tingkah laku masa lalu. Pola regresi ini mempengaruhi keseluruhan atau pada beberapa aspek kepribadian saja yang menimbulkan tingkah laku yang primitif, antara lain pembicaraan yang autistik, tingkah laku yang tidak sesuai dengan gangguan asosiasi.
              Dengan adanya hambatan  pada perkembangan kepribadian, beberapa individu cenderung tidak mempunyai hubungan lagi dengan kenyataan pada masa pubertas atau dewasa muda yang diikuti dengan kemunduran yang progresif sifatnya.
              Di samping uraian di atas terdapat beberapa faktor yang menyebabkan dan mempengaruhi terjadinya gejala penarikan diri serta satu sama lainnya saling berkaitan.

2.    Gejala Penarikan Diri
              Pada umumnya tidak ada orang yang murni introvert atau extrovertnya. Setiap individu selalu memiliki kedua sifat itu, hanya ada yang lebih menonjol introvertnya dan yang lain lebih menonjol extrovertnya. Tidak semua yang introvert itu abnormal seperti halnya tidak semua yang extrovert itu normal. Pengertian normalis seseorang bergantung pada bagaimana individu itu mampu menilai dirinya sendiri, kemampuannya berfungsi secara intelektual, fisik dan emosional serta menilai dunia luar dan menentukan batasan hubungan dunia luar dengan dirinya sendiri.
              Seseorang yang cenderung mengembangkan pola penarikan diri sering mengalami kesukaran dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari individu itu tampak tenang, rajin belajar dan memberikan kesan tingkah laku yang baik. Beberapa individu cenderung melamun dan bila mereka tampil di masyarakat keterlibatannya selalu dalam bidang intelektual.
              Seseorang yang cenderung mengembangkan pola penarikan diri sering mengalami kesukaran dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari individu itu tampak tenang, rajin belajar dan memberikan kesan tingkah laku yang baik. Beberapa individu cenderung melamun dan bila mereka tampil di masyarakat keterlibatannya selalu dalam bidang intelektual.
              Gejala penarikan diri sebagai akibat regresi antara lain :
a.    Cara berpikir yang autistik, seperti anak-anak yang beranggapan bahwa antara dirinya dengan dunia luar tidak ada batas dan segala sesuatu itu mempunyai arti.
b.    Tidak dapat mengendalikan tingkah lakunya padahal seharusnya dapat dikoreksi dengan adanya pengaruh realitas.
c.    Tidak mampu membedakan simbol yang biasa dipakai oleh masyarakat (misalnya, bendera merah putih itu lambang negara Indonesia) dengan benda yang disimbolkan sendiri oleh pasien (kapsul merah putih diartikan negara Indonesia oleh pasien sehingga ia tidak mau minum kapsul itu).
          Gangguan kepribadiannya tampak pada tingkah laku motorik, cara berpikir dan reaksi emosionalnya. Tingkah lakunya sama sekali tidak sesuai dengan lingkungannya dan pasien sering duduk menyendiri dan melamun. Pasien sering mengekspresikan diri secara simbolik dengan sikap (posture) tertentu. Tingkah lakunya mungkin melawan segala pengaruh dari lingkungan. Kadang-kadang didapatkan fase overatif yang mungkin bersifat impulatif yang tidak jelas tujuannya bagi pengamat. Tingkah laku pasien secara keseluruhan menggambarkan penolakan (rejection) terhadap realitas dan hilangnya hubungan tingkah laku dengan kenyataan.
          Gangguan alam pikiran banyak dan bervariasi. Kejadian-kejadian diinterprestasikan secara autistik dari pada yang sebenarnya. Terdapat gangguan asosiasi, idenya melebur atau dipadatkan (kondensasi) yang tampak dengan adanya neologisme (pembentukan) kata-kata baru). Pikiran dan bahasanya sangat simbolik, satu kata dapat mempunyai arti yang luas. Keterbatasan atau kegagalan dapat terjadi pada proses berfikir dan berkomunikasi di mana hal yang spesifik diinterpretasikan sebagai sesuatu yang umum. Pikiran pasien dapat tiba-tiba terhambat atau tidak mampu berpikir (blocking). Tidak adanya rangkaian cara berpikir menyebabkan timbulnya inkoherensi dalam proses berpikir. Juga dapat terjadi gangguan isi pikiran yang ditandai dengan adanya waham dan halusinasi.
          Reaksi emosional pasien tidak adekuat, tidak sesuai dan apatis. Kadang-kadang pasien menunjukkan ketegangan yang berlebihan yang terjadi secara tiba-tiba. Reaksi ini dapat berlangsung bergantian atau sekaligus. Hal ini dapat dimengerti mengingat pasien berpikir secara autistik.
          Semua gejala ini tidak ditemukan sekaligus pada seseorang, tetapi berbeda manifestasinya bergantung  pada pengalaman masa lampaunya.
