Rabu, 13 April 2011

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Pengertian

a. PPOK Merujuk pada sejumlah gangguan yang mempengaruhi pergerakan udara dari dan keluar Paru. Gangguan yang penting adalah Bronkhitis Obstruktif, Emphysema dan Asthma Bronkiale. (Black. J. M. & Matassarin,.E. J. 1993).

b. Suatu kondisi dimana aliran udara pada paru tersumbat secara terus menerus. Proses penyakit ini adalah seringkali kombinasi dari 2 atau 3 kondisi berikut ini (Bronkhitis Obstruktif Kronis, Emphysema dan Asthma Bronkiale) dengan suatu penyebab primer dan yang lain adalah komplikasi dari penyakit primer.(Enggram, B. 1996).

http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com

Bronkhitis Kronis

Gangguan klinis yang ditandai dengan pembentukan mucus yang berlebihan dalam bronkus dan termanifestasikan dalam bentuk batuk kronis dan pembentuk sputum selama 3 bulan dalam setahun, paling sedikit 2 tahun berturut – turut.

Emphysema

Perubahan anatomis parenkim paru yang ditandai pelebaran dinding alveolus, duktus alveolaris dan destruksi dinding alveolar

Asthma Bronkiale

Suatu penyakit yang ditandai dengan tanggap reaksi yang meningkat dari trachea dan bronkus terhadap berbagai macam rangsangan dengan manifestasi berupa kesukaran bernafas yang disebabkan oleh peyempitan yang menyeluruh dari saluran nafas.

Asthma dibedakan menjadi 2 :

1. Asthma Bronkiale Alergenik

2. Asthma Bronkiale Non Alergenik

Asthma tidak dibahas disini karena gejala dan tanda lebih spesifik dan ada pembahasan khusus mengenai penyakit asma

2. PATOGENESIS PPOK

Patofisiologi Bronkhitis Kronis dan Emphysema

New Picture (2)

3. Penyebab PPOK

a. Bronkitis Kronis

  1. Faktor tak diketahui
  2. Merokok
  3. Polusi Udara
  4. Iklim

b. Emphysema

  1. Faktor tak diketahui
  2. Predisposisi genetic
  3. Merokok
  4. Polusi udara

c. Asthma Bronkiale

Faktor Prediasposisi nya adalah :

  1. Alergen (debu, bulu binatang, kulit dll)
  2. Infeksi saluran nafas
  3. Stress
  4. Olahraga (kegiatan jasmani berat )
  5. obat-obatan
  6. Polusi udara
  7. lingkungan kerja
  8. Lain-lain, (iklim, bumbu masak, bahan pengawet dll)

4. Gambaran Klinis

a. Asthma Bronkiale

Selama serangan klien mengalami dispnea dan tanda kesulitan bernafas. Permulaan tanda serangan terdapat sensasi kontriksi dada (dada terasa berat), Whezing, batuk non produktif, takhi kardi dan takipnea.

b. Manifestasi klinis Emphysema dan bronkhitis kronis

Gambaran

Emphysema

Bronkhitis

Mulai timbul

Usia 30 – 40 tahun

20 – 30 tahun batuk akibat merokok (cacat pada usia pertengahan)

Sputum

Minimal

Banyak sekali

Dispne

Dispnea relatif dini

Lambat

Rasio V/Q

Ketidakseimbangan minimal

Ketidakseimbangan nyata

Bnetuk Tubuh

Kurus dan ramping

Gizi cukup

Diameter AP dada

Dada seperti tong

Tidak membesar

Gambaran respirasi

Hyperventilasi

hypoventilasi

Volume Paru

FEV 1 rendah

TLC dan RV meningkat

FEV 1 rendah

TLC normal RV meningkat moderat

Pa O2

Sa O 2

Norml/rendah

normal

Meningkat

Desaturasi

Polisitemia

normal

Hb dan Hematokrit meningkat

Sianosis

Jarang

sering

Managemen Medis

Intervensi medis bertujuan untuk :

1) Memelihara kepatenan jalan nafas dengan menurunkan spasme bronkus dan membersihkan secret yang berlebihan

2) Memelihara keefektifan pertukaran gas

3) Mencegah dan mengobati infeksi saluran pernafasan

4) Meningkatkan toleransi latihan.

5) Mencegah adanya komplikasi (gagal nafas akut dan status asmatikus)

6) Mencegah allergen/iritasi jalan nafas

7) Membebaskan adanya ansietas dan mengobati depresi yang sering menyertai adanya obstruksi jalan nafas kronis.

Managemen medis yang diberikan berupa :

1) Pharmacologic management

a) Anti inflamasi ( kortikosteroid, sodium kromolin dll)

b) Bronkodilator

Adrenergik : efedrin, epineprin, beta adrenergik agonis selektif

Non adrenergik : aminophilin, tefilin

c) Antihistamin

d) Steroid

e) Antibiotic

f) Ekspektoran

Oksigen digunakan 3 l/m dengan cannula nasal.

2) Hygiene Paru.

Bertujuan untuk membersihkan sekret dari paru-paru dan kemudian meningkatkan kerja silia dan menurunkan resiko infeksi.

