Kamis, 10 Maret 2011

Tinjauan Prilaku Sakit Pada Pasien Dengan Suku Bangsa Yang Berbeda

BAB I
P E N D A H U L U A N

A.    Latar Belakang Pembahasan

Tingkah laku sakit, peranan sakit dan peranan pasien sangatlah dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kelas sosial, perbedaan suku bangsa dan budaya maka ancaman kesehatan yang sama tergantung dari variabel-variabel tersebut dapat menimbulkan reaksi yang berbeda dari kalangan pasien.

Tingkah laku sakit / prilaku sakit adalah cara-cara dimana gejala-gejala ditanggapi, dievaluasi dan diperankan oleh sesorang individu yang mengalami sakit, kurang nyaman atau tanda lainnya dari fungsi tubuh yang kurang baik (Mechanic & Volkhart, 1961 : 52)

B.      Ruang Lingkup Penulisan

Penulisan berupa tinjauan kasus terhadap empat suku bangsa yang berbeda yaitu Cina, Jepang, Menado dan Bali dimana kasus diambil pada beberapa Rumah Sakit yang berbeda dalam jangka waktu yang berbeda pula.

C.      Tehnik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang cukup valid dan akurat, maka kami menggunakan tehnik sbb :
  1. Observasi langsung, dimana penulis mengamati prilaku sakit dari pasien-pasien yang digunakan sebagai tinjauan selama pasien tersebut dirawat di rumah sakit
  2. Study kepustakaan, dimana penulis mengambil beberapa intisari dari beberapa tulisan mengenai budaya suku bangsa yang berbeda.
  3. Pengalaman dalam merawat pasien dari suku bangsa yang berbeda.

D.     Sistematika Penulisan

Makalah ini tersusun atas empat bagian dimana masing-masing bagian saling terkait sebagai berikut :
Bab I merupakan Pendahuluan yang berisi latar belakang pembahasan, ruang lingkup penulisan, tehnik pengumpulan data dan sistematka penulisan.
Bab II merupakan Tinjauan Teoritis yang memberikan gambaran mengenai dasar teoritis atas permasalahan yang ditinjau.
Bab III merupakan Tinjauan Kasus yang membahas tentang permasalahan yang ditinjau.
Bab IV adalah Penutup yang berisikan kesimpulan dan saran yang diambil atas dasar pembahasan pada Bab III dan tinjauan teoritis pada Bab II.


BAB II
T I N J A U A N  T E O R I T I S

Dalam mempelajari tingkah laku sakit, perlu bagi kita untuk menelaah suatu perkataan dari Von Mering bahwa “Study yang benar mengenai manusia yang sakit berpendapat bahwa setiap individu hidup dengan gejala-gejala maupun dengan konsekwensi penyakit, dalam aspek-aspek fisik, mental, medikal dan aspek sosialnya. Dalam usahanya untuk meringankan penyakitnya, si sakit akan terlibat dalam serangkaian proses pemecahan masalah yang bersifat internal maupun eksternal baik yang bersifat spesifik maupun non spesifik”.

Tingkah laku / prilaku sakit dapat terjadi tanpa adanya peranan sakit dan peranan pasien. Seperti dikatakan oleh Jaco “Ketika tingkah laku yang berhubungan dengan penyakit disusun dalam suatu peranan sosial, maka peranan sakit menjadi suatu cara yang berarti untuk bereaksi dan untuk mengatasi eksistensi dan bahaya-bahaya potensial penyakit oleh suatu masyarakat” (Jaco, 1972 : 93)

Perbedaan budaya dalam menentukan tingkah laku / prilaku sakit dapat dilihat dimana pada suatu suku bangsa tertentu suatu respon terhadap suatu rasa nyeri berbeda. Ada dua jenis respon yang berbeda terhadap rasa  sakit yaitu public pain dan private pain. Public pain berarti respon terhadap rasa sakit tersebut bagi seorang individu harus dibagi dengan orang lain, harus diketahui oleh orang lain dengan pengungkapan perasaan melalui kata-kata atau emosi yang lepas dan bebas terhadap orang lain. Bagi seorang public pain rasa sakit yang dirasakannya harus dirasakan juga oleh orang lain. Paling tidak perhatian besar akan diberikan orang lain kepadanya. Sedangkan private pain merupakan respon terhadap rasa sakit yang disembunyikan. Bagi mereka rasa sakit berarti suatu kelemahan, kecerobohan yang tidak pantas diketahui oleh orang lain. Biasanya private pain seperti ini dianut oleh suku bangsa yang membanggakan keadaan kuat dan sehat.

