Senin, 18 April 2011

ASUHAN KEHAMILAN PADA KUNJUNGAN AWAL

image Sekilas tentang ANC

Antenatal Care/ Asuhan antenatal adalah suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan (pada beberapa kepustakaan disebut sebagai Prenatal Care).

Pelayanan antenatal

Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu bidan dan perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya, sesuai dengan standard minimal pelayanan antenatal yang meliputi 5T yaitu timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi TT, ukur tinggi fundus uteri dan pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama masa kehamilan.

Asuhan antenatal HARUS dimulai sedini mungkin.

http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com

Kunjungan Awal

Definisi:

Pada setiap bidang khusus yang dipakai para spesialis untuk menyampaikan informasi penting kepada satu sama lain dalam menjelaskan hubungan antara wanita dan kehamilannya.

A. Tujuan Kunjungan

1. Menentukan tingkat kesehatan ibu dengan melakukan pengkajian riwayat lengkap dan uji skrining yang tepat.

2. Menetapkan catatan dasar tentang tekanan darah,urinalisis, nilai darah, serta pertumbuhan dan perkembangan janin dapat digunakan sebagai standar pembanding sesuai kemajuan kehamilan

3. Mengidentifikasikan faktor risiko dengan mendapatkan riwayat detil kebidanan masa lalu dan sekarang.

4. Memberi kesempatan pada ibu dan keluarga untuk mengekspresikan dan mendiskusikan adanya kekhawatiran tentang kehamilan saat ini,proses persalinan, serta masa nifas.

5. Menganjurkan adanya pemeliharaan kesehatan masarakat dalam upaya mempertahankan kesehatan ibu dan perkembangan kesehatan bayinya.

6. Membangun hubungan saling percaya karena ibu dan bidan adalah mitra dalam asuhan

7. Mendiskusikan filosofi klinis perawatan

8. Memperoleh rujukan konseling genetik.

9. Menentukan diagnosis ada/tidaknya kehamilan

10. Menentukan usia kehamilan dan perkiraan persalinan

11. Menentukan rencana pemeriksaan/penatalaksanaan selanjutnya.

B. Pengkajian Data Kesehatan Ibu Hamil

1. Riwayat kesehatan

Riwayat kesehatan merupakan identifikasi keluhan sekarang, penyakit umum yang pernah diderita, serta penyakit yang dialami saat masa sebelum kehamilan maupun saat kehamilan.

a. Sosial

1). Kumpulan keluarga

Informasi tentang keluarga klien harus mencakup asal keluarga, tempat lahir, orang-orang yang tinggal bersama klien, individu yang dianggap “keluarga”, dan individu yang dapat diandalkan dalam memperoleh dukungan,tentang status klien saat ini, dan klien tinggal dengan siapa klien tinggal.hal ini menunjukan bahwa bidan menyadari tidak semua wanita hamil terikat dan sanggup untuk sendiri menghadapi semua keadaan saat ia hamil.

2). Situasi tempat tinggal

Dapatkan informasi tentang tempat tinggal klien, seberapa kali ia pindah, seperti apa rumahnya, jumlah individu, keamanan lingkungan, daan jika diindikasikan, apakah tersedia cukup makanan didalam rumah,dan keadaan lingkungan sekitar, diharapkan tetap bersih dan terhindar dari berbagai sumber penyakit.

3). Pekerjaan

Mengetahui pekerjaan klien adalah penting untuk mengetahui apakah klien berada dalam keadaan utuh dan untuk mengkaji potensi kelainan premature dan pajanan terhadap bahaya lingkungan kerja, yang dapat merusak janin.

4). Pendidikan, minat, hobi, dan tujuan

Tanyakan pendidikan tertinggi yang klien tamatkan juga minat, hobi, dan tujuan jangka panging. Informasi ini membantu klinis memahami klien sebagai individu dan memberi gambaran kemampuan baca-tulisnya. Kadang-kadang bahaya potensial dari hobi, seperti melukis, memahat, mengelas, membuat mebel, piloting, balap, menembak, membuat keramik, dan berkebun akan diidentifikasi. Materi yang digunakan dalam kegiatan seni dan kerajinan tangan dapat mengandung silicon, talek, pelarut, dan logam berat, semua ini berpotensi membahayakan.

5). Pilihan agama

Tanyakan pilihan agama klien dan berbagai praktik terkait-agama yang harus diobservasi. Informasi ini dapat menuntun ke suatu diskusi tentang pentingnya agama dalam kehidupan klien, tradisi keagamaan dalam kehamilan dan kelahiran, perasaan tentang jenis kelamin tenaga kesehatan, dan pada beberapa kasus, penggunaan produk darah.