          Mungkin ada beberapa individu yang tidak jelas menunjukkan gejala pikiran yang kacau atau adanya stress emosional. Pasien ini tapak acuh tak acuh (indifferent) dan apatis terhadap lingkungan. Sikap apatis ini meningkat dan reaksi emosionalnya mendatar atau menjadi tumpul, sehingga pengobatan menjadi lebih sulit.
          Beberapa pasien minatnya berkurang, tidak berambisi dan menurut apa yang dikehendaki oleh lingkungannya. Mereka hanya sedikit memperdulikan kaidah (aturan) sosial dan kehidupan emosinya dangkal, tampak tidak bereaksi terhadap setiap tindakan atau  rangsangan dari luar. Tingkah lakunya yang kacau tidak jelas tampak. Seringkali pasien menjadi gelandangan (hobo), pelacur, pemabuk dan sebagainya yang tidak mengerti dirinya sakit.
              Secara tiba-tiba dapat terjadi tingkah laku yang kacau yang ditandai dengan sikap dungu (silliness), menyeringai (grimaces), sikap tubuh tertentu, waham dan halusinasi yang disebabkan alam fantasinya. Tingkah lakunya menjadi impulsif dan emosinya sangat tidak sesuai.
          Pada saat lain pasien dapat berpisah dari periode stupor ke gaduh gelisah (excitement). Tingkah laku yang impulsif tetapi stereotipik, halusinasi dan negativisme dipengaruhi lingkungan. Pasien beranggapan lingkungannya penuh mistik dan dipengaruhi oleh kekuatan dari luar yang merupakan pertentangan antara yang baik dengan yang jahat.
          Pada masa stupor,  pasien dapat mempertahankan satu posisi tubuh tertentu untuk waktu yang lama (katalepsi). Ada kalanya kelenturan tubuh pasien sedemikian rupa sehingga dapat dibentuk seperti lilin (waxy flexibility).
          Pada masa kecemasan yang memuncak (excited) tingkah lakunya dapat explosif dan secara tiba-tiba ia menyerang lingkungan atau melukai dirinya.
          Pada keadaan tertentu tubuh pasien dapat didorong atau dapat diatur oleh orang lain sedemikian rupa tanpa adanya penolakan tetapi di lain saat pasien menunjukkan sikap menolak terhadap segala tindakan yang dilakukan terhadapnya. Gangguan ini juga sering diwarnai dengan mekanisme proyeksi sehingga pasien akan mengembangkan kecurigaan dan ketakutan terhadap lingkungan.
3.    Perawatan Pasien dengan Penarikan Diri.
              Karena keadaan pasien yang menarik diri dari realitas, maka perawat harus bertanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan dasar, menumbuhkan kepercayaan dan mencari sebab mengapa pasien menarik diri dari realitas ini. Tugas perawat yang lain yang juga tidak mudah adalah menolong pasien berpartisipasi dalam pemeliharaan kesehatannya, mengadakan hubungan interpersonal dengan orang lain dan hidup bermasyarakat. Pusat perhatian perawat hendaknya pada diri pasien sendiri sebagai manusia seutuhnya dan bukan pada gejalanya walaupun dengan menganalisa tingkah lakunya dapat diketahui kebutuhan pasien agar dapat mengatasi gangguannya.
              Tindakan perawatan yang harus dilakukan yaitu :
a.    Menciptakan lingkungan yang terapeutik.
b.    Mengadakan hubungan interpersonal.
c.    Perawatan fisik.
d.   Melaksanakan program terapi dokter.
e.    Melindungi pasien.
f.     Rekreasi.
g.    Menggali latar belakang dan permasalahan serta membantu mengatasi masalahnya dan,
h.    Mengadakan hubungan dengan keluarga.

a.    Menciptakan lingkungan yang terapeutik.
              Perawatan pasien dengan penarikan diri harus didasari pada pendidikan kembali tentang persepsi diri serta hubungannya dengan orang lain. Ia harus dapat menerima dirinya sendiri seperti apa adanya, menghilangkan sikap negatif dirinya dan membentuk kembali persepsinya. Untuk ini diperlukan lingkungan yang khusus yang menunjang proses perawatan.
              Kebutuhan pasien yang pokok dan utamanya adalah rasa aman. Pasien perlu diberi dukungan emosional secara terus-menerus. Pendpat dan gambaran dirinya yang sesuai dengan kenyataan dapat mendukung pembentukan hubungan dengan orang lain sehingga pasien dapat melibatkan diri dalam hidup bermasyarakat kembali. Pasien membutuhkan lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhannya ini. Perawat hendaknya mengingat bahwa pasien adalah seorang manusia yang membutuhkan pertolongan. Pertolongan pertama yang dibutuhkan pasien adalah menumbuhkan kepercayaan pada orang lain. Kegiatan rutin di bangsal diharapkan dapat merangsang pasien untuk berhubungan dengan orang lain. Pasien di tuntut dengan rangsangan pasien untuk memupuk tingkah laku yang positif. Pasien tidak dapat bebas dari kewajiban dan tuntutan karena hal ini akan membuat pasien lebih pasif dan tetap dalam keadaan menarik diri.