Dilaksanakan dengan nebulizer, fisioterapi dada, postural drainase

3) Exercise

Bertujuan untuk mempertinggi kebugaran dan melatih fungsi otot skeletal agar lebih efektif.

Dilaksanakan dengan jalan sehat.

4) Menghindari bahan iritans

Penyebab iritans jalan nafas harus dihindari seperti asap rokok dan perlu juga mencegah adanya alergen yang masuk tubuh.

5) Diet

Klien sering mengalami kesulitan makan karena adanya dipsnea. Pemberian porsi yang kecil namun sering lebih baik daripada makan langsung banyak.

 

Management Keperawatan

Pengkajian :

1. Riwayat atau faktor penunjang :

  • Merokok merupakan faktor penyebab utama.
  • Tinggal atau bekerja di area dengan polusi udara berat.
  • Riwayat alergi pada keluarga
  • Riwayat Asthma pada anak-anak.

2. Riwayat atau adanya faktor pencetus eksaserbasi :

  • Alergen.
  • Stress emosional.
  • Aktivitas fisik yang berlebihan.
  • Polusi udara.
  • Infeksi saluran nafas.

3. Pemeriksaan fisik :

a. Manifestasi klinik Penyakit Paru Obstruktif Kronik :

  • Peningkatan dispnea.
  • Penggunaan otot-otot aksesori pernafasan (retraksi otot-otot abdominal, mengangkat bahu saat inspirasi, nafas cuping hidung).
  • Penurunan bunyi nafas.
  • Takipnea.

b. Gejala yang menetap pada penyakit dasar

Asthma

  • Batuk (mungkin produktif atau non produktif), dan perasaan dada seperti terikat.
  • Mengi saat inspirasi maupun ekspirasi yang dapat terdengar tanpa stetoskop.
  • Pernafasan cuping hidung.
  • Ketakutan dan diaforesis.

Bronkhitis

  • Batuk produktif dengan sputum berwarna putih keabu-abuan, yang biasanya terjadi pada pagi hari.
  • Inspirasi ronkhi kasar dan whezzing.
  • Sesak nafas

Bronkhitis (tahap lanjut)

  • Penampilan sianosis
  • Pembengkakan umum atau “blue bloaters” (disebabkan oleh edema asistemik yang terjadi sebagai akibat dari kor pulmunal).

Emphysema

  • Penampilan fisik kurus dengan dada “barrel chest” (diameter thoraks anterior posterior meningkat sebagai akibat hiperinflasi paru-paru).
  • Fase ekspirasi memanjang.

Emphysema (tahap lanjut)

  • Hipoksemia dan hiperkapnia.
  • Penampilan sebagai “pink puffers”
  • Jari-jari tabuh.

4. Pemeriksaan diagnostik

Test faal paru

1) Kapasitas inspirasi menurun

2) Volume residu : meningkat pada emphysema, bronkhitis dan asthma

3) FEV1 selalu menurun = derajat obstruksi progresif Penyakit Paru Obstruktif Kronik

4) FVC awal normal - menurun pada bronchitis dan astma.

5) TLC normal sampai meningkat sedang (predominan pada emphysema).

Transfer gas (kapasitas difusi).

Pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik Transfer gas relatif baik.

Pada emphysema : area permukaan gas menurun.

Transfer gas (kapasitas difusi).menurun

Darah :

Hb dan Hematokrit meningkat pada polisitemia sekunder.

Jumlah darah merah meningkat

Eo dan total IgE serum meningkat.

Analisa Gas Darah -- gagal nafas kronis.

Pulse oksimetri - SaO2 oksigenasi menurun.

Elektrolit menurun oleh karena pemakaian deuritika pada cor pulmunale.

Analisa Gas Darah

PaO2 menurun, PCO2 meningkat, sering menurun pada astma. PH normal asidosis, alkalosis respiratorik ringan sekunder.

Sputum :

Pemeriksaan gram kuman/kultur adanya infeksi campuran.

Kuman patogen >> :

  • Streptococcus pneumoniae.
  • Hemophylus influenzae.
  • Moraxella catarrhalis.

Radiologi :

Thorax foto (AP dan lateral).

Hiperinflasi paru-paru, pembesaran jantung dan bendungan area paru-paru.

Pada emphysema paru :

  • Distensi >
  • Diafragma letak rendah dan mendatar.
  • Ruang udara retrosternal > (foto lateral).
  • Jantung tampak memanjang dan menyempit.

Bronkogram : menunjukkan dilatasi bronkus, kolap bronkhiale pada ekspirasi kuat.

EKG.

Kelainan EKG yang paling dini adalah rotasi clock wise jantung. Bila sudah terdapat Kor Pulmonal terdapat deviasi aksis ke kanan dan P- pulmonal pada hantaran II, III dan aVF. Voltase QRS rendah. Di V1 rasio R/S lebih dari 1 dan di V6 V1 rasio R/S kurang dari 1. Sering terdapat RBBB inkomplet.