6). Hewan peliharaan

Tanyakan jenis dan jumlah hewan peliharaan ditempat tinggal klien. Hewan peliharaan yang berpotensi menimbulkan bahaya dan penyakit harus didiskusikan.

7). Sumber dukungan dan perencanaan kehamilan

Tanyakan siapa yang dapat klien andalkan untuk memberinya dukungan. Pada saat tertentu wanita mungkin menjawab tidak seorangpun. Dengan demikian , kunjungan yang lebih lama dan lebih sering serta berfokus pada upaya mencari dukungan emosional dan menjalin hubungan dengan sumber komunitas yang tepat harus dijadwalkan jika memungkinkan dan tanyakan pada klien apakah kehamilan ini direncanakan atau tidak.

8). Sumber stress

Faktor-faktor yang umum menjadi sumber steres pada wanita hamil ialah biaya, pemukiman, kenakalan anak, dan masalah hubungan dengan pasangan atau anggota keluarga lain.pertanyaan, “ apakah sumber utama stress anda saat ini?” akan memb antu klinisi memahami beberapa factor yang mempengaruhi kehidupan dan kehamilan klien.

9). Kebiasaan yang meningkatkan kesehatan

Informasi tentang pola hidup sehat klien akan bermanfaat untuk mengidentifikasi bidang pendidikan kesehatan yang butuhkan, baik saat ini maupun pada masa pascapartum, seperti kebiasaan :

a). Merokok

Kebanyakan wanita mengetahui bahwa mereka tidak boleh merokok pada masa kehamilan meskipun mereka tidak mengetahui bahaya yang sebenarnya. Wanita yang merokok pada masa kehamilan pertama dan melahirkan bayi sehat mungkin tidak percaya bahwa merokok membawa resiko.

b). Alkohol

Masalah signifikan yang ditimbulkan oleh anak-anak yang mengalami sindrom alcohol janin dan ganguan perkembangan saraf terkait-alkohol membuat klinis wajib menanyakan asupan alcohol dan mengingatkan wanita efek potensial alcohol jangka panging pada bayi yang dikandungnya.

c). Obat terlarang dan obat rekreasional

Mengidentifikasi penggunaanobat pada masa hamil sangat penting, paling tidak untuk tiga alasan berikut : membantu wanita yang inin berhenti merokok, mengidentifikasi janin dan bayi beresiko, dan mengidentifikasi janin dan bayi berisiko, dan mengidentifikasi wnita beresiko terinfeksi HIV. Wanita yang menggunakan obat-obatan tidak akan tertolong, kecuali mereka diidentifikasi sejak awal. Identifikasi pemakaian obat dan alcohol pada wanita hamil dapat mengubah hidup mereaka, hal ini berarti member suatu kehidupan yang utuh bagi ibu dan bayinya dan mencegah bayi mengalami keterlambatan perkembangan, retadasi, atau bahkan kematian.

10). Keamanan

Tanyakan klien apakah biasa mengenakan sabuk pengaman dan persenling, pelindung dan apakah ia terlibat dalam kegiatan olahraga, jika ia melakukan kegiatan tersebut anjurkan pada klien untuk selalu menjaga keselamatan dirinya dan mengurangi kegiatan yang dapat mengancam keselamatan ibu dan si janin

b. Riwayat Kebidanan

1). Riwayat menstruasi

Gambaran riwayat menstruasi klien yang akurat biasanya membantu penetapan tanggal perkiraan kelahiran (estimated date of delivery- EDD) yang sering disebut taksiran partus. Perhitungan dilakukan dengan menambahkan 9 bulan dan 7 hari pertama haid terakhir (HPHT) atau dengan mengurangi bulan dengan 3, kemudian menambahkan 7 hari dan 1 tahun.

Rumus Naegele (h+7 b-3 + x + 1mg) untuk siklus 28 + x hari.

Informasi tambahan tentang siklus menstruasi yang harus diperoleh mencakup frekuensi haid dan lama pendarahan. Jika menstruasi lebih pendek atau lebih panging daripada normal, kemungkinan wanita tersebut telah hamil saat terjadi pendarahan. Dan tentang haid meliputi :menrache, haid teratur atau tidak dan sikulus, lamanya haid, banyaknya darah, sifatnya darah( cair atau berbeku-beku, warnanya, baunya), serta haid nyeri atau tidak dan kapan haid terakhir.

2). Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu,

Kehamilan:

Adakah ganguan seperti perdarahan, muntah yang sangat (sering), toxaemia gravidarum.

Persalinan:

Spontan atau buatan, a’terme atau premature, perdarahan, ditolong oleh siapa (bidan, dokter).

Nifas:

Adakah panas atau perdarahan, bagaimana laktasi.