              Kegiatan rutin sebaliknya tidak monoton sehingga reaksi pasien menjadi stereotipik. Kegiatan ini hendaknya bervariasi yang menuntut minat, perhatian dan konsentrasi. Dengan demikian pasien diharapkan keluar dari autismenya. (Lihat Bab Lingkungan Terapeutik). Jadwal kegiatan hendaknya jelas dan menarik yang menggambarkan dunia realitas itu menyenangkan. Bila gejala penarikan diri ini merupakan pencetusan penolakan terhadap lingkungan, pengamatan hendaknya dilakukan secara bijaksana dan batasilah tindakan destruktif yang mungkin timbul.
              Perawat hendaknya mengetahui latar belakang pasien agar lebih dapat mengetahui kebutuhan pasien.
b.    Mengadakan hubungan interpersonal.
          (Lihat Bab II tentang Komunikasi dalam Perawatan Psikiatrik).
                   Di bangsal perawat merupakan tokoh penting, karena ia terlhat dengan semua aktivitas pasien. Dengan demikian perawat memegang peranan penting dalam proses pendekatan dan pembentukan yang bersifat terapeutik.
                   Mengadakan dan meningkatkan hubungan interpersonal tidaklah mudah dan memakan waktu yang lama. Sikap perawat sehari-hari mempunyai arti bagi  pasien. Perawat hendaknya mengamati dan mencoba mengadakan hubungan walaupun secara non verbal, duduk di samping pasien, senyum dan menunjukkan sikap yang hangat dan bersahabat bila berada di dekat pasien. Usahakanlah untuk menyentuh perasaan pasien dan meningkatkan ikatan perasaan itu. Tindakan ini harus dilakukan secara teratur dan biarkanlah pasien bereaksi serta melakukan apa yang dikehendakinya asal tidak mengganggu lingkungan. Amatilah segala sesuatu yang terjadi pada pasien, karena hal itu mempunyai arti. Misalnya sikap tubuh tertentu, senyum yang dungu dan sebagainya.
                   Bila sudah ada reaksi yang positif atas kehadirann perawat, usahakan untuk memulai komunikasi verbal. Agar komunikasi verbal tidak menakutkan pasien, pasien diajak berkomunikasi melalui sarana yang ada, misalnya permainan. Bila pembicaraan pasien tidak dapat dimengerti, jangan menyanggah atau mengejek tetapi dengarkan dengan sikap yang simpatik.
                   Gunakan kata-kata sederhana yang mudah dimengerti selama berbicara dengan pasien karena perhatian dan minat pasien terganggu dengan disertai gangguan asosiasi.
                   Perawat lebih bijaksana bila mengetahui khayalan pasien, bukan untuk mendebatnya melainkan untuk mengeluarkannya dari khayalan tersebut.
                   Sebaiknya perawat dapat memahami tingkah laku pasien tanpa mengkritik. Ini tidak berarti tidak memperdulikan gejalanya. Setelah pasien tampak lebih tenang dan terbiasa menerima kehadiran orang lain di dekatnya, usahakan untuk melibatkan pasien lain yang kooperatif. Pasien diberi dorongan agar lebih sering berkomunikasi dengan orang lain dari pada berdiam diri. Pasien diyakinkan dan dipuji bilamana perlu agar kepercayaan dan harga dirinya muncul kembali.
                   Tujuan utama dari hubungan interpersonal ialah membentuk dan menumbuhkan kembali kepercayaan dan harga diri.
c.    Perawatan fisik
                   Karena tidak adanya minat dan perhatian pada dunia luar, pasien seringkali tidak merawat dirinya. Untuk sementara perawat harus mengambil alih tanggung jawab pemeliharaan kebersihan diri pasien ini.
                   Pasien diajak merawat dirinya dengan cara yang tidak menakutkan. Begitu juga dengan penampilan dirinya, perawat dapat membantu agar penampilan pasien rapi, wajar dan menarik.. Perhatikanlah kebersihan kulit pasien dan bila ada luka rawatlah luka yang ada agar tidak memburuk. Anjurkan pasien untuk membersihkan dan merawat gigi dan mulutnya.
                   Perhatikan makan dan minumnya agar kebutuhan pokok pasien cukup dipenuhi.
                   Untuk membantu mengalihkan perhatian  pasien,  perawat dapat mengajak pasien menyiapkan makan bersama seperti menyusun menu, memasak, menata meja dan sebagainya. Buatlah suasana makan yang menyenangkan agar pengalaman makan merupakan pengalaman emosional yang menyenangkan.