Masing-masing prilaku tersebut mempunyai konsekwensi logis terhadap tehnik pengobatan dan perawatan yang dilakukan terhadap pasien. Tentunya dalam memajukan kondisi kesehatan masyarakat kedua prilaku tersebut harus dipahami benar oleh tenaga kesehatan yang ada.


BAB III
P E M B A H A S A N

Dalam pembahasan ini, kami akan membahas mengenai prilaku sakit empat suku bangsa yang berbeda yang telah kami observasi di tiga rumah sakit berbeda dengan batasan waktu yang berbeda pula. Beberapa sampel dari suku bangsa Jepang, Cina, Manado dan Bali diharapkan dapat mewakili prilaku sakit yang berbeda pada masing-masing suku bangsa. Mengingat pada masing-masing suku bangsa terdapat bermacam sifat dan prilaku yang berbeda maka tentunya prilaku yang kami observasi belum dapat dikatakan mewakili secara keseluruhan tetapi hanya merupakan gambaran yang bersifat umum.

Bangsa Jepang

Observasi dilakukan pada periode 1996 – 1998 di RS Medistra Jakarta pada beberapa pasien berwarga negara Jepang.

Secara umum dapat dilihat bahwa penataan/pemanfaatan waktu pada pasien Jepang merupakan hal yang utama baik dari bangun pagi, aktivitas sampai tidur malam. Penulis pernah menanyakan kepada salah seorang pasien Jepang tentang “Mengapa anda belum istirahat juga, padahal anda kan membutuhkan cukup istirahat saat ini ?”. Saat itu pukul sembilan malam, dan pasien menjawab bahwa ini adalah waktunya untuk membaca buku dan itu merupakan kebiasaannya. Kemudian ia merinci seluruh waktu yang telah dijalani sebelumnya. Ia hanya memiliki jam tidur sebanyak 6 jam bahkan kalau perlu waktu 6 jam ini diambil 4 jam untuk waktu membaca. Waktu istirahat selama aktivitas hanyalah 1 jam. Dalam kondisi sakit seperti ini ia tidak ingin merubah kebiasaannya tersebut. Saat itu pasien didiagnosa DHF dengan suhu tubuh pasien 380C, Therapi infus RL 8 Fles/24 jam dan terpasang paralel pada kedua tangannya dan nilai trombosit baru mencapai 78.000 dari nilai sebelumnya yaitu 56.000. Prinsipnya adalah waktu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Prilaku Sakit

Tampak pasien segera berespon dengan perubahan sakit yang terjadi pada dirinya. Sesuai dengan disiplin waktu yang sudah menjadi tradisinya, pasien sering meminta schedule tindakan keperawatan terhadap dirinya dan membuat perjanjian bila terjadi perubahan kondisi (kondisi perubahan suhu yang sering naik turun pada pasien DHF),  pasien akan memanggil perawat untuk memeriksa suhu tubuhnya. Perawat harus memberitahu hal-hal atau tindakan yang mendadak misalnya visite dokter yang tiba-tiba datang. Dalam menghadapi perubahan-perubahan kesehatan ia ingin segera mendapatkan tanggapan dari para dokter dan perawat, dan bila sudah mendapatkan therapi (mis : analgetik, antipiretik) ia akan tenang. Pasien Jepang umumnya juga sangat berterimakasih dengan perhatian yang telah diberikan kepadanya. Mereka amat kooperatif bila perawat dapat bekerjasama dalam menanggapi respon sakitnya yang menginginkan tindakan yang cepat dan tepat. Jarang/hampir tidak pernah penulis menemukan pasien yang merintih menahan sakit. Terutama apabila perawat atau dokter sudah memberikan penjelasan tentang penyakitnya. Seorang pasien bahkan pernah mengatakan bahwa “Suhu tubuh saya memang sedang meningkat dan ini merupakan proses yang harus saya lalui untuk mencapai kesembuhan karena panas ini merupakan adalah reaksi tubuh saya terhadap toksin. Begitu penjelasan perawat tadi”.

Dari observasi diatas, pasien Jepang merupakan tipe Public Pain dimana rasa sakit yang mereka rasakan ingin secepatnya ditangani dan memerlukan penjelasan/concern dari perawat maupun dokter yang menanganinya.