Anak:

Jenis kelamin, hidup atau tidak, kalau meninggal umur berapa dan

sebabnya meninggal, berat badan waktu lahir.

3). Riwayat kontrasepsi

Riwayat kontrasepsi diperlukan karena kontrasepsi hormonal dapat mempengearuhi EDD, dan karena penggunaan metode lain dapat membantu “menangalli kehamilan.ketika seorang wanita menghabiskan pil berisi hormone dalam tablet kontrasepsi oral, periode selanjutnya akan mengalami disebut “withdrawal bleed”. Dan terkadang ada kalanya kehamilan terjadi ketika IUD masih terpasang. Apabila ini terjadi, lepas IUD jika talinya tampak. Prosedur ini dapat dilakukan oleh perawat praktik selama trimester I, tetapi lebih baik dirujuk kedokter bila kehamilan sudah berusia 13 minggu. Pelepasan IUD menurunkan resiko keguguran, sedangkan membiarkan IUD terpasang meningkatkan aborsi septic pada pertengahan trimester. Riwayat pengunaan IUD terdahulu meningkatkan resiko kehamilan ektopik. Dan tanyakan kepada klien lamanya pemakaian alat kontrasepsi dan jenis kontrasepsi yang digunakan.

4). Riwayat obstetri

Informasi esensial tentang kehamilan terdahulu mencakup bulan dan tahun kehamilan tersebut berakhir, usia gestasi pada saat itu itu, tipe persalinan (spontan, forsep, ekstrasi vakum, atau bedah sesar), lama persalinan (lebih baik dihitung dari kontraksi pertama), berat lahir, jenis kelamin, dan komplikasi lain.ketika menggambarkan kehamilan yang berakhir sebelum minggu ke 20, bedakan antara aborsi spontan, elektif, terapeutik, dan kehamilan ektopik.

Adakah riwayat kehamilan atau persalinan atau abortus sebelumnya (dinyatakan dengan kode GxPxAx, gravida / para / abortus), berapa jumlah anak hidup.

Ada atau tidaknya masalah-masalah pada kehamilan atau persalinan sebelumnya seperti prematuritas, cacat bawaan, kematian janin, perdarahan dan sebagainya. Penolong persalinan terdahulu, cara persalinan, penyembuhan luka persalinan, keadaan bayi saat baru lahir, berat badan lahir jika masih ingat. Riwayat kehamilan, persalinan , nifas pada kehamilan yang telah lalu,Riwayat hasil kehamilan , jumlah anak , usia dan gender, menentukan status kehamilan sekarang.

5). Riwayat ginekologi

Riwayat penyakit atau kelainan ginekologi serta pengobatannya dapat memberi keterangan penting, terutama operasi yang pernah dialami. Apabila penderita pernah diperiksa oleh dokter lain, tanyakan juga hasil- hasil pemeriksaan dan pendapat dokter itu. Tidak jarang wanita di Indonesia pernah memeriksakan dirinya diluar negri, dan membawa pulang hasil- hasil pemeriksaan. Dan tanyakan apa pasien biasa mengalami keputihan atau amnorhea dll.

6). Riwayat seksual

Riwayat seksual adalah bagian dari data dasar yang lengkap karena riwayat ini member informasi medis yang penting sehingga klinis dapat lebih memahami klien dan mendapat kesempatan untuk :

a). Mengidentifikasi riwayat penganiayaan seksual

b). Menawarkan informasi yang dapat mengurangi kecemasan dan menghilangkan mitos

c). Menawarkan anjuran-anjuran untuk memperbaiki fungsi seksual

d). Membuat rujukan apabila tercatat disfungsi seksual atau masalah emosional.

c. Riwayat Keluarga

Informasi tentang keluarga klien penting untuk mengidentifikasi wanita yang beresiko menderita penyakit genetic yang dapat memengaruhi hasil akhir kehamilan atau beresiko memiliki bayi yang menderita penyakit genetik. Informasi ini juga dapat mengidentifikasi latar belakang rasa tau etnik yang diperlukan untuk melakukan pendekatan berdasarkan pertimbangan budaya atau untuk mengetahui penyakit organic yang memiliki komponen herediter.

Tenaga kesehatan juga harus menentukan apakah :

1). Terdapat riwayat penyakit psikiatri (termasuk depresi) atau penyalahgunaan obat dan alcohol.

2). Ibu atau saudara perempuan klien pernah mengalami pre-eklampsia.