                   Seringkali pasien mengalami gangguan eliminasi. Pasien tidak dapat buang air besar dan buang air kecil selama beberapa pasien yang buang air besar atau buang air kecil bila didudukkan di jamban (closet). Pada tipe pasien seperti ini, pasien dibawa ke jamban secara teratur agar terlatih kembali untuk buang air besar dan buang air kecilnya. Bila dengan cara ini tidak dapat mengatasi gangguan eliminasi, hendaknya diusahakan cara yang lain, misalnya dibantu dengan pemberian obat.. Sedapat mungkin hindarilah kataterisasi dan lavament karena hal ini dapat diasosiasikan sebagai perosaan atau paksaan yang akan menimbulkan reaksi negatitistik.
                   Pasien diajak melakukan kegiatan motorik agar ototnya terlatih berkonsentrasi dan relaksasi serta untuk menjaga kesehatan fisiknya.
                   Bila pasien tidak dapat tidur, carilah sebabnya dan atasi sesuai dengan sebabnya itu. Misalnya bila tidak dapat tidur karena lampunya terang, padamkanlah lampunya, bila tidak dapat tidur karena pasien takut dibunuh  (waham kejar), pasien ditemani sampai tenang.
                   Dalam mengajak pasien merawat fisiknya, perawat sebaiknya menggunakan kata-kata yang persuasif tapi instruktif, misalnya “Pak sekarang mandi dulu ya” sambil meletakkan handuk, dan perlengkapan mandi lainnya ditangannya lalu mengajaknya ke kamar mandi dari pada mengatakan “Apakah Bapak mau mandi sekarang ?”.
     d.  Melaksanakan program terapi dokter
                   Kadang-kadang sulit memberikan obat pada pasien karena adanya waham dan halusinasi. Perawat hendaknya menjelaskan dengan sikap yang tenang, mengapa pasien harus minum obat. Berikanlah obat yang sesuai yang telah ditentukan oleh dokter dan perhatikan gejala sampingan yang mungkin timbul. Bila timbul gejala sampingan, beritahukan dokter agar dapat cepat diatasi.
     e.  Melindungi pasien
                   Karena pasien begitu dipengaruhi oleh waham dan halusinasinya, seringkali secara tiba-tiba menyerang lingkungan dan melukai diri sendiri. Juga karena autismenya, pasien tidak mengetahui adanya ancaman terhadap dirinya. Misalnya hari hujan dan udara dingin sedangkan pasien tetap memakai baju yang terbuka. Atau pasien tetap diam padahal ada yang mau memukul dirinya. Oleh karena keadaan diatas, pasien perlu dilindungi agar tidak mendapat bahaya.
     f.  Rekreasi
                   Rekreasi perlu untuk memberikan kesenangan pada pasien, mengalihkan perhatian, menyalurkan dorongan agresif dan ketegangan emosional serta memupuk hubungan dengan orang lain.
              Pada saat rekreasi pasien dapat diberi tanggung jawab yang sederhana yang mengharuskan pasien berhubungan dengan orang lain dan terlibat secara keseluruhan. Misalnya membagikan makanan waktu piknik, bertanggung jawab tentang alat-alat yang dipakai dan sebagainya.
     g.  Menggali latar belakang dan permasalahannya serta membantu mengatasi masalahnya.
                   Melalui aloanamnesas dan pendekatan yang dilakukan, perawat dapat mengetahui keadaan pasien. Usahakanlah untuk mengetahui bagaimana latar belakang pasien secara mendalam dan menggali permasalahan yang ada agar dapat membantu mengatasi masalahnya. Bersama pasien carilah jalan keluar yang terbaik danp pasien diberi dorongan untuk mencoba melaksanakannya. Misalnya pasien dianjurkan berani mengutarakan apa yang disenangi dan  yang tidak disukainya. Dalam membantu pasien dan mengali masalahnya, perawat harus cermat mengamati reaksi pasien agar tidak menambah keterangan atau kecemasannya.
     h.  Mengadakan hubungan dengan keluarga.
                   Keluarga merupakan lingkungan masyarakat di mana pasien pertama kali belajar menyesuaikan diri menghadapi kehidupan ini. Keluarga merupakan gambaran masyarakat sehingga apa yang dialami oleh pasien mempengaruhi sikap pasien secara menyeluruh. Oleh karena itu keluarga memegang peranan yang penting dalam proses penyembuhan pasien. Keluarga harus dilibatkan dan diajak mengenal pasien secara lebih mendalam sehingga mengetahui apa yang seharusnya dilakukan agar dapat menolong pasien, menerima keadaannya dan melanjutkan perawatan di rumah bila pasien telah berobat jalan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More