5. Lain-lain perlu dikaji Berat badan, rata-rata intake cairan dan diet harian.

Aktivitas dan Istirahat

 

Gejala

Keletihan, kelelahan, malaise

 

Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernafas. Perlu tidur dalam posisi duduk cukup tingi. Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan

Tanda

Kelelahan, gelisah, insomnia, kelemahan umum/kehilangan masa otot

Sirkulasi

 

Gejala

Pembengkakan pada ekstremitas bawah

Tanda

Peningkatan tekanan darah. Peningkatan frekuensi jantung

Distensi vena leher, sianosis perifer

Integritas ego

 

Gejala/tanda

Ansietas, ketakutan dan peka rangsang

Makanan/cairan

 

Gejala

Mual/muntah, Nafsu makan menurun, ketidakmampuan makan karena distress pernafasan

Penurunanan BB menetap (empisema) dan peningkatan BB karena edema (Bronkitis)

Tanda

Turgor kulit buruk, edema, berkeringat, penurunan BB, penurunan massa otot

Hygiene

 

Gejala

Penurunan Kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas tubuh

Tanda

Kebersihan buruk, bau badan

Pernafasan

 

Gejala

Nafas pendek, khususnya pada saat kerja, cuaca atau episode serangan asthma, rasa dada tertekan/ketidakmampuan untuk bernafas. Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari selama 3 bulan berturut-turut selam 3 tahun sedikitnya 2 tahun. Sputum hijau, putih, kuning dengan jumlah banyak (bronchitis)

Episode batuk hilang timbul dan tidak produktif (empisema),

Riwayat Pneumonia, riwayat keluarga defisiensi alfa antitripsin

Tanda

Respirasi cepat dangkal, biasa melambat, fas ekspirasi memanjang dengan mendengkur, nafas bibir (empisema)

Pengguanaan otot Bantu pernafasan, Dada barell chest, gerakan diafragma minimal. Bunyi nafas, Ronki, wheezing, redup

Perkusi hypersonor pada area paru (udara terjebak, dan dapat juga redup/pekak karena adanya cairan).

Kesulitan bicara 94 – 5 kalimat 0

Sianosis bibir dan dasar kuku, jari tabuh.

Seksualitas

Libido menurun

Interaksi sosial

 

Gejala

Hubungan ketergantungan, kurang sisitem pendukung

tanda

Keterbatasan mobilitas fisik

Kelalaian hubungan antar keluarga

Diagnosa keperawatan

  1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan pembatasan jalan nafas, kelelahan otot pernafasan, peningkatan produksi mukus atau spasme bronkus.
  2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan batuk, peningkatan produksi mukus/peningkatan sekresi lendir
  3. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakadekuatan intake nutrisi sekunder terhadap peningkatan kerja pernafasan atau kesulitan masukan oral sekunder dari anoreksia.
  4. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.
  5. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adequatnya immunitas tubuh
  6. Kurang pengetahuan berhu bungan dengankurang informasi

Perencanaan

Perencanaan meliputi penyusunan prioritas, tujuan dan kriteria hasil dari masing-masing masalah yang ditemukan.

Tujuan Penatalaksanaan

  • Mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup.
  • Pemeliharaan fungsi paru yang optimal dalam waktu singkat dan panjang.
  • Pencegahan dan penanganan eksaserbasi.
  • Mengurangi perburukan fungsi paru setiap tahunnya.

Kriteria Keberhasilan :

  • Berkurangnya gejala sesak nafas.
  • Berkurangnya frekuensi dan lamanya eksaserbasi.
  • Membaiknya faal paru.
  • Menurunnya gejala psikologik (depresi, kecemasan).
  • Memperbaiki kualitas hidup.
  • Dapat melakukan aktifitas sehari-hari.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan

Rencana tindakan

Rasional

1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan pembatasan jalan nafas, kelelahan otot pernafasan, peningkatan produksi mukus atau spasme bronkus.

Klien mampu menunjukkan perbaikan oksigenasi.

Kriteria hasil

1. Gas arteri dalam batas normal

2. Warna kulit perifer membaik (tidak cianosis)

3. RR : 12 – 24 x /menit

4. Bunyi nafas bersih

5. Batuk (-)

6. Ketidaknyamanan dada (–)

7. Nadi 60 – 100 x/menit

8. Dyspnea (–)

1. Observasi status pernafasan, hasil gas darah arteri, nadi dan nilai oksimetri

2. Awasi perkembangan membran mukosa / kulit (warna)

3. Observasi tanda vital dan status kesdaran.

4. Evaluasi toleransi aktivitas dan batasi aktivitas klien

5. Berikan oksigenasi yang telah dilembabkan

6. Pertahankan posisi fowler dengan tangan abduksi dan disokong dengan bantal atau duduk condong ke depan dengan ditahan meja.

7. Kolaborasi untuk

a. Berikan obat yang telah diresepkan

b. Berikan obat depresan saraf dengan hati-hati (sedatif/narkotik).