3). Ibu klien mengonsumsi DES saat klien berada dalam kandungan.

a). Latar belakang etnis

Ras, etnis dan keturunan harus diidentifikasi dalam rangka memberikan perawatan yang peka budaya kepada klien dan mengidentifikasi wanita atau keluarga yang memiliki kondisi resesif otosom dengan insiden yang tinggi pada populasi tertentu. Jika kondisi yang demikian diidentifikasi, wanita tersebut diwajibkan menjalani skring genetik.

b). Kepekaan budaya

Kepekaan budaya dimulai dari hati tenaga kesehatan yang mudah-mudahan menghargai kebiasaan, perspektif, dan pendekatan kehidupan wanita dengan tradisi yang berbeda-beda.

c). Dukungan dari keluarga

Kehamilan yang direncanakan atau tidak

d. Penyakit

1). Penyakit Organik

Meskipun tidak setiap penyakit dan gangguan akan mempengaruhi atau dipengaruhi kehamilan, penting juga menanyakan setiap penyakit tersebut supaya diperoleh data yang lengkap. Wanita yang juga memiliki riwayat kesehatan yang kronis atau lemah juga wanita yang menderita penyakit, seperti hipertensi kronis, SLE, diabetes mellitus tergantung insulin, penyakit jantung, paru-paru dan anemia, pemeriksaan kadar TSH (thyroid stimulating hormone).

2). Human Papilloma Virus (HPV)

Adalah virus yang mudah menular dan sering menyebabkan kondiloma akuminata, kadang-kadang disebut kutil venereal. Kutil ini biasanya ditemukan di seviks dan dinding vagina, uretra, bokong, anus dan alat genetalia ekterna. Selama masa hamil, pengobatan kutil venereal dilakukan setiap minggu dengan mengoleskan salep teratogenik. Terapi laser yang digunakan pada wanita tidak hamil dapat menyebabkan perdarahan hebat pada wanita hamil, untuk itu menanganan yang cepat dapat menghilangkan resiko kanker serviks walaupun kutil tersebut mungkin tumbuh dari suatu kutil kecil yang dengan mudah mudah disingkirkan oleh kepala bayi yang keluar saat proses persalinan.

3). Penyakit Radang Panggul

Klinis harus mengetahui riwayat PID sedini mungkin pada masa kehamilan karena PID mingkatkan risiko kehamilan ektopik tujuh kali lipat(Oregon health division, 1995). Setiap kram atau perdarahan pada wanita yang memiliki riwayat penyakit ini perlu diperiksa menggunakan ultrasonografi untuk memastikan bahwa kehamilan terjadi di uterus.

4). Penyakit yang Menyertai Kehamilan

a). Kehamilan disertai penyakit jantung

Kehamilan yang desertai penyakit jantung selalu saling mempengaruhi karena kehamilan memberatkan penyakit jantung dan penyakit jantung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Jantung yang niormal dapat menyesuaikan diri terhadap segala perubahan system jantung dan pembuluh darah yang disebabkan oleh kehamilan, yaitu dorongan diafragma oleh besarnya hamil sehingga dapat mengubah posisi jantung dan pembuluh darah dan terjadi perubahan dari kerja jantung. Bagaimana gejala penyakit jantung yang menyertai kehamilan? Penyakit jantung bersamaan dengan kehamilan mungkun dijumpai secara kebetulan. Keluhan utama yang dikemukakan :

- Cepat merasa lelah

- Jantung nya berdebar-debar

- Sesak nafas apalagi disertai terjadi sianosis(kebiruan)

- Edema tungkai atau terasa berat pada kehamilan muda

- Mengeluh tentang bertambah besarnya rahim yang tidak sesuai.

b). Hipertensi

Yang dimaksud hipertensi disertai kehamilan adalah hipertensinyang telah ada atau sebelumnya kehamilan. Apabila dalam kehamilan disertai dengan protenuria dan udem maka disebut pre-eklampsia yang tidak murni atau superimposed pre-ek-lampsia. Penyebab utama hipertensi pada kehamilan adalah hipertensi esensial dan penyakit ginjal.

c). Penyakit paru-paru dan kehamilan

Sikap bidan dalam mengahadapi kehamilan dengan penyakit tuberculosis paru sebaiknya adalah melakukan konsultasi ke dokter untuk memastikan penyakitnya. Pada penyakit batuk menahun/ tuberculosis yang tenang bidan dapat melanjutkan pengawasan hamil sampai persalinan setempat, sedangkan pada penyakit asma pada kehamilan, kadang- kadang bertambah berat atau malah berkurang dalam batas yang wajar, penyakit asma tidak banyak pengaruhnya terhadap kehamilan.

Pemeriksaan fisik pada kunjungan awal prenatal difokuskan untuk mengidentifikasi kelainan yang sering mengontribusi morbiditas dan mortalitas dan untuk mengidentifikasi gambaran tubuh yang menunjukkan gannguan genetic. Pemeriksaan harus mencakup penetapan tinggi dan berat badan, pengukuran tekanan drah (TD) dan nadi, dan pemeriksaan kulit; kelenjar tiroid; jantung; paru; payudara; ekstremitas; dan abdomen, serta pemeriksaan pelvis.