Pasien Cina

Observasi dilakukan pada beberapa pasien bersuku bangsa Cina pada periode tahun 1996 – 1997 di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

Menurut pengamatan dari penulis, suku bangsa Cina tidak jauh berbeda dengan suku bangsa Indonesia pada umumnya. Mengenai disiplin diri belum merupakan suatu hal yang prinsip. Pada saat pasien dirawat mereka tidak mencerminkan kebiasaan yang mereka jalankan saat mereka sehat. Tidak jarang penulis menemukan pasien Cina belum terbangun  dari tidurnya saat perawat berkeliling untuk mengoperkan tugas (Pk.07.30). Bahkan minum obat pun sering terlambat karena mereka suka menunda-nunda waktu.

Pasien Cina sering mengabaikan atau sering tidak kooperatif dengan schedule tindakan keperawatan yang diberikan. Akan tetapi sebaliknya perawat yang harus menyesuaikan schedulenya dengan pasien.

Prilaku Sakit

Perasaan sakit pada suku bangsa Cina umumnya sangat sensitif. Mereka juga menginginkan tindakan yang cepat dan tepat akan tetapi kesabaran dan pengertian mereka sangat kurang. Walaupun sudah mendapatkan therapi yang tepat dan sesuai namun mereka masih suka mengeluh tidak seperti pasien Jepang yang sabar menunggu reaksi obat sesuai penjelasan perawat atau dokter.

Pasien Cina umumnya juga sering membantah penjelasan yang diberikan (tentang proses penyakitnya) dan hanya ingin didengarkan keluhannya saja tetapi tidak berusaha untuk mengerti dengan kondisi dan perawatan/pengobatan yang dilakukan untuknya. Hal ini terbukti dengan seringnya mereka bertanya berulang-ulang mengenai hal yang sama walaupun sudah dijelaskan berkali-kali.

Dengan demikian pasien Cina merupakan tipe Public Pain dimana mereka selalu berusaha membagi keluhan sakitnya pada orang-orang sekitarnya tetapi tipe public pain mereka terasa berlebihan dibandingkan pasien Jepang. Perawat harus mempunyai kesabaran yang tinggi dalam merawat pasien Cina karena pasien ini terkesan cerewet dan banyak menuntut dan jarang menunjukkan rasa terimakasih.

Suku Bangsa Manado

Observasi dilakukan pada pasien yang dirawat dengan keluhan sakit pada area perut kanan di IGD RS Persahabatan pada tanggal 8 Desember 1998.

Suku bangsa Manado merupakan suku bangsa yang memandang hidup sebagai kesenangan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Mereka selalu berusaha mengisi hidup dengan bergembira. Mereka juga selalu memperhatikan penampilan dan amat ingin privacy mereka terjaga. Dalam segala hal mereka menginginkan yang terbaik. Demikian juga pada saat mereka menjalani perawatan karena sakit.

Dari observasi yang penulis lakukan, dapat dilihat bahwa pasien Manado ingin segera ditangani secepatnya. Karena RS Persahabatan merupakan RS pemerintah yang sarananya serba terbatas, maka sulit untuk memenuhi semua keinginan pasien. Saat itu keluarga pasien mengatakan “Tidak bisakah saudara saya ditangani lebih cepat lagi ? Mana dokter spesialisnya ?”. Dari segi penampilan pasien dan keluarga nampak necis dan rapi. Pasien juga sering mengeluh dan mengerang-erang kesakitan serta memanggil-manggil perawat untuk segera ditangani. Penjelasan dari perawat sering diabaikan dan meminta penjelasan langsung dari dokter. Setelah diberikan penjelasan oleh dokter pasien malahan lebih sering mengeluh dan menuntut penatalaksanaan secepatnya tanpa memperdulikan proses penyakit dan prosedur penanganan.

Karena keterbatasan tenaga dan alat, tindakan tidak bisa dilakukan dengan segera. Keluarga pasien menyatakan komplain pada pelayanan yang diberikan dan pasien dengan suara merintih meminta segera dipindahkan ke Rumah Sakit yang lebih memadai. Perawat kemudian menyarankan rujukan ke RS Swasta.

Dari observasi diatas, nampak bahwa pasien Manado merupakan tipe public pain dimana mereka meminta perhatian yang berlebih dari perawat maupun dokter serta menginginkan yang terbaik buat mereka.