1. Memantau perkembangan kegawatan pernafasan

2. Gangguan Oksigenasi perifer tampak cianosis

3. Menentukan status pernafasan dan kesadaran

4. Mengurangi penggunaan energi berlebihan yang membutuhkan banyak Okigen

5. Memenuhi kebutuhan oksiegen

6. Meningkatkan kebebasan suplay oksiegn

7. Obat depresan akan mendepresi system pernafasan dan menyebabkan gagal nafas

2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan batuk, peningkatan produksi mukus/peningkatan sekresi lendir

Klien dapat mening-katkan bersihan jalan nafas

Kriteria hasil

1. Mampu mendemonstrasikan batuk terkontrol

2. Intake cairan adekuat

1. Kaji kemampuan klien untuk memobilisasi sekresi, jika tidak mampu :

a. Ajarkan metode batuk terkontrol

b. Gunakan suction (jika perlu untuk mengeluarkan sekret)

c. Lakukan fisioterapi dada

2. Secara rutin tiap 8 jam lakukan auskultasi dada untuk mengetahui kualitas suara nafas dan kemajuannya.

3. Berikan obat sesuai dengan resep; mukolitik, ekspektorans

4. Anjurkan minum kurang lebih 2 liter per hari bila tidak ada kontra indikasi

5. Anjurkan klien mencegah infeksi / stressor

a. Cegah ruangan yang ramai pengunjung atau kontak dengan individu yang menderita influenza

b. Mencegah iritasi : asap rokok

c. Imunisasi : vaksinasi Influensa.

1. Memantau tingkat kepatenan jalan nafas dan meningkatkan kemampuan klien merawat diri / membersihkan/membebaskan jalan nafas

2. Memantau kemajuan bersihan jalan nafas

3. Mengencerkan secret agar mudah dikeluarkan

4. mengencerkan sekert

5. Menghindarkan bahan iritan yang menyebabkan kerusakan jalan nafas

3. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakadekuatan intake nutrisi sekunder terhadap peningkatan kerja pernafasan, kesulitan masukan oral sekunder dari anoreksia

Klien akan menunjukkan kemajuan/peningkatan status nutrisi

Kriteria hasil

a. Klien tidak mengalami kehilangan BB lebih lanjut

b. Masukan makanan dan cairan meningkat

c. Urine tidak pekat

d. Output urine meningkat.

e. Membran mukosa lembab

f. Kulit tidak kering

g. Tonus otot membaik

1. Kaji kebiasaan diit. Catat derajat kesulitan makan/masukan. Evaluasi BB

2. Berikan perawaatan oral

3. Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbont

4. Sajikan menu dalam keadaan hangat

5. Anjurkan makan sedikit tapi sering

6. Kolaborasi tim nutrisi untuk menentukan diit

1. Pasien distress pernafasan sering anoreksia. Dan juga sering mempunyai pola makan yang buruk. Sehingga cenderung Bb menurun

2. kebersihan oral menhilangkan bakteri penumbuh bau mulut dan eningkatkan rangsangan /nafsu makan

3. menimbulkan distensi abdomen dan meningkatkan dispnea

4. Menu hangat mempenga-ruhi relaksasi spingkter / saluran pencrnaan shg respon mual/muntah berkurang

5. menegah perut penuh dan menurunkan resiko mual

6. Menentukan diit yang tepat sesuai perhitungan ahli gizi

4. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.

Tujuan : rasa cemas berkurang/hilang.

Kriteria Hasil :

1. Klien mengungkapkan bahwa ia tidak cemas.

2. Ekspresi wajah rileks.

3. RR : 12 – 24 X / menit.

4. N : 60 - 100 X / menit

1. Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.

2. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.

3. Lakukan pendekatan kepada klien dengan tenang dan meyakinkan dan hindari pemberian informasi atau instruksi yang bertele-tele dan terus menerus.

4. Berikan penjelasan yang sederhana dan singkat tentang tujuan intervensi dan pemeriksaan diagnostik serta anjurkan kepada klien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan.

5. Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.

6. Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara bergantian.

7. Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.

1. Untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat.

2. Dapat meringankan beban pikiran pasien.

3. Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan.

4. Penjelasan yang sederhana dan singkat tentang tujuan intervensi dan pemeriksaan diagnostik serta anjurkan kepada klien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan dapat mengurangi beban pikiran pasien.

5. Sikap positif dari tim kesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien.

6. Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu.

7. Lingkung yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien.

daftar pustaka

Alsagaff Hood, Abdul Mukty, (1995). Dasar – Dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga University Press. Surabaya.

Amin muhammad, Hood Alsagaff. (1989). Pengantar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga University Press. Surabaya.

Blac,MJ Jacob. (1993). l.uckman & Sorensen’s Medical surgical Nursing A Phsycopsicologyc Approach. W.B. Saunders Company. Philapidelpia.

Barbara Engram. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Vol. 1. Penerbit EGC. Jakarta.

Marylin E doengoes. (2000). Rencana Asuhan keperawatan Pedoman untuk Perencnaan /pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC.Jakarta.

Soeparman, Sarwono Waspadji. (1990). Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.

Sylvia Anderson Price, Lorraine McCarty Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Klinis Proses - Proses Penyakit. EGC. Jakarta.

Yunus Faisal. (1992). Pulmonologi Klinik. Bagian Pulmonologi FKUI. Jakarta.

 

LAPORAN KASUS (PROSES KEPERAWATAN)

Nama Mahasiswa : Subhan

N I M : 010030170 B

Ruang : Paru Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo.

Pengkajian diambil tanggal : 20 Mei 2002. Jam 08.00 BBWI

1. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn Ahmad Marjuki No. Regester : 10081519

Umur : 56 Tahun.

Jenis Kelamin : Laki-laki.

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia

Agama : Islam

Status Marietal : Kawin

Pekerjaan : PNS

Pendidikan : SLTA

Bahasa yang digunakan : Indonesia

Alamat : Ampel Madrasah 18 Surabaya.