1. Tinggi Badan

Tubuh yang pendek dapat menjadi indikator gannguan genetik. Karena tinggi yang pasti sering kali tidak diketahui dan tinggi badan berubah seiring peningkatan usia wanita, tinggi badan harus diukur pada saat kunjungan awal.

2. Berat Badan

Berat badan ditimbang pada kunjungan awal untuk membuat rekomendasi penambahan berat badan pada wanita hamil dan untuk membatasi kelebihan atau kekurangan berat.

3. Tekanan Darah

Penentuan tekanan darah (TD) sangat penting pada masa hamil karena peningkatan TD dapat membahayakan kehidupan ibu dan bayi. Pada kehamilan normal, TD sedikit menurun sejak minggu ke-8. Kondisi ini menetap sepanjang trimester kedua dan kemudian mulai kembali ke TD sebelum hamil. Seluruh tekanan darah pada wanita hamil harus diukur pada posisi duduk. Pengukuran harus dilakukan pada lengan yang sama terutama lengan kanan untuk memperoleh hasil pengukuran yang konsisten. Wanita yang tekanan darahnya sedikit meningkat di awal pertengahan kehamilan mungkin mengalami hipertensi kronis atau, jika wanita tersebut adalah nulipara dengan sistolik lebih dari 120 mmHg, ia berisiko mengalami preeklampsia.

4. Nadi

Denyut nadi maternal sedikit meningkat selama hamil, tetapi jarang melebihi 100 denyut permenit (dpm). Curigai hipotiroidisme jika denyut naadi lebih dari 100 dpm. Periksa adanya eksoflatmia dan hiperrefleksia yang menyertai.

5. Refleks

Terutama reflex lutut. Reflex lutut negative pada hypovitaminose dan penyakit urat saraf.

6. Pemeriksaan Kulit

Perubahan kulit yang sering terjadi pada masa hamil mencakup hiperpigmentasi pada wajah (kloasma), pada areola dan putting susu, stria gravidarum, spider nevi, serta linea nigra. Periksa warna kulit, adanya ruam, massa, lesi, jaringan parut, tanda penganiayaan fisik, dan bukti penyalahgunaan obat. Beri perhatian khusus untuk melihat suatu ruam di telapak tangan dan telapak kaki yang merupakan tanda sifilis. Jaringat parut menunjukkan pernah dilakukan prosedur bedah atau, pada kasus yang jarang, menunjukkan praktik seksual yang berkaitan dengan ritual sadomasokistik.

7. Pemeriksaan kelenjar Tiroid

Kelenjar tiroid sedikit membesar selama masa hamil akibat hiperplasia kelenjar dan peningkatan vaskularitas. Namun, perubahan anatomi ini tidak menyebabkan tiromegali yang signifikan dan setiap pembesaran yang signifikan perlu diteliti. Hipotiroidisme sulit dideteksi selama masa hamil karena banyak gejala hipotiroidisme, yakni keletihan, penambahan berat, dan kostipasi, yang menyerupai gejala-gejala kehamilan.

8. Pemeriksaan Paru

Pemerikasaan paru harus mencakup observasi sesak nafas, napas dangkal, napas cepat, pernapasan yang tidak teratur, mengi, batuk, dan dispnea. Pemeriksaan paru biasanya merupakan tindakan yang sangat membantu dalam menegakkan diagnosis bronchitis atau pneumonia.

9. Pemeriksaan Jantung

Pada akhir kehamilan, 45% volume darah wanita hamil lebih tinggi dari pada volume darah wanita tidak hamil (Pritchard, 1965). Peningkatan volume darah ini menyebabkan uterus membesar dan melindungi ibu ketika darah keluara saat melahirkan. Pada wanita tidak hamil, murmur jantung sistolik bermakna. Pada wanita hamil yang asimptomatik, murmur derajat 1/6 atau 2/6 umumnya dianggap ringan. Apabila murmur sistolik lebih dari 2/6 atau terdengar bunyi murmur lain, lakukan ekokardiogram jika tersedia dana yang cukup.