Pasien Bali

Observasi dilakukan pada beberapa pasien di Rumah Sakit Sanglah Denpasar pada periode tahun 1995 – 1996 di beberapa ruangan rawat inap.

Suku bangsa Bali terkenal karena bakat mereka di bidang seni yang begitu besar dan sifat-sifat religius serta kepatuhan terhadap nilai-nilai adat yang begitu melekat dalam berbagai sendi kehidupan mereka. Dalam beberapa hal mereka percaya bahwa sakit atau penderitaan yang mereka alami sekarang adalah buah daripada perbuatan mereka terdahulu. Konsep hukum karma merupakan bagian dari proses menjalani prilaku sakit bagi mereka. Tipe prilaku sakit pada masyarakat Bali adalah private pain dimana mereka berusaha menahan sendiri sakit mereka selama tidak begitu parah dan yakin dapat diatasi sendiri. Sakit bagi mereka merupakan hal yang harus dilawan dari diri sendiri. Dengan demikian sering ditemukan pasien masuk Rumah Sakit dalam kondisi yang cukup parah.

Pasien Bali dalam menghadapi perawatan terhadap dirinya jarang meminta perhatian lebih dari perawat atau dokter tetapi mereka akan sangat berterimakasih bila diperhatikan secara sewajarnya. Kehidupan beragama yang begitu kental membuat setiap pasien selalu meminta tempat untuk menghaturkan sesajen di samping tempat tidurnya. Jika lupa atau terlambat, mereka biasanya merasa tidak enak. Sesajen biasanya dihaturkan oleh keluarga pasien untuk meinta keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kebersamaan adat yang kental membuat Rumah Sakit terkadang dipenuhi oleh sanak saudara dan anggota banjar (sejenis RW dengan ikatan yang kuat) dari pasien bersangkutan. Kehadiran sanak-saudara bagi pasien merupakan suatu kebahagian dan kebanggaan karena disanalah terlihat bagaimana kualitas hubungan si pasien dengan masyarakat komunitasnya. Bila sedikit yang datang mengunjungi malahan pasien akan sangat bersedih. Dan itu tentu akan menghambat proses kesembuhan dirinya.

Dengan tipe private pain pada pasien Bali maka sering dokter atau perawat kesulitan untuk mendapatkan data penunjang untuk membuat diagnosa atau penatalaksanaan terhadap pasien. Pasien harus diberikan penjelasan mengenai perlunya data bagi perawatannya.

Pasien Bali lebih cepat menangkap penjelasan baik dari perawat ataupun dokter, dan bila penjelasan itu disampaikan dengan alasan-alasan rasional biasanya pasien dan keluarga akan menghargai dan menaati apa yang diarahkan atau diminta oleh dokter atau perawat. Dari observasi, sekali penyuluhan yang bermakna akan selalu diingat oleh pasien.

Pasien Bali juga mempunyai perasaan berterimakasih yang sangat besar. Bila pasien merasa puas akan pelayanan yang diberikan kepadanya, tidak jarang pasien memberikan oleh-oleh atau hadiah kepada perawat atau dokter yang menanganinya. Bahkan setelah pasien sembuh banyak pasien menjalin hubungan yang lebih akrab dengan perawat atau dokter yang merawatnya.


BAB IV
P E N U T U P

  1. Kesimpulan
Prilaku sakit setiap suku bangsa akan sangat berbeda atau dapat sama tergantung dari bagaimana adat dan budaya yang dianut oleh masing-masing suku bangsa tersebut. Bagaimanapun juga prilauku sakit sangat dipengaruhi oleh kultur budaya pada masyarakat suku bangsa dimana si sakit dibesarkan dan dibina sebagai seorang individu.

  1. Saran
Apapun respon pasien dari suku bangsa-suku bangsa tersebut, baik private pain atau public pain, mereka haruslah mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik. Untuk memberikan pelayanan yang baik tentunya harsu dipahami pula tingkah laku / prilaku mereka dalam memandang sakit itu sendiri. Dengan pemahaman yang cukup maka pelayanan akan dapat diterima dengan baik oleh si pasien. Karena itu, maka penting bagi tenaga kesehatan untuk memahami prilaku sakit masing-masing suku bangsa yang berbeda.

1 komentar:

Agus Salam mengatakan...

thanks ya,,,

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More