Tanggal MRS : 15 Mei 2002 Jam…………..…. WIB.

Cara Masuk : Lewat Instalasi Rawat Darurat RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Diagnosa Medis : PPOK

Alasan Dirawat : Mendapatkan pertolongan pemberian Oksigen

Keluhan Utama : Sesak nafas.

2. RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)

1) Riwayat Penyakit Dahulu

Sesak nafas kumat-kumatan sejak 5 tahun yang lalu. Klien pernah MRS dengan penyakit yang sama selama 8 kali. Mempunyai riwayat Asthma Bronkiale sejak kecil. Klien merokok selama 30 tahun sebanyak 2 pak/hari.

2) Riwayat Penyakit Sekarang

Sesak nafas kumat-kumatan sejak 5 tahun yang lalu, 5 hari ini sesak bertambah berat, sudah minum obat + aerosol tetapi tetap sesak. Sesak nafas pada waktu berbaring, duduk, berdiri maupun berjalan. Sebelumnya batuk berdahak (+), warna putihkekuningan

3) Riwayat Kesehatan Keluarga

Orang tua dan anak dari klien ada juga yang menderita penyakit seperti yang diderita klien saat ini.

4) Keadaan Kesehatan Lingkungan

Klien mengatakan bahwa Lingkungan rumah tempat tinggal cukup bersih.

5) Riwayat Kesehatan Lainnya

Alat bantu yang dipakai : ………………………………………………..

3. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK

1) Keadaan Umum : baik

2) Tanda-tanda vital

Suhu : 36,8 0C

Nadi : 100 X/menit. Kuat dan teratur

Tekanan darah : 100/60 mmHg.

Respirasi : 32 x/menit

3) Body Systems

(1) Pernafasan (B 1 : Breathing)

Pernafasan melalui hidung. Frekuensi 32 x/menit. Nafas pendek, khususnya pada saat kerja, cuaca atau episode serangan asthma, rasa dada tertekan/ketidakmampuan untuk bernafas. Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari selama 3 bulan berturut-turut selama 3 tahun sedikitnya 2 tahun. Sputum putihkekuningan dengan jumlah banyak. Pengguanaan otot bantu pernafasan, Dada barell chest, gerakan diafragma minimal. Bunyi nafas, Ronki, wheezing, redup. Perkusi hypersonor pada area paru. Sianosis bibir dan dasar kuku, jari tabuh.

Hasil foto Thorax PA tanggal 15 Mei 2002:

Cor : bentuk Tear Drops

Pulmo : Tampak bronchopulmonary Pattern sedikit meningkat hiperacrated kedua paru.

Kedua sinus Phrenicocostalis tumpul (tampak tenting pada kedua hemidiafragma).

Tampak perselubungan homogen pada hemithorax kanan bawah lateral.

Tampak callus formation pada costa 5, 6, 7, dan 8 kanan belakang.

Kesimpulan : Emphysematous Lung, Efusi Pleura bilateral yang telah mengalami organisasi bekas fraktur Costa 5, 6, 7, dan 8 kanan belakang.

(2) Cardiovascular (B 2 : Bleeding)

Nadi 100 X/menit kuat dan teratur, tekanan darah 100/60 mmHg, Suhu 36,8 0C, Pembengkakan pada ekstremitas bawah. Distensi vena leher, sianosis perifer.

Hasil EKG tanggal 17 Mei 2002:

Sinus takikardi disertai PAC dan PVC oleh karena pemberian Aminophyllin (Efek Aritmogenik).

(3) Persyarafan (B 3 : Brain)

Tingkat kesadaran (GCS) Membuka mata : Spontan (4)

Verbal : Orientasi baik (5)

Motorik : Menurut perintah (6)

Compos Mentis : Pasien sadar baik.

Persepsi Sensori : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

Pendengaran : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

Penciuman : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

Pengecapan : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

Penglihatan : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

Perabaan : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

(4) Perkemihan-Eliminasi Uri (B.4 : Bladder)

Jumlah urine 1200 cc/24 jam, warna urine kuning muda.

(5) Pencernaan-Eliminasi Alvi (B 5 : Bowel)

Mulut dan tenggorokan normal, Abdomen normal, Peristaltik normal, tidak kembung, tidak terdapat obstipasi maupun diare, Rectum normal, klien buang air besar 1 X/hari.

(6) Tulang-Otot-Integumen (B 6 : Bone)

Kemampuan pergerakan sendi bebas/terbatas

Parese ada/tidak, Paralise ada/tidak, Hemiparese ada/tidak,

Ekstrimitas : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

Atas : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

Bawah : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

Tulang Belakang : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

Warna kulit : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

Akral : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

Turgor : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

Tidak terdapat kontraktur maupun dikubitus.

(7) Sistem Endokrin

Terapi hormon : (-)

Karakteristik sex sekunder : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

Riwayat pertumbuhan dan perkembangan fisik : Tidak ada kelainan/ Dalam batas normal.

Postural hipotensi : (-).

Pola aktivitas sehari-hari

(1) Pola Persepsi Dan Tata Laksana Hidup Sehatan

Pada klien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik terjadi perubahan persepsi dan tata laksana hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak Penyakit Paru Obstruktif Kronik sehingga menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama, oleh karena itu perlu adanya penjelasan yang benar dan mudah dimengerti pasien.