10. Pemeriksaan Payudara

Payudara harus diperiksa umtuk mendeteksi setiap massa yang mungkin ganas dan setiap kondisi yang dapat mengganggu proses menyusui. Pastikan anda memeriksa putting dengan cermat, terutama jika klien berkeinginan menyusui bayinya. Tes “protaklitas” harus menjadi bagian pemeriksaan payudara pada wanita yang sebelumnya tidak mampu menyusui dengan baik.

a. Putting Susu yang Datar dan Inversi

“Breast Shell”, alat yang digunakan untuk menarik puting susu yang melesak kedalam, mulai digunakan pada minggu ke-28 kehamilan. Wanita yang memiliki payudara besar hampir selalu memiliki puting susu datar dan hal ini disebabkan berat payudara tersebut. Breast shell untuk putting susu yang datar tidak perlu digunakan pada periode prenatal.

b. Agenesis Mamaria

Salah satu kondisi yang menghalangi proses menyusui ialah agenesis mamaria, yaitu tidak adanya jaringan payudara. Pada pemriksaan awal, wanita yang mengalami agenesis mamaria disebut “dada rata”. Palpasi dan pemeriksaan yang saksama akan membantu menegakkkan diagnosis. Wanita yang mengalami agenesis mamaria akan menghasilkan ssejumlah kecil kolostrum dan air susu, tetapi jumlah tersebut tidak akan cukup untuk menyusui bayi.

c. Augmentasi dan Reduksi Payudara

Wanita yang menjalani reduksi payudara atau pembedahan augmentasi payudara akan mengalami masalah menyusui. Prosedur pembedahan reduksi payudara terdahulu dilakukan melalui penanaman kembali putting sehingga secra anatomi putting tampak pas. Sayangnya, saraf yang menuju ke areola dan putting sering terpotong sehingga mengganggu pengiriman pesan dari payudara keotak. Wanita yang pernah menjalani pembedahan semacam ini memprosuksi kolostrum dan air susu dalam jumlah yang biasanya tidak mencukupi. Penambahan berat badan bayi harus dipantau ketat. Kemungkinan pemberian makanan tambahan diperlukan untuk dipadukan dengan menyusui.

d. Metode Menyusui dan Pemeriksaan Payudara

Saat melakukan pemeriksaan payudara, klinisi memiliki kesempatan untuk menanyakan apakah wanita berencana menyusui bayinya. Hanya jika ibu mengonsumsi makanan yang bergizi, air susu, dianggap makanan yang paling baik bagi bayi. Beberapa wanita merasa tidak nyaman jika harus menyusui karena mereka menganggap menyusui adalah kegiatan yang membuat mereka merasa malu, nyeri, repot, dan menghabiskan energi serta waktu. Sedangkan wanita yang lain tidak ingin kehidupannya terkait karena keberadaan bayi atau menganggap pasangannya akan tidak berpartisipasi dalam perawatan bayi. Apabila klien pernah gagal menyusui, alasan keengganannya untuk kembali mencoba menyusui lebih mudah dipahami. Kegagalan tersebut mungkin berhubungan dengan kurangnya dukungan dan bantuan yang ia dapatkan perawatan.

e. Pemeriksaan Abdomen

Pemeriksaan abdomen di pertengan awal kehamilan harus dilakukan secara menyeluruh jika kondisi uterus yang membesar memungkinkan. Evaluasi adanya nyeri tekan, massa, hernia, pembesaran hati, dan kelenjar getah bening. Seiring kemajuan kehamilan, semakin sulit meraba organ lain seklain uterus. Perhatian khusus pada abdomen wanita hamil meliputi denyut jantung janin, tinggi fundus, dan presentasi janin.

11. Denyut Jantung Janin

Mendengarkan denyut jantung janin (DJJ) adalah bagian perawatan prenatal yang penting ketika usia gestasi klien mencapai 10 minggu. Usia ini kurang lebih merupakan saat DJJ dapat didengar dengan dopler. Agar denyut jantung bayi dapat didengar , tekan sedikit alat tersebut di atas simfisis pubis. Kemudian perlahan sejauh 360 derajat sampai denyut terdengar. Jika anda tidak mendengar apa- apa, gerakkan alat tersebut 1cm ke atas mendekati umbilikus sampai alat tepat dipertengahan antara simfisis dan umbilikus.

12. Pemeriksaan kebidanan ( status obsstetricus)

a. Dibagi dalam

1). Inspeksi (periksa pandang)

Muka:

Adakah chloasama gravidarum, keadaan selaput mata pucat atau merah, adakah oedema pada muka, bagaimana keadaan lidah, gigi.

Leher:

Apakah vena terbendung di leher (misalnya pada penyakit jantung), apakah kelenjar gondok membesar atau kelenjar limfa membengkak.

Dada: Bentuk buah dada, pigmentasi putting susu, dan gelanggang susu, keadaan putting susu,adakah colostrums

Perut :

Perut membesar ke depan atau ke samping (pada ascites misalnya membesar kesamping), keadaan pusat, pigmentasi di lenea alba, Nampakkah gerakan anak atau striae gravidarum atau bekas luka.