(2) Pola Nutrisi dan Metabolisme

Akibat mual/muntah, nafsu makan menurun, ketidakmampuan makan karena distress pernafasan maka berat badan menurun dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan penderita.

TB = 162 cm. BB = 33 kg. ® BB Edial = (162 – 100) – 10% = 56 kg.

(3) Pola Eliminasi

Jumlah urine 1200 cc/24 jam, warna urine kuning muda.

Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan. Klien buang air besar 1 X/hari.

(4) Pola tidur dan Istirahat

Perlu tidur dalam posisi duduk cukup tingi. Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan.

Tanda : gelisah, insomnia.

(5) Pola Aktivitas dan latihan

Keletihan, kelelahan, malaise. Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernafas. Kelelahan, kelemahan umum/kehilangan masa otot.

(6) Pola Hubungan dan Peran

Hubungan ketergantungan, kurang sisitem pendukung.

Keterbatasan mobilitas fisik.

Kelalaian hubungan antar keluarga.

(7) Pola Sensori dan Kognitif

Klien mampu melihat dan mendengar dengan baik, klien tidak mengalami disorientasi.

(8) Pola Persepsi Dan Konsep Diri

Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. Lamanya perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga (self esteem). Klien mengalami cemas karena Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

(9) Pola Seksual dan Reproduksi

Libido menurun, gangguan potensi seksual, gangguan kualitas maupun ereksi, serta memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme. Selama dirawat di rumah sakir klien tidak dapat melakukan hubungan seksual seperti biasanya.

(10) Pola mekanisme/Penanggulangan Stress dan koping

Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, perasaan tidak berdaya karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif berupa kecemasan (Ansietas), ketakutan dan peka rangsang, mudah tersinggung dan marah, dapat menyebabkan penderita tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang konstruktif / adaptif.

(11) Pola Tata Nilai dan Kepercayaan

Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh berupa PPOM tidak menghambat klien dalam melaksanakan ibadah tetapi mempengaruhi pola ibadah klien.

Personal Higiene

Penurunan Kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas tubuh ® Kebersihan buruk, bau badan.

Ketergantungan

Klien tidak mempunyai kebiasaan minum-minuman yang mengandung alkohol.

Klien mempunyai kebiasaan merokok sejak 30 tahun yang lalu dan mampu menghabiskan 2 pak / hari.

Aspek Psikologis

Klien terkesan takut akan penyakitnya, merasa terasing dan sedikit stress menghadapi tindakan yang diprogramkan.

Aspek Sosial/Interaksi

Hubungan ketergantungan, kurang sisitem pendukung.

Keterbatasan mobilitas fisik. Kelalaian hubungan antar keluarga.

Aspek Spiritual

Klien dan keluarganya sejak kecil memeluk agama Islam, ajaran agama dijalankan setiap saat. Klien sangat aktif menjalankan ibadah dan aktif mengikuti kegiatan agama yang diselenggarakan oleh mesjid di sekitar rumah tempat tinggalnya maupun oleh masyarakat setempat.

Saat ini klien merasa tergangguan pemenuhan kebutuhan spiritualnya

DIAGNOSTIC TEST/PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hasil pemeriksaan Laboratorium.

Darah lengkap tanggal : 15 Mei 2002.

- Hb : 10,7 gr% mg/dl (L 13,5 – 18,0 – P 11,5 – 16,0 mg/dl)

- Leukosit : 18.600 (4000 – 11.000).

- Trombosit : 381 (150 – 350).

- PCV : 0,33

Faal Hati tanggal : 15 Mei 2002.

- SGOT : 20 (L < 37 P < 31) U/L

Faal Ginjal tanggal : 15 Mei 2002.

- Ureum/BUN : 12 mg/dl (10 – 45)

- Serum Creatinin : 0,93 mg/dl (L : 0,9 – 1,5 P : 0,7 – 1,3)

Darah lengkap tanggal : 20 Mei 2002.

- Hb : 10,6 gr% mg/dl (L 13,5 – 18,0 – P 11,5 – 16,0 mg/dl)

- LED : 100 (L 0 – 15/jam P 0 – 20/jam

- Leukosit : 17.600 (4000 – 11.000).

- Hematokrit : 31,1 (L 0,40 – 0,47 P 0,38 – 0,42)

- Trombosit : 421 (150 – 350)

- PCV : 0,33

Gula darah tanggal : 20 Mei 2002.

- Glukosa Puasa : 50 mg/dl (< 126 mg/dl)

Lemak tanggal : 20 Mei 2002.

- Cholesterol Total : 217 (100 - 240)

Faal Hati tanggal : 20 Mei 2002.

- Alkali Phospatase : 261

- SGOT : 29,2 (L < 37 P < 31) U/L

- SGPT : 16,11 (L < 40 P < 31) U/L

- Albumin : 3,81 gr/dl (3,2 – 3,5 gr/dl)

Faal Ginjal tanggal : 20 Mei 2002.

- Uric Acid : 4,13 mg/dl (L : 3,4 – 7,0 P 2,4 – 5,7)

Elektrolit tanggal : 20 Mei 2002.