Vulva :

Keadaan perenium, carilah varices, tanda Chadwick, condylomata, flour.

Anggota bawah :

Cari varices, oedema, luka cicatrix pada lipat paha.

Bentuk buah dada, pigmentasi putting susu, dan gelanggang susu, keadaan putting susu, adakah colostrums

Perut:

Perut membesar ke depan atau ke samping (pada ascites misalnya membesar kesamping), keadaan pusat, pigmentasi di lenea alba, Nampakkah gerakan anak atau striae gravidarum atau bekas luka.

Vulva:

Ada oedema dan varises atau tidak

2). Palpasi (periksa raba)

Maksudnya periksa raba ialah untuk menentukan :

a). Besarnya rahim dan dengan ini menentukan tuanya kehamilan.

b). Menentukan letaknya anak dalam rahim.

Selain dari pada itu selalu juga harus diraba apakah ada tumor-tumor lain dalam rongga perut, kista, myoma, limpa yang membesar.

c). Cara melakukan palpasi ialah menurut leopodl yang terdiri atas 4 bagian :

Leopold I

- Kaki penderita dibengkokkan pada lutut dan lipat paha,

- Pemeriksa berdiri sebelah kanan penderita, dan melihat kea rah muka penderita

- Rahim dibawa ke tengah

- Tingginya fundus uteri ditentukan.

- Tentukan bagiian apa dari anak yang terdapat dalam fundus.

Sifat kepala ialah keras, bundar dan melenting. Sifat bokong lunak, kurang bundar dan kurang melenting. Pada letak lintang fundus uteri kosong. Pemeriksaan tuanya kehamilan dari tingginya fundus uteri.

Leopold II

- Kedua tangan pindah ke samping

- Tentukan dimana punggung anak. Punggung anak terdapat di fihak yang memberikan rintanggan yang terbesar, carilah bagian-bagian kecil yang biasanya terletak bertentangan dengan fihak yang member rintangan yang terbesar.

- Kadang-kadang di samping terdapat kepala atau bokong ialah pada letak lintang.

Leopold III

- Dipergunakan satu tangan saja

- Bagian bawah ditentukan antara ibu jari dan jari lainnya

- Cobalah bapakah bagian bawah masih dapat diigoyangkan. Leopold III untuk menentukan apa yang terdapat di bagian bawah dan apakah bagian bawah anak ini sudah atau belum terpegang oleh Pintu atas panggul.

Leoplod IV

- Pemeriksa berubah sikapnya ialah melihat kea rah kaki penderita.

- Dengan kedua tangan ditentukan apa yang menjadi bagian bawah.

- Ditentukan apakah bagian bawah sudah masuk kedalam pintu atas panggul, dan berapa masuknya bagian bawah ke dalam ronggga panggul.

- Jika kita rapatkan kedua tangan pada permukaan dari bagian terbawah dari krpala yang masih teraba dari luar.

Jadi, Leopold IV untuk menentukan apa yang menjadi bagian bawah dan berapa masuknya bagian bawah kedalam rongga panggul.

3). Aukultasi (periksa dengar)

Dilakukan dengan stetoskop monoaural tetapi dapat juga dipergunakan stetoskop kepala atau dengan deptone. Dengan stetoskop dapat didengar bermacam-macam bunyi berasal :

a). Gerak anak :

Bunyi jantung anak

Bising tali pusat

Gerakan anak

b). Dari ibu :

Bising rahim

Bunyi aorta

Bising usus

c). Bunyi jantung anak

Baru dapat didengar pada akhir bulan ke 5, walaupun dengan ultrasound (doptone) sudah didengar pada akhir bulan 3.

Frekuensi lebih cepat dari B.J orang dewasa ialah antara 120- 140 / menit.

Karena badan anak dalam kyphode dan didepan dada terdapat lengan anak maka B.J paling jelas terdengar di fihak punggung anak dekat pada kepala. Pada prentasi biasa (letak kepala) tempat ini kiri atau kanan dibawah pusat. Jika bagian-bagian anak belum dapat ditentukan, maka B.J harus dicari garis tengah diatas sympysis.

13. Tinggi Fundus

Pemeriksaan abdomen meliputi pengkajian subjektif ukuran uterus pada trimester pertama kehamilan, menghubungkan fundus uterus dengan umbilikus pada trimester kedua, dan mengukur tinggi fundus pada trimester terakhir dengan menggunakan meteran. Pada trimester pertama, ukuran uterus pada minggu ke-8 yang sesuai ialah sebesar bola tenis, sebesar buah jeruk pada minggu ke-10, dan sebesar buah anggur pada mingggu ke-12. Pada trimester kedua puncak uterus harus 3 – 4 lebar jari (fingerbreadths(FB)) di bawah umbilikus pada minggu ke-16; 1 – 2 FB di bawah umbilikus pada minggu ke-18; diumbilikus pada minggu ke-20;1 – 2 FB di atas umbilikus pada minggu ke 22; dan 3 – 4 FB di atasn umbilikus pada minggun ke- 24.