- Natrium : 136 mmol/l (135 – 145 mmol/l)

- Kalium : 2,2 mmol/l (3,5 – 5,5 mmol/l)

Gas Darah Analisa :

- PH : (7,35 – 7,45)

- PO2 : (80 – 100) mmHg

- PCO2 : (35 – 45) mmHg

- HCO3 : (22 – 26) mmol/L

- BE : (- 2,5 - + 2,5) mmol/L


TERAPI :

- Oksigen 2 Lt/mt

- Inj Cepotaxime 3 X 1 gr.

- Tab Cefrofloxacin 2 X 500 mg

- Atroven Nebulizer 4 x / hr.

- Bricasma Nebulizer 4 x / hr.

- Syr Antacid 3 X 1 C1

- Tab Ranitidin 2 X 1

- Tab Codein 3 X 10 mg

- Infus RL drip KCl 25 mg/24 jam

Tanda tangan mahasiswa

 

ANALISA DAN SINTESA DATA

NO

D A T A

ETIOLOGI

MASALAH

1.

S :

Klien mengatalakn sesak nafas. rasa dada tertekan/ketidakmampuan untuk bernafas.

O :

1. Warna kulit perifer cianosis.

2. RR : 32 x /menit.

3. Nafas pendek.

4. Pengguanaan otot bantu pernafasan

5. Sianosis bibir dan dasar kuku, jari tabuh.

peningkatan produksi mukus.

Gangguan pertukaran gas

2.

S :

Klien mengatakan selalu ingin batuk.

Klien mengatakan mempunyai kebiasaan merokok sejak 30 tahun yang lalu dan mampu menghabiskan 2 pak / hari.

O :

1. Bunyi nafas : Ronki, wheezing, redup.

2. Perkusi hypersonor pada area paru.

3. Batuk menetap dengan produksi sputum (+)

peningkatan produksi mukus/peningkatan sekresi lendir

Bersihan jalan nafas tidak efektif

3.

O :

Klien hanya makan beberapa sendok dari makanan yang disajikan.

S :

Klien mengeluh sesak nafas pada waktu makan

Intake makanan yang kurang.

Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

4.

O :

S :

Klien mengatalakn cemas karena Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

Lamanya perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan dan gangguan peran pada keluarga (self esteem).

Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.

Cemas

5.

O :

S :

Klien mengatakan kurang mengetahui tentang proses penyakit, perawatan maupun pengobatan serta kurangnya pengetahuan tentang diet.

Kurangnya informasi.

Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan produksi mukus.

2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi mukus/peningkatan sekresi lendir

3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan Intake makanan yang kurang.

4. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.

5. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

RENCANA TINDAKAN

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

RENCANA TINDAKAN

RASIONAL

1.

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan produksi mukus.

Klien mampu menunjukkan perbaikan oksigenasi.

Kriteria hasil

1. Warna kulit perifer membaik (tidak cianosis)

2. RR : 12 – 24 x /menit

3. Nafas panjang

4. Tidak menggunakan otot bantu pernafasan.

5. Ketidaknyamanan dada (–)

6. Nadi 60 – 100 x/menit.

7. Dyspnea (–)

1. Observasi status pernafasan, hasil gas darah arteri, nadi dan nilai oksimetri.

2. Awasi perkembangan membran mukosa / kulit (warna).

3. Observasi tanda vital dan status kesadaran.

4. Evaluasi toleransi aktivitas dan batasi aktivitas klien.

5. Berikan oksigenasi yang telah dilembabkan.

6. Pertahankan posisi fowler dengan tangan abduksi dan disokong dengan bantal atau duduk condong ke depan dengan ditahan meja.

7. Kolaborasi untuk pemberian obat yang telah diresepkan.

1. Memantau perkembangan kegawatan pernafasan.

2. Gangguan Oksigenasi perifer tampak cianosis.

3. Menentukan status pernafasan dan kesadaran.

4. Mengurangi penggunaan energi berlebihan yang membutuhkan banyak Okigen.

5. Memenuhi kebutuhan oksiegen.

6. Meningkatkan kebebasan suplay oksiegn.

7. Obat mukolitik dan ekspektoransia akan mengencerkan produksi mukus yang mengental.

2.

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi mukus/peningkatan sekresi lendir

Klien dapat meningkatkan bersihan jalan nafas

Kriteria hasil

1. Bunyi nafas bersih/Vesikuler

2. Batuk (-)

3. Mampu mendemonstrasikan batuk terkontrol.

4. Intake cairan adekuat

1. Kaji kemampuan klien untuk memobilisasi sekresi, jika tidak mampu :

a. Ajarkan metode batuk terkontrol

b. Gunakan suction (jika perlu untuk mengeluarkan sekret)

c. Lakukan fisioterapi dada

2. Secara rutin tiap 8 jam lakukan auskultasi dada untuk mengetahui kualitas suara nafas dan kemajuannya.

3. Berikan obat sesuai dengan resep; mukolitik, ekspektorans

4. Anjurkan minum kurang lebih 2 liter per hari bila tidak ada kontra indikasi

5. Anjurkan klien mencegah infeksi / stressor

a. Cegah ruangan yang ramai pengunjung atau kontak dengan individu yang menderita influenza

b. Mencegah iritasi : asap rokok

c. Imunisasi : vaksinasi Influensa.

1. Memantau tingkat kepatenan jalan nafas dan meningkatkan kemampuan klien merawat diri / membersihkan/membebaskan jalan nafas.

2. Memantau kemajuan bersihan jalan nafas.

3. Mengencerkan secret agar mudah dikeluarkan.

4. mengencerkan sekert.

5. Menghindarkan bahan iritan yang menyebabkan kerusakan jalan nafas

3.

Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan Intake makanan yang kurang.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi

Kriteria hasil :

1. Berat badan dan tinggi badan ideal.

2. Pasien mematuhi dietnya.

1. Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan.

2. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan.

3. Timbang berat badan setiap seminggu sekali.

4. Identifikasi perubahan pola makan.

5. Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian diet Tinggi Kalori dan Tinggi Protein.

1. Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat.

2. Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia/hiperglikemia.

3. Mengetahui perkembangan berat badan pasien (berat badan merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet).

4. Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan.

5. Pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat proses penyembuhan dan mencegah komplikasi.

4.

Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.

Tujuan : rasa cemas berkurang/hilang.

Kriteria Hasil :

1. Pasien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan.

2. Emosi stabil., pasien tenang.

3. Istirahat cukup.

1. Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.

2. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.

3. Gunakan komunikasi terapeutik.

4. Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan.

5. Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.

6. Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara bergantian.

7. Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.

1. Untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat.

2 Dapat meringankan beban pikiran pasien.

3 Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan.

4 Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien.

5 Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien.

6 Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu.

7 Lingkung yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien.

5.

Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya.

Kriteria Hasil :

1. Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya.

2. Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.

1. Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit paru obstruktif kronik.

2. Kaji latar belakang pendidikan pasien.

3. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.

4. Jelasakan prosedur yang kan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya.

1. Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga.

2. Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien.

3. Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.

4. Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secra langsung dalam tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang.

TINDAKAN KEPERAWATAN DAN EVALUASI (SOAP)

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TINDAKAN KEPERAWATAN

EVALUASI (SOAP)

1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan produksi mukus.

1. Mengobservasi status pernafasan, nadi dan tekanan darah.

2. Mengawasi perkembangan membran mukosa / kulit (warna).

3. Mengobservasi tanda vital dan status kesadaran.

4. Mengevaluasi toleransi aktivitas dan batasi aktivitas klien.

5. Memberikan oksigenasi yang telah dilembabkan.

6. Mempertahankan posisi fowler dengan tangan abduksi dan disokong dengan bantal atau duduk condong ke depan dengan ditahan meja.

7. Mengkolaborasikan untuk pemberian obat yang telah diresepkan.

S :

O :

1. Warna kulit perifer membaik (tidak cianosis)

2. RR : 12 – 24 x /menit

3. Ketidaknyamanan dada (–)

4. Nadi 60 – 100 x/menit.

5. Dyspnea (–)

A : Tujuan Berhasil

P : Intervensi dihentikan

2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi mukus/peningkatan sekresi lendir

1. Mengkaji kemampuan klien untuk memobilisasi sekresi, jika tidak mampu :

a. Mengajarkan metode batuk terkontrol

b. Menggunakan suction (jika perlu untuk mengeluarkan sekret)

c. Melakukan fisioterapi dada

2. Secara rutin tiap 8 jam melakukan auskultasi dada untuk mengetahui kualitas suara nafas dan kemajuannya.

3. Memberikan obat sesuai dengan resep; mukolitik, ekspektorans

4. Menganjurkan minum kurang lebih 2 liter per hari bila tidak ada kontra indikasi

5. Menganjurkan klien mencegah infeksi / stressor

a. Mencegah ruangan yang ramai pengunjung atau kontak dengan individu yang menderita influenza

b. Mencegah iritasi : asap rokok.

S :

O :

1. Bunyi nafas bersih

2. Batuk (-)

3. Mampu mendemonstrasikan batuk terkontrol.

4. Intake cairan adekuat

A : Tujuan Berhasil

P : Intervensi dihentikan

3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang.

1. Mengkaji status nutrisi dan kebiasaan makan.

2. Menganjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan.

3. Menimbang berat badan setiap seminggu sekali.

4. Mengidentifikasi perubahan pola makan.

5. Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian diet Tinggi Kalori Tinggi Protein.

S :

O :

1. Pasien mematuhi dietnya.

A : Tujuan tercapai sebagian

P : Intervensi terus dilakukan.

4. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.

1. Mengkaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.

2. Memberi kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.

3. Menggunakan komunikasi terapeutik.

4. Memberi informasi yang akurat tentang proses penyakit dan menganjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan.

5. Memberikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.

6. Memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara bergantian.

7. Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman

S :

O :

1. Pasien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan.

2. Emosi stabil., pasien tenang.

3. Istirahat cukup.

A : Tujuan Berhasil

P : Intervensi dihentikan

5. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

1. Mengkaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit PPOM.

2. Mengkaji latar belakang pendidikan pasien.

3. Menjelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.

4. Menjelasakan prosedur yang akan dilakukan, manfaatnya bagi klien dan libatkan klien didalamnya.

S :

O :

1. Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya.

2. Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.

A : Tujuan Berhasil

P : Intervensi dihentikan

http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More