14. Presentasi

Pemeriksaan abdomen untuk menentukan presentasi janin harus dimulai pada minggu ke28 gestasi. Jika anda tidak yakin dengan presentasi janin diakhir kehamilan, pemeriksaan vagina dapt membantu. Jika garis sutura kepala janin dapat diraba dengan jari, maka presentasinya adlah verteks. Namun, berhati-hatilah karena kadang-kadang lipatan bokong sering keliru dipersepsikan sebagai garis sutura. Terabanya fontanel memastikan bahwa kepala bayi telah “turun”.

15. Pemeriksaan Ekstremitas

Pemeriksaan ekstremitas harus mencakup pengkajian refleks tendon dalam, pemeriksaan adanya edema tungkai dan vena varikosa, dan pemeriksaan ukuran tangan dan kaki, bentuk, serta letak jari tangan dan jari kaki. Kelainan menunjukkan kelainan genetik.

16. Pemeriksaan pelvis

Bagian terakhir pemeriksaan fisik adlah pemeriksaan pelvis. Pertama jelaskan kepada klien bahwa pemeriksaan ini terdiri dari tiga bagian: inspeksi area genital, insersi speculum, dan pemeriksaan uterus serta ovarium dengan memasukkan dua jari kedalam vagina, seangkan tangan lain berada diatas abdomen klien.

a. Genetalia Eksterna

Pemeriksaan genetalia dilakukan dengan mencari adanya lesi, eritema, perubahan warna, pembengkakan, ekskoriasi, dan memar. Pemeriksaan menyeluruh biasanya dilakukan dengan memisah labia mayora, dari minora dan dengan perlahan menarik ujung klitoris, kemudian periksa dengan cermat adanya lesi yang kemungkinan menunjukkan sifilis atau herpes.

b. Vagina dan Serviks

Setelah genetalia eksterna diperiksa, masukkan spekulum. Spekulum ini harus basah tetapi bebas lubrikan. Setelah spekulum dimasukkan, bersihkaan lendir sehingga serviks dapat terlihat.

17. Mengambil Spesimen

Pap Smear

Tes pap smear yang biksaik jika specimen yang diperoleh adekuat untuk diinterpretasi. Spesimen yang optimal untuk interpretasi pap smear ialah spesimen yang diperoleh dalam kondisi hubungan seksual dan douching vagina tidak dilakukan selama 24 jam sebelum dilakukan tes. Sampel pap smear diperoleh baik secara eksoserviks maupun endoserviks.

18. Pemeriksaan Uterus Bimanual

Apabila serviks dan dinding vagina telah diobservasi dan spesimen telah diambil, pemeriksaan bimanual dilakukan untuk memperkirakan ukuran uterus, memperkirakan panjang dandilatasi serviks. Jika panjang serviks 1cm atau kurang, wanita tersebut beresiko mengalami PTL. Ia juga beresiko mengalami PTL jika serviks berdilatasi sebelum minggu ke 28 atau jika dilatasinya pada minggu ke28 dan ke34 lebih dari 2cm.

19. Pelvimetri Klinis

Beberapa klinisi melakukan evaluasi tulang pelvis ssetelah pemeriksaan bimanual. Prosedur ini jarang dilakukan di Negara-negara maju karena di wilayah ini nutria cukup baik dan jenis penyakit cenderung tidak mempengaruhi tulang- tulang pelvis. Suatu “percobaan persalinan” hampir selalu menunjukkkan bahwa pengukuran pelvis tidak terlalu dibutuhkan kecuali jika ada deformitas yang nyata atau pernah terjdi fraktur pelvis/ pembedahan. Salah satu keuntungan pelvimetri klinis adalah bahwa prosedur ini member kesempatan untuk meyakinkan wanita bahwa ia mampu melahirkan pervaginam

Referensi :

Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Penerbit EGC, Jakarta.

Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.1983. Obstetri Fisiologi. Penerbit: Eleman, Bandung.

Mochtar, rustam. 2001. Sinopsis Obstetri. Penerbit : EGC, Jakarta.

Verrallas, Sylvia. 2003. Anatomi dan Fisiologi Terapan dalam Kebidanan edisi 3. Penerbit: EGC,

http://rhezvolution.wordpress.com/

http://mulkasem.blogspot.com/

http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com

1 komentar:

ima nurcahyanti mengatakan...

blog yang udah bagus tapi gak bisa di copy